Portalika.com [MADINAH] – Menjelang kepulangan ke Tanah Air, Jamaah Haji Kloter SOC-76 menggelar kegiatan Evaluasi, Doa, dan Saling Memaafkan (EDOM) di Hotel Artal/Astoneast Madinah, Jumat, 26 Juni 2026.
Kegiatan yang dipandu oleh Prof H Anwar Ma’ruf ini menjadi momentum refleksi kolektif atas perjalanan ibadah haji selama kurang lebih 40 hari, sekaligus ruang evaluasi konstruktif demi peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang.
Suasana haru menyelimuti seluruh jamaah. Di satu sisi tersimpan kesedihan karena harus meninggalkan Kota Madinah, kota yang menjadi tempat bersemayam Rasulullah SAW dan salah satu kota paling dicintai umat Islam.
Namun di sisi lain, terselip kebahagiaan karena dalam waktu dekat akan kembali berkumpul bersama keluarga di Tanah Air. Anwar Ma’ruf mengajak seluruh jamaah mensyukuri seluruh rangkaian perjalanan ibadah yang telah dilalui bersama, baik suka maupun duka.
Berbagai tantangan seperti kelelahan, keterbatasan fisik, hingga kondisi kesehatan yang dialami sebagian jamaah dipandang sebagai bagian dari proses pembentukan kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan.
Seluruh pengalaman tersebut diharapkan menjadi sebab turunnya ridha Allah SWT serta mengantarkan seluruh jamaah meraih predikat haji mabrur.
Sesi evaluasi menghadirkan perwakilan dari lima Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), jamaah mandiri, petugas kesehatan, hingga Ketua Kloter.
Menariknya, seluruh penyampaian kesan dan pesan berlangsung dalam suasana yang penuh kekeluargaan, santai, humor objektif, dan saling menghargai.
Perwakilan KBIHU NU Al Arofat, H Nur Rohmat, menyampaikan rasa syukur atas kekompakan dan sinergi seluruh unsur Kloter SOC-76. Ia mengapresiasi dedikasi Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, serta Tim Kesehatan yang dinilai telah memberikan pelayanan dengan penuh kesabaran.
Atas nama jamaah Al Arofat, ia juga memohon maaf apabila selama kebersamaan terdapat kekhilafan maupun hal-hal yang kurang berkenan.
Sementara itu, perwakilan KBIHU Multazam, H Rian Pratama, memberikan apresiasi terhadap pelayanan petugas sekaligus menyampaikan sejumlah masukan konstruktif.
Ia menyoroti pentingnya penguatan komunikasi operasional, terutama terkait pengaturan koper dan perubahan teknis pelaksanaan skema murur di Muzdalifah yang terjadi secara mendadak.
Menurutnya, penyelenggaraan haji ke depan memerlukan penguatan pembekalan sumber daya manusia, tidak hanya pada aspek manasik ibadah tetapi juga pada aspek teknis operasional, sehingga jamaah lebih siap menghadapi dinamika di lapangan.
Pandangan tersebut menjadi catatan penting dalam perspektif evaluasi kebijakan publik. Penyelenggaraan ibadah haji merupakan sistem pelayanan yang sangat kompleks dan dinamis sehingga memerlukan kemampuan adaptasi, koordinasi lintas sektor, serta komunikasi yang efektif.
Evaluasi dari pengguna layanan menjadi bagian penting dalam mewujudkan penyelenggaraan haji yang semakin profesional dan responsif.
Perwakilan KBIHU Ar Raudhoh, H Muridan, menyampaikan penghargaan kepada seluruh petugas PPIH, khususnya Ketua Kloter Dr Hj Siti Nur Hidayati, Pembimbing Ibadah, dan Tim Kesehatan yang telah memberikan pelayanan terbaik sehingga jamaah merasa tenang selama menjalankan ibadah.
Ia berharap sepulang dari Tanah Suci, bukan hanya oleh-oleh yang dibawa pulang, tetapi juga meningkatnya kesabaran, ketakwaan, dan kualitas akhlak.
Senada dengan itu, H Ahmad Nurali dari KBIHU Miftahul Jannah menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh petugas yang dinilai tidak mengenal lelah dalam melayani jamaah. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama perjalanan terdapat sikap atau tindakan jamaah yang kurang berkenan.
Ucapan serupa disampaikan H Sudiro dari KBIHU Muhammadiyah Banyumas. Menurutnya, keberagaman latar belakang jamaah tidak mengurangi kekompakan kloter, bahkan justru memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah.
Perwakilan jamaah mandiri, H dr Ariwindy, memberikan perspektif yang menarik. Ia menyebut Kloter SOC-76 sebagai “miniatur Indonesia” karena terdiri atas berbagai KBIHU dan jamaah mandiri yang mampu hidup harmonis selama pelaksanaan ibadah.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk lebih banyak menyampaikan kisah-kisah positif kepada masyarakat mengenai penyelenggaraan haji sehingga dapat membangun optimisme bagi calon jamaah berikutnya.
Menurutnya, setiap penyelenggaraan haji tentu memiliki tantangan, namun berbagai kekurangan hendaknya menjadi bahan evaluasi yang konstruktif bagi pemerintah.
Mewakili petugas kesehatan, dr Hj Indri menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelayanan masih terdapat keterbatasan, baik dalam aspek koordinasi, pelayanan kesehatan maupun ketersediaan obat-obatan. Ia menegaskan bahwa keberagaman karakter jamaah justru menjadi kekuatan untuk saling membantu. (Ariyanto)












Komentar