Portalika.com [WONOGIRI] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN) Inovasi IPB Kelompok Wonogirikab07 menggelar program Pestisida Nabati (Pestani) di Desa Tremes, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, 31 Juli 2026.
Kegiatan sebagai upaya mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan bahan-bahan alami. Acara ini diikuti sekitar 15 orang dari para petani dan anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Tremes, dengan rangkaian acara penyampaian materi sekaligus demonstrasi pembuatan pestisida nabati yang dapat langsung dipraktekkan oleh peserta.
Kegiatan dibuka Syafiin Tharfi Nafhan Halip, Koordinator Desa Kelompok KKNT Inovasi IPB Wonogirikab07, yang dalam sambutannya menjelaskan program Pestani dirancang untuk memberikan alternatif pengendalian hama yang lebih aman bagi lingkungan sekaligus mudah diterapkan oleh masyarakat.
“Melalui program Pestani, kami berharap para petani dapat mengenal dan memanfaatkan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah diperoleh di sekitar kita, disamping rumah bapak-bapak, sehingga harapannya ilmu yang diperoleh hari ini dapat membantu pertanian bapak-bapak sekalian,” ujar Syafiin.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua DPD, yang mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN dalam menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.

Ia menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan pengetahuan petani mengenai inovasi pertanian yang lebih berkelanjutan.
Edukasi dan Demonstrasi Pembuatan Pestisida Nabati
Memasuki sesi inti, mahasiswa KKN memaparkan materi mengenai pestisida nabati, mulai dari pengertian, manfaat, dan keunggulannya dibandingkan pestisida kimia, serta bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alami.
Peserta juga mendapat penjelasan mengenai tahapan pembuatan serta cara penggunaan pestisida nabati agar memberikan hasil yang optimal pada tanaman.
Materi tersebut dipaparkan oleh Fataya Putri Cinta, salah satu mahasiswa KKNT Inovasi yang bertugas menyampaikan edukasi kepada peserta.
“Pestisida nabati ini lebih aman untuk tumbuhan dibandingkan pestisida kimia bapak, dan tentunya lebih ramah lingkungan juga,” jelas Fataya.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida nabati ini terdiri atas daun sirsak sebanyak 10-15 lembar, daun pepaya 1 lembar, bawang putih 3 siung, serai 2 batang, dan lidah buaya 2 pelepah. Seluruh bahan tersebut dipilih karena mudah ditemukan di sekitar lingkungan rumah maupun lahan pertanian di Desa Tremes.
Adapun proses pembuatannya diawali dengan menghaluskan seluruh bahan menggunakan ulekan atau blender, kemudian mencampurkannya dengan 1 liter air. Campuran tersebut selanjutnya didiamkan dalam wadah tertutup selama 24 jam agar senyawa alami dari bahan-bahan tersebut dapat larut dengan baik.
Setelah proses perendaman selesai, larutan disaring dan disimpan dalam botol tertutup. Pada saat akan digunakan, larutan pekat tersebut diencerkan terlebih dahulu dengan perbandingan 1:10, yakni 100 ml larutan pestisida dicampur dengan 1 liter air, sebelum dimasukkan ke dalam alat semprot dan siap diaplikasikan pada tanaman.
Suasana semakin interaktif memasuki sesi demonstrasi. Dengan memanfaatkan bahan dan peralatan yang telah disiapkan, mahasiswa KKN memperagakan setiap tahapan pembuatan pestisida nabati secara langsung.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, bahkan sejumlah petani turut mencoba meracik pestisida nabati secara mandiri dengan didampingi oleh mahasiswa KKN, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara partisipatif.
Pendampingan demonstrasi bersama para petani dilakukan oleh Nesya Amalia Putri, salah satu Mahasiswa KKN yang turut ikut membimbing langsung peserta dalam proses peracikan.
Selain mendampingi, petani mencoba langsung pembuatan pestisida nabati, Nesya menjelaskan aturan pengaplikasiannya pada tanaman.
“Untuk pencegahan, pestisida nabati bisa diaplikasikan satu minggu sekali, dengan dua kali penyemprotan dalam hari itu, yaitu pagi dan sore hari. Tapi jika hama sudah terlanjur menyerang, penyemprotan bisa dilakukan lebih sering, sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu,” ungkap Nesya.
Brosur sebagai Panduan Berkelanjutan
Sebagai bentuk tindak lanjut, mahasiswa KKN membagikan brosur kepada seluruh peserta. Brosur tersebut memuat pengertian dan keunggulan pestisida nabati, daftar bahan dan alat yang diperlukan, resep pembuatan, langkah-langkah meracik, hingga cara mengaplikasikannya pada tanaman.
Materi cetak ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi petani ketika hendak mempraktikkan kembali pembuatan pestisida nabati secara mandiri.
Program Pestani menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Kelompok Wonogirikab07 dalam mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan di Desa Tremes.
Melalui edukasi dan praktik langsung, mahasiswa berharap pengetahuan yang telah diberikan dapat mendorong petani untuk mulai memanfaatkan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih ekonomis, mudah dibuat, dan ramah lingkungan sehingga mampu mendukung produktivitas pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (*)
Penulis: Muthia Risky Fadhilah, Mahasiswa IPB University, Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Editor: Triantotus












Komentar