Portalika.com [SOLO] – Kebo bule atau kerbau albino yang dipercaya menjadi keturunan kerbau Kiai Slamet yaitu salah satu pusaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, tampaknya masih menjadi salah satu magnet masyarakat saat prosesi kirab Keraton Surakarta malam 1 Sura Jumat, 27 Juni 2025 dini hari.
Karenanya puluhan ribu masyarakat dari Kota Solo dan sekitarnya yang menunggu kirab pusaka Keraton Surakarta memberi perhatian tersendiri.
Apalagi ketika lima ekor kerbau keturunan Kiai Slamet ini tiba-tiba berhenti di tengah jalan di Jalan Kapten Mulyadi dekat Rumah Sakit Kustati, Solo. Tidak jelas kenapa lima kebo tersebut mendadak menghentikan langkah saat dikirab dan berkerumun di tengah jalan.
Kondisi ini mengakibatkan sejumlah pawang kerbau tersebut waspada sambil mengepung kerbau. Karena di sekitar tempat itu ribuan warga yang menyaksikan prosesi kirab berdiri di sepanjang jalan dan berdesakan.
“Mohon yang memakai pakaian warna merah tidak berdiri di depan atau menyingkir dulu agar tidak terlihat kebo,” ujar salah satu pengiring kirab memperingatkan warga, pada kirab yang digelar setelah kirab pusaka Pura Mangkunegaran Kamis malam.
Pengiring tersebut khawatir masyarakat yang mengenakan pakaian warna merah jika terlihat oleh kerbau, bisa memicu perilaku tak terkendali dari kerbau. Oleh sebab itu jika ada masyarakat yang menonton kirab dan berada di barisan paling depan diimbau menyingkir sesaat agar tak terlihat kerbau.
Namun tak lama kemudian lima ekor kebo bule dengan besar bervariasi itu, kembali melanjutkan perjalanan menyusuri beberapa jalan di Kota Solo yang menjadi rute kirab. Berdasar pantauan di lapangan selain kebo bule ada beberapa pusaka lainnya yang disertakan Kirab Pusaka Malam 1 Sura Dal-1950 ini.
Pusaka itu antara lain keris, tombak dan sebagainya yang diusung beberapa abdi dalem Keraton Surakarta. Ini juga mendapat perhatian tersendiri dari puluhan ribu warga yang berjajar di sepanjang jalan rute kirab.
Hadir dalam acara itu Antara lain Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta, Permaisuri GKR Paku Buwono (PB) XIII; Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Rojoputro Nalendra ing Mataram; putri raja PB XIII, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan sebagainya. selain itu hadir juga Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi; Walikota Solo, Respati Ardi; Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani dan sebagainya.
Seperti diketahui sebelumnya Pangageng Parentah Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat, KGPH Adipati Dipokusumo dalam rapat persiapan kirab mengatakan rute kirab mulai dari keraton ke utara melalui Supit Urang, Alun Alun Utara, Benteng Vastenburg, perempatan Telkom ke timur, Loji Wetan ke selatan.
Sampai perempatan Baturono Pasar Kliwon belok kanan atau ke barat, sampai perempatan Gemblegan ke utara menuju perempatan Nonongan di Jalan Slamet Riyadi ke timur. Sampai Bundaran Gladag belok kanan kembali ke keraton sejauh sekitar 7 kilometer.
Para peserta kirab diwajibkan mengenakan busana Jawa jangkep atau lengkap. Peserta laki-laki mengenakan beskap hitam dan kain jarik batik. Peserta perempuan mengenakan kebaya hitam dan juga kain jarik batik disertai tapa mbisu atau tidak bertutur kata saat mengikuti kirab malam pergantian tahun baru Jawa ini.
Sementara itu salah seorang warga yang Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Fery 14, yang menyaksikan kirab mengaku sengaja melihat kirab pusaka bersama temannya bernama Rizal, 14, karena rumahnya tak jauh dari rute kirab pusaka keraton.
“Kebetulan rumah saya dekat sini saja sehingga kami hanya jalan kaki,” ujar Fery dan Rizal yang mengaku siswa kelas II salah satu SMP di Solo ini.
Sedangkan Wartono, 57, warga Bakalan, Polokarto, Sukoharjo, Jateng yang datang ke Solo bersama istri dan anak-anaknya mengaku sengaja ingin menyaksikan prosesi kirab malam 1 Sura dari Keraton Kasunanan Surakarta. Untuk itu mereka yang menyaksikan kirab di dekat RS Kustati ini tiba di lokasi sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kirab pusaka memang mulai sekitar jam 24.00 WIB, untuk itu saya sengaja datang jam 22.00 WIB agar bisa mencari tempat dengan mudah. Tadi ketika kami datang memang belum begitu banyak orang,” kata dia.
Menurut dia kirab pusaka Keraton Kasunan Surakarta menarik disaksikan. Karena itu dia setiap tahun Wartono bersama keluarga menyaksikan prosesi kirab ini. (Iskandar)












Komentar