Miss Batik Indonesia Gandeng ISI Solo & Kampoeng Batik Laweyan Siap Luncurkan Batik Berpewarna Alami

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Ada yang spesial dan beda pada gelaran Miss Batik Indonesia (MBI) bertema Wonder of Indonesia Batik yang digelar di Kota Solo, Jateng pada 17-20 Oktober 2025 dibanding perhelatan serupa tahun lalu. Di antaranya event yang digelar bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan Kampoeng Batik Laweyan (KBL) ini siap meluncurkan batik dengan pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Nanti kami akan mengadakan gelar busana sederhana di Kampoeng Batik Laweyan bersamaan dengan launching produk yang menggunakan malam [bahan pembuat batik semacam lilin] dari bahan turunan minyak sawit yang go green. Bahan pewarna untuk kain juga menggunakan bahan pewarna alami, kita back to nature,” ujar Ketua Yayasan Adikarya Pusaka Indonesia, Lidia Hutapea saat konferensi pers di Hotel Kusuma Sahid Prince Hotel, Solo, Senin 13 Oktober 2025 sore.

banner 300x250

Selain Lidia hadir antsra lain Founder MBI, Endang R Guritno, dan Ketua Penyelenggara, Mudita Sena. Menurut Lidia batik yang diproses menggunakan malam berbahan dari kelapa sawit dan juga menggunakan bahan pewarna alami ini, sekaligus untuk mengedukasi masyarakat khususnya produsen batik agar sadar lingkungan.

Hanya saja ketika kepadanya ditanya motif batik yang dibuat apa belum bisa memberi keterangan. Karena itu belum bisa diketahui apakah batik itu bercorak pakem tradisional atau kontemporer.

“Sampai saat ini masih dirahasiakan karena itu nanti akan dijelaskan saat launching. Jadi pada Sabtu 18 Oktober malam sebelum finalis memeragakan busana batik sawit ada pembekalan dari Pak Alpha [Fabela-penggagas Kampoeng Batik Laweyan-red] beliau akan memberi informasi tentang batik sawit,” ujar dia.

Dia menjelaskan ada beberapa rangkaian acara yang ikut serta meramaikan dalam proses gelaran MBI 2025. Salah satunya adalah lomba mewarnai batik pada Sabtu 18 Oktober 2025 dan juga parade batik di Car Free Day Solo pada 19 Oktober 2025.

Untuk parade batik akan diikuti sekitar 250 peserta terdiri atas anak-anak SD, SMP dan juga universitas dan komunitas. Kolaborasi dengan Kampoeng Batik Laweyan (KBL) juga menjadi pembeda dibanding tahun lalu.

Sementara itu pada acara di KBL para finalis MBI akan mengenakan dua busana yaitu busana yang disediakan KBL dengan menggunakan malam sawit. Selain itu juga akan mengenakan busana batik yang didesain oleh para mahasiswa Program Studi Desain Batik ISI Solo.

Total Hadiah Rp35 Juta

Lebih lanjut Lidia mengutarakan hadiah MBI ada kenaikan sehingga lebih besar dibanding tahun lalu. Dia yakin MBI dari tahun ke tahun akan meningkat dalam hal segalanya.

Terutama untuk finalis, kali ini kami punya 20 finalis yang kualifikasinya lebih bagus dibanding tahun lalu. Grand prize tertinggi dua kali lebih besar dibanding tahun lalu dengan total hadiah Rp35 juta.

Sedangkan Mudita mengatakan MBI digelar sebagai wujud apresiasi terhadap kekayaan warisan budaya batik Indonesia yang telah diakui dunia. Acara ini bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan wadah bagi perempuan muda Indonesia untuk menjadi duta pelestarian budaya, pendidikan, dan pemberdayaan.

Dia menegaskan tema Wonder of Indonesia Batik dipilih untuk menegaskan keindahan batik bukan hanya terletak pada motif dan warna, tetapi juga pada kisah, filosofi, dan jati diri bangsa Indonesia.

“Kami ingin menghadirkan perempuan muda yang tidak hanya anggun, tetapi juga berpengetahuan dan berkontribusi bagi pelestarian budaya,” ujar dia.

MBI Jadi Simbol Harmoni

Tahun ini, papar dia, MBI diikuti finalis dari berbagai provinsi di Indonesia yang telah melewati proses seleksi ketat, mulai dari tahap online hingga karantina di Kota Solo. Selama karantina, para finalis mengikuti pelatihan intensif mencakup public speaking, etika, kebudayaan, eco fashion, leadership, dan community project.

Dia mengungkapkan puncak acara Grand Final MBI 2025 akan digelar Sabtu, 19 Oktober 2025 di The Sunan Hotel Solo. Acara ini akan menampilkan 10 finalis terbaik yang akan berkompetisi memperebutkan gelar utama dan gelar atribut, untuk membawa misi pelestarian batik ke tingkat nasional dan internasional.

Selain itu, ujar dia, kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari desainer batik, UMKM, sponsor lokal, hingga tokoh-tokoh budaya yang peduli terhadap keberlanjutan batik Indonesia.

Dia menilai MBI menjadi simbol harmoni antara keanggunan perempuan dan kekayaan budaya bangsa. Perhelatan ini juga menghadirkan wajah baru pelestarian budaya yang berdaya, berkelas dan berkarakter. (Iskandar)

Komentar