Portalika.com [SLEMAN] — Dua ratus satu tahun setelah pecahnya Perang Jawa, spirit perjuangan Pangeran Diponegoro kembali dibaca ulang. Bukan sekadar sebagai romantisme sejarah, tetapi sebagai cermin untuk melihat kembali arah perjalanan bangsa dan kondisi rakyat hari ini.
Gagasan itu menjadi dasar penyelenggaraan peringatan 201 Tahun Perang Jawa oleh Jaringan Masyarakat Peduli Budaya Mahasabha Purbakala, Minggu, 19 Juli 2026 mulai pukul 18.25 WIB di DC Café Reborn, Jalan Damai Nomor 5A, Palagan, Sleman, Yogyakarta.
Sejumlah pimpinan daerah, budayawan, tokoh pergerakan, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum dijadwalkan hadir. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono juga terkonfirmasi hadir sekaligus menyampaikan pidato kunci.
Ketua panitia peringatan, Hary Sutrasno, mengatakan Perang Diponegoro merupakan salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah Indonesia.
Perang yang pecah pada 20 Juli 1825 itu berlangsung selama lima tahun dan menguras kekuatan pemerintah kolonial Belanda.
“Lebih dari tujuh ribu serdadu Belanda tewas. Perang lima tahun ini menghabiskan sepertiga anggaran negeri Belanda saat itu. Jika dikonversi dengan hitungan hari ini, jumlahnya bisa mencapai lebih dari Rp3.000 triliun,” kata Hary.
Menurut dia, kondisi rakyat saat ini memiliki kemiripan dengan situasi sosial pada masa Perang Jawa. Bedanya, jika dahulu rakyat berhadapan langsung dengan kekuasaan kolonial, hari ini mereka menghadapi sistem yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.
“Mayoritas rakyat masih berada dalam ketidakberdayaan akibat terbelenggu sistem yang tidak mendukung mereka. Tanah air yang subur dan kaya sumber daya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya. Kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran pemuda masih menjadi pemandangan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Hary menilai sosok Diponegoro tetap relevan dibaca. Menurutnya, Diponegoro adalah gambaran pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri, berani meninggalkan zona nyaman, dan memilih menderita bersama rakyat.
“Spirit itu sangat relevan bagi semua anak bangsa saat ini,” katanya.
Peringatan 201 Tahun Perang Jawa akan diawali fragmen penangkapan Pangeran Diponegoro yang menggambarkan pengkhianatan dari bangsa sendiri. Acara kemudian dilanjutkan diskusi panel dan dialog interaktif.
Sejumlah pembicara akan mengupas Perang Jawa dari perspektif berbeda. Keturunan Diponegoro, Rahardi Saptata Abra, akan membahas sisi historis dan makna perjuangan Diponegoro. Arkeolog dan budayawan M. Basir Zubair mengupas spiritualitas Perang Jawa.
Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko membahas perwujudan tujuan negara berbasis semangat Diponegoro. Guru sejarah SMA Negeri 1 Teladan, Mukhtar, akan mengulas makna Perang Jawa bagi generasi muda.
Suasana batin peringatan juga akan diperkuat melalui repertoar Awangan Erucakra yang dibawakan Icuk Munandar dan Kubroglow. Penyanyi solo Heri Samsara dan Agung Dahono akan tampil membawakan lagu-lagu bertema kerakyatan.
Sesi pertunjukan ditutup dengan penampilan perupa Rudi Winarso. Ia akan memberikan pengantar sekaligus melelang karya-karya bertema Diponegoro untuk didonasikan.
Seluruh rangkaian penampilan seni dikemas oleh mahasiswa ISI Yogyakarta dari berbagai jurusan.
Arkeolog dan budayawan, M Basir Zubair menilai peringatan 201 tahun Perang Jawa justru memiliki urgensi tersendiri. Menurutnya, angka 201 tahun merupakan momentum ketika gegap gempita peringatan mulai mereda dan masyarakat dituntut bertanya lebih jujur tentang warisan sejarah.
“Ketika bendera telah dilipat dan yang tersisa hanya kita, generasi yang harus bertanya dengan jujur: apa sebenarnya yang dapat kita warisi dari Perang Jawa 1825–1830? Apakah yang diperjuangkan Pangeran Diponegoro masih relevan untuk Indonesia hari ini?” kata Basir.
Ia menegaskan, sarasehan tersebut tidak dimaksudkan sebagai peringatan seremonial semata. Perang Diponegoro, kata Basir, perlu dibaca sebagai peristiwa sejarah yang kompleks, penuh kontradiksi, tetapi justru karena itu tetap manusiawi dan relevan.
“Sarasehan ini adalah ruang untuk berpikir bersama dan membaca ulang Perang Diponegoro. Bukan sebagai mitos kepahlawanan yang beku, melainkan sebagai peristiwa yang kompleks dan penuh kontradiksi,” ujarnya.
“Diponegoro bukan hanya milik Jawa. Ia milik setiap bangsa yang pernah dipaksa memilih antara tunduk dan melawan. Dan pilihannya adalah melawan, meski tahu harganya,” tegas Basir. (Yuliantoro)
Aktivis Mahasabha Purbakala dari berbagai minat bersinergi menyelenggarakan peringatan 201 tahun Perang Diponegoro. (Portalika.com/Yuliantoro)












Komentar