Portalika.com [SOLO] – Hari Senin 24 Februari 2025 menjadi hari bersejarah bagi salah satu dosen Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Jateng, Dewi Ratna Nurhayati. Perempuan kelahiran Semarang 20 November 1963 ini dikukuhkan menjadi profesor pertama di Fakultas Pertanian (Faperta) Unisri.
Dengan tambahan satu gelar bergengsi di depan sederet gelar yang telah disandang sebelumnya, kini nama lengkapnya menjadi Prof Dr Ir Dewi Ratna Nurhayati, MP. Pengukuhan dilaksanakan di Auditorium Unisri ini dihadiri civitas akademika dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Dengan ditetapkannya Dewi menjadi profesor kian menambah jumlah guru besar di Unisri genap tujuh orang dan Dewi menjadi profesor ketujuh.
Baca juga: Antisipasi Ketertinggalan, MIH Unisri Gelar Diskusi Peninjauan Kurikulum
Orasi ilmiahnya sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Pertanian dan Perkebunan pada program studi (Prodi) Agroteknologi Faperta Unisri, berjudul Pemanfaatan Pupuk Organik dan Anorganik/Sintetis Secara Terpadu untuk Meningkatkan Produktivitas Wijen di Lahan Pasir Pantai kemarin berlangsung khidmat.
Menurut Dewi produksi hasil pertanian yang baik perlu ditunjang dengan ketersediaan lahan yang cukup. Di sisi lain laju pertumbuhan penduduk berdampak pada kebutuhan pangan dan lahan permukiman yang meningkat.
“Saat ini sekitar 100.000 hektare lahan produktif pertahunnya mengalami alih fungsi. Untuk mengatasi persoalan ini perlu ekstensifikasi pertanian melalui perluasan lahan atau pencetakan lahan produksi baru,” ujar dia saat membacakan orasi ilmiahnya di Auditorium Unisri.
Terkait itu hamparan lahan pasir pantai yang luas di Indonesia meski dikenal tidak subur, bisa menjadi alternatif masa depan pertanian. Salah satu caranya dengan ekstensifikasi pertanian tersebut.
Karena itu dia menggunakan pupuk kandang ayam dengan takaran 30 ton/ha sehingga mampu memberi hasil yang terbaik pada kandungan minyak dari kultivar Sbr-1 sebesar 46,77%.
Dia menjelaskan jika sebagian pupuk kandang ayam digantikan dengan kandungan pupuk anorganik (N, P dan K) maka pemberian pupuk kandang ayam dengan takaran 24,75 g dan pupuk anorganik 1,45; N: 0,74 g; P: 1,25 g K/tanaman akan mampu menghasilkan minyak wijen 44,73% untuk kultivar Sbr-1 (wijen putih) dan 37,53% pada Sbr–3 (wijen hitam).
“Sedangkan jika pemberian pupuk kandang ayam dengan takaran 24.75 g dan pupuk anorganik NPK: 1,45 g N: 0,74 g P: 1, 25 g K/tanaman yang diberikan pada saat kemarau, akan memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan, komponen hasil maupun kesuburan tanah dan mampu menghasilkan kandungan minyak sebesar 54,51% pada kultivar Sbr–1, serta asam lemak oleat 47,82% dan asam lemak linoleat 0,35%,” tegas Dewi.
Berkualitas Di Asia Tenggara
Di bagian lain Rektor Unisri Prof Dr Sutoyo dalam sambutannya mengatakan, atas nama segenap civitas akademika Unisri mengucapkan selamat kepada Prof Dr Ir Dewi Ratna Nurhayati, MP atas diraihnya jabatan fungsional akademik tertinggi, yakni guru besar atau profesor di bidang Ilmu Pertanian dan Perkebunan.
Sutoyo berharap dengan diraihnya jabatan fungsional akademik tertinggi ini, akan memberikan motivasi dan inspirasi kepada seluruh dosen Unisri lainnya untuk meraihnya.
Lebih lanjut Sutoyo mengatakan, visi Unisri adalah menjadi universitas yang berkualitas di Asia Tenggara, dengan berbasis Pancasila dan nilai-nilai Slamet Riyadi pada tahun 2026. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut yang telah dan akan dilakukan menyangkut langkah-langkah strategis.
Di antaranya memperkuat komitmen dalam tatakelola kelembagaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membangun jejaring dengan dunia usaha dan industri serta institusi, baik nasional maupun internasional dan penyediaan sarana prasarana yang standar dan mewadahi.
Menurut dia Unisri dalam mewujudkan manajemen dan tata kelola perguruan tinggi telah mengajukan ISO 2001-2018 dan telah dilakukan audit pada tanggal 17–19 Februari hasilnya, Unisri direkomendasikan untuk mendapatkan standar ISO 2001–2018. Dia memberi ancar-ancar standar ISO akan diterbitkan pada April 2025.
Selanjutnya Sutoyo berharap Dewi Ratna Nurhayati terus berpikir kritis sebagai akademisi atas persoalan yang muncul di masyarakat, khususnya untuk memajukan bidang pertanian dan perkebunan.
Kompetensi dosen setelah menjadi guru besar, ujar dia, harus mengalami berbagai peningkatan, baik peningkatan profesional, pedagogik, penelitian, penulisan karya ilmiah pada jurnal, pengabdian masyarakat, kompetensi personal dan sosial. Guru besar profesional adalah guru besar yang kompetensinya mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum menjadi guru besar.
Ciri-cirinya, di antaranya adalah menguasai ilmu di bidangnya, mampu menyampaikan ilmunya kepada mahasiswa dengan baik, produktif baik di bidang penelitian maupun dalam penulisan karya dalam jurnal bereputasi, bermanfaat bagi masyarakat dan memiliki sikap dan perilaku yang bisa diteladani.
“Kami meyakini bahwa profesor Dr Ir Dewi Ratna Nurhayati MP dan para guru besar Unisri dapat menjadi guru besar yang profesional,” tegas Sutoyo. (Iskandar)












Komentar