Vokasi Handicraft Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta: Membangun Kreativitas dan Kemandirian Disabilitas

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Ana Tasya Putri, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi Surakarta melaksanakan magang pada 3 November hingga 23 Desember 2025 di Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Instansi ini merupakan lembaga rehabilitasi yang menyediakan berbagai layanan pemberdayaan dan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas.

Selama mengikuti kegiatan magang, Ana Tasya Putri mendapatkan kesempatan untuk mengamati secara langsung salah satu vokasi di sentra terpadu di tempat itu yaitu vokasi handicraft, guna mengenalkan program vokasi handicraft kepada masyarakat.

banner 300x250

Vokasi handicraft merupakan salah satu layanan pengembangan keterampilan yang disediakan oleh Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Program ini dirancang sebagai wadah bagi peserta rehabilitasi untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan kemampuan dalam bidang kerajinan tangan.

Melalui kegiatan pelatihan yang terstruktur, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga membangun rasa percaya diri serta semangat untuk mandiri.

Menurut Ana Tasya Putri, vokasi handicraft memberikan pengalaman baru yang sangat berharga. Ia melihat bahwa proses pelatihan yang dilakukan tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan mental peserta.

“Saya melihat peserta vokasi sangat antusias dalam mengikuti setiap tahap pelatihan. Mereka tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga belajar bagaimana berproses, bersabar, dan menghargai hasil karya mereka sendiri,” ungkapnya.

Portalika.com/Ist

Program vokasi handicraft bertujuan memberikan bekal keterampilan berbasis kreativitas kepada peserta. Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan berbagai teknik dasar kerajinan tangan mulai dari pengenalan bahan, proses pembuatan, hingga tahap penyelesaian produk.

Vokasi ini menjadi salah satu bentuk pemberdayaan yang mendorong peserta untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

Pelatihan dilakukan secara bertahap dan dipandu langsung oleh instruktur. Peserta belajar mulai dari teknik dasar, penyusunan pola, perakitan produk, hingga penataan finishing. Tantangan seperti ketelitian dan konsistensi bentuk sering ditemukan, namun dengan pendampingan yang intensif, peserta mampu menunjukkan perkembangan signifikan dalam keterampilan mereka.

Vokasi handicraft menghasilkan berbagai produk kreatif yang memiliki nilai estetik dan fungsional, seperti baju batik, bantal leher, tas, pouch, aksesoris kerajinan, dan produk kerajinan tangan lainnya.

Hasil karya peserta tidak hanya berfungsi sebagai sarana latihan, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat. Penjualan dilakukan melalui SKA (Sentra Kreasi Atensi), dan produk juga tersedia untuk dibeli secara langsung di area instansi oleh pengunjung maupun tamu yang datang.

Menurut Ana Tasya Putri, penjualan produk hasil vokasi menjadi bukti nyata bahwa peserta mampu menghasilkan karya yang layak dan bernilai. “Produk mereka memiliki kualitas yang baik dan kreativitas yang tinggi. Dengan adanya pemasaran, peserta semakin percaya diri dan termotivasi untuk berkarya,” tambahnya.

Melalui vokasi handicraft, peserta memperoleh manfaat seperti peningkatan kreativitas, penguatan rasa percaya diri, serta pengembangan kemampuan motorik halus. Program ini terbukti memberikan dampak positif bagi peserta rehabilitasi dalam mengembangkan kemampuan diri dan membangun kemandirian.

Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso diharapkan vokasi handicraft dapat terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Dengan peningkatan kualitas pelatihan serta perluasan akses pemasaran, vokasi ini diharapkan menjadi sarana pemberdayaan berkelanjutan bagi penyandang disabilitas. (*)
Editor: Suryono

Komentar