Alumni UNS Deklarasi Dukung Amin, Jumhur Sepakat Sistem Ekonomi Dan Hukum Di Indonesia Digugat

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Sejumlah orang yang mengatasnamakan alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mendeklarasikan aspirasi politik mereka mendukung pasangan calon (Paslon) presiden dan wakil presiden nomor 1, Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2024.

Deklarasi dilakukan pada diskusi bertema Desak Perubahan Menggugat Ketidakadilan Sistem Ekonomi Indonesia di Gedung Umat Islam, Kartopuran, Kelurahan Jayengan, Serengan, Solo, Jateng, Sabtu 20 Januari 2024 sore. Hadir sebagai pembicara masing-masing, Co Captain Timnas Amin, M Jumhur Hidayat, Ketua Umum Jarnaskop, Agung Sudjatmoko, anggota DPR Fraksi PKS, Abdul Kharis, pengacara, Muhammad Taufik.

banner 300x250

Kemudian Ketua BMT Kahuripan Klaten, Djoko Karyono dan Penasihat Timnas Amin, Mudrick Setiawan Malkan Sangaidoe. Deklarasi dibacakan Muhammad Janjang TS pada intinya mendukung sepenuhnya Paslon Anies-Muhaimin untuk memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden pada 14 Februari 2024 menjadi presiden dan wakil presiden periode 2024-2029.

Baca juga: Anies: Pak Jokowi Aja Memberi Tempat, Apalagi Kita

Deklarasi ini, kata Janjang, ditandatangani oleh alumni UNS Pejuang Perubahan. “Takbir, takbir, takbir,” tegas Janjang disambut gema takbir serentak sedikitnya puluhan orang yang hadir dari berbagai daerah di Jateng seperti Solo Raya, Magelang dan daerah lainnya.

Sementara itu Jumhur mengaku sepakat dengan tema diskusi. Dia menilai tema diskusi Menggugat Keadilan Sistem Ekonomi dan Hukum di Indonesia ini pas untuk menggambarkan rezim yang saat ini berkuasa.

Menurutnya ada beberapa kebijakan yang tak masuk akal dilakukan untuk menjalankan roda pemerintahan. Dia mencontohkan proyek Ibukota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dikatakan tidak disertai kajian matang. Tiba-tiba ibukota harus pindah ke IKN tanpa ada diskusi, tidak ada survei dan sebagainya.

Muhammad Janjang TS (dua dari kanan) membacakan naskah deklarasi alumni UNS Solo mendukung pasangan calon presiden Anies Baswedan dan calon wakil presiden Muhaimin Iskandar di Gedung Umat Islam, Kartopuran, Kelurahan Jayengan, Serengan, Solo, Jateng, Sabtu 20 Januari 2024 sore. (Portalika.com/Iskandar)

Hal ini dianggap akan membuang uang ribuan triliun rupiah. “Katanya nggak perlu APBN tapi ujung-ujungnya APBN hampir Rp500 triliun harus dilimpahkan ke sana. Ini kebijakan gila. Kalau kedua orang ini (Anies-Muhaimin-red) pasti tidak begitu. Dengan uang Rp500 triliun itu buaanyak sekali kesejahteraan yang bisa digapai untuk masyarakat banyak di Tanah Air,” kata Jumhur.

Karena itu masukan kepada mereka tentang koperasi, tentang ketidakadilan harus diungkap. “Saya tidak tahu besok kalau Pak Anies jadi Presiden Ketua Umum Jarnaskop Pak Agung [Sudjatmoko] jadi menteri bisa aja kan? Kita tidak tahu, jadi kalau berharap kita dorong dong. Tapi banyak orang setelah jadi menteri terus jadi penakut juga. Ini parah sekali. Besok dari kita mudah-mudahan tidak begitu.”

Jumhur mengatakan sistem ekonomi Indonesia tak jelas antara ekonomi konstitusi atau ekonomi Pancasila. Saat ini ada tiga peran penggerak ekonomi yang dominan, BUMN, swasta dan koperasi, tapi ketiganya tak mempunyai keistimewaan.

“Koperasi istimewanya apa, BUMN keistimewaannya apa dalam perkonomian, swasta istimeanya apa? Akhirnya yang istimewa yang punya modal, punya koneksi dan sebagainya. Itu pasar bebas biasa. Itu kapitalisme gontok-gontokan ya begitu kerjanya. Ujung-ujungnya yang pasti tersingkir koperasi,” ujar dia.

Kewenangan BUMN mengurusi properti juga dinilai tidak tepat. Karena meski bekerja sampai jungkir balik paling untungnnya Rp50 miliar sampai Rp100 miliar setahun. Giliran sumber daya alam tambang-tambang mineral itu yang untungnya ribuan triliun rupiah dikasih swasta.

“Tidak pas negara ini, ngaku Pancasila lagi. Kalau ngaku Pancasila dan berkonstitusi sudah pasti tidak begitu. Sudah jelas kekayaan alam dikusai negara. Yang puluhan triliun rupiah, ribuan triliun rupiah harusnya dikuasai negara. Ini kok BUMN suruh bikin properti, Wika properti, PP properti bersaing sama swasta. Seharusnya kerja-kerja semacam itu biar ditangani swasta saja. Yang harus dikejain koperasi biar ditangani koperasi. Nanti akan ada diskursus banyak,” tegas Jumhur.

Ingin Perubahan
Salah seorang alumni UNS yang kini menjadi lawyer, Muhammad Taufik saat diskusi mengatakan jika semua yang hadir di diskusi ingin perubahan yang pertama harus menjadi orang radikal. Sesungguhnya radikal yang diperjuangkan hari ini seperti tokoh-tokoh pendahulu seperti Sayuti Melik, Sutan Syahrir dan sebaganya yang menculik Bung Karno untuk diminta segera mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Co Captain Timnas Amin, M Jumhur Hidayat (dua dari kanan) memberi sambutan pada diskusi bertema Desak Perubahan “Menggugat Ketidakadilan Sistem Ekonomi Indonesia” di Gedung Umat Islam, Kartopuran, Kelurahan Jayengan, Serengan, Solo, Jateng, Sabtu 20 Januari 2024 sore. (Portalika.com/Iskandar)

“Maka sesungguhnya radikal yang kita perjuangkan adalah generasi ramah terdidik dan berakal. Sepakat? Jadi perlu kita rumuskan dulu radikal itu bukan berarti yang melempari toko. Itu namanya sembako yaitu semangat bakar toko. Kita sepakat menghapus KKN, jadi tidak mungkin kita melahirkan generasi presiden yang capresnya asam urat wapresnya asam sulfat. Mau jadi apa negara ini,” papar Taufik.

Selain itu pendukung pasangan Amin harus mengubah cara kampanye. Dia menjelaskan kampanye itu di ruang publik bukan di WhatsApp (WA). Dia yakin semua yang hadir di diskusi, grup WA-nya ada 10 dan isinya sama tentang Amin. “Ngapain?” katanya dengan nada tanya.

Menurut Taufik kampanye itu ada metodologinya. Pesan akan disampaikan kepada siapa? Pertama seharusnya pesan disampaikan kepada orang pembenci Anies, kedua kepada yang sedikit mengenal Anies harus diperjelas sehingga mencintai Anies, ketiga kepada orang yang masih bingung sehingga bisa memilih Anies.

Taufik yakin kalau saat ini datang ke desa, presiden Indonesia ya Jokowi. Mereka tak mengenal Anies dan Muhaimin. Karena itu pendukung paslon Amin harus siap people power.

Pendukung paslon Amin, ujar dia, harus punya nyali. Bagaimmana mau memenangkan Anies kalau tak punya nyali. Karena negara ini sudah kotor dan penuh kecurangan. Mahkamah Konstitusi sudah menjadi mahkamah keluarga. Dan di negara ini cari kerja itu susah.

“Nyatanya Kaesang-Gibran jualan tidak laku terus mau dijadikan gubernur dan cawapres. Kalau cari kerja tidak sulit menantu Jokowi, Boby Nasution dan anak-anaknya tidak dipernahke,” kata dia.

Dia mengimbau semua pendukung Amin harus keluar dari kungkungan WA grup. Yang benar kalau mau kampanye via WA melalui status. “Anda kutip video saya ini di status maka anda sudah kampanye.”

Kalau di WA cuma menyebar gambar Anies itu hebat, diniai tak berpengaruh pada apapun. Karena itu kalau ingin berpengruh dan suaranya bertambah harus keluar dari pemahaman bahwa kampanye itu via WA.

Anggota DPR dari PKS, Abdul Kharis juga sependapat dengan Taufik bahwa pendukung Amin harus segera keluar dari medsos. “Saya yang juga tegabung dalam grup-grup seperti relawaan Solo Anies itu sehari bisa terima postingan 3.000 biji dan yang diomongkan hanya itu-ituuu saja. Apa artinya?” kata Kharis.

Hal ini dinilai memicu kondisi babel atau istilah psikologi kejiwaan yang babel yaitu perasaannya sudah menang kalau sudah demikian. Ini dianggap menyesatkan.

Karena itu, papar dia, segera tinggalkan hal itu dan segera keluar dari rumah, cari tetangga kanan kiri dan tanyakan. Kharis yang blusukan ke berbagai daerah untuk keperluan pencalegan dirinya berpendapat, sebagian warga belum tahu kalau 14 Februari 2024 akan Pemilu.

Dia mengatakan telah menemui satu persatu warga di kawasan Lerang Merapi daerah Kemalang, Klaten untuk memberi pemahaman. Karena kalau ingin efektif kampanye memang harus seperti itu. “Jadi acara di meja-meja seperti ini kurangi. Sudah cukup, more then enough.”

Anies Bisa Kalah
Fakta di lapangan, kata Kharis, warga banyak yang bilang bagi mereka presiden tak ada yang sebaik Jokowi. Bayangkan ketika covid mereka mendapat beras, daging, telur dan setiap bulan mereka mendapat bantuan langsung tunai (BLT). Bagi mereka mana ada presiden sebaik ini?

“Kontradiktif kan dengan tadi? Ketika panjenengan mengatakan harus ada perubahan dan sebagainya, di sana [warga] tidak demikian, dan jumlahnya banyak mereka daripada yang ada di ruangan ini. Ini realitas, suka tak suka Anda akan berhadapan dengan hal ini dan jika Anda kampanye seperti ini, saya pastikan Anies kalah. Jadi kita yang tiap hari Allahu Akbar, Anies menang… tidak pas,” ungkap dia.

Mungkin pendukung paslon Amin akan benci dengan dirinya karena tidak menyemangati. “Bukan! Karena faktanya demikian. Jadi bapak ibu, persepsi Jokowi yang bagi Anda tidak baik, tapi bagi masyarakat baik sekali. Sekarang mau apa?” papar Kharis.

Bahkan kalau turun di desa-desa, sosok Jokowi itu dianggap seperti manusia setengah dewa. Dan fakta ini nanti akan turun ke Gibran. Karena itu kalau pendukung Amin menganggap masyarakat salah maka datangi dan kasih tahu. Mumpung masih ada kesempatan tiga pekan. “Do something!” tegas dia.

Jelaskan kepada mereka dan ajak mereka, karena rata-rata tidak tahu dan yang dia tahu Jokowi itu baik. Ini persepsi masyarakat dan bisa dicek di Selo, Cepogo, Wonosegoro, Kemusu, Karanggede semuanya di Boyolali, bagi mereka Jokowi itu seperti manusia setengah dewa dan ini diturunkan ke Gibran.

Kharis juga mengingatkan agar alumni UNS bergerak mengajak memilih calon-calon legislatif pendukung paslon Amin. Karena tanpa dukungan parlemen memadai kelak kebijakan yang baik tiba-tiba bisa diblok karena parlemennya kalah.

“Saya bayangkan kira-kira Pak Anies bisa mati berdiri. Misalnya Pak Anies menang tapi parlemennya keok. Maka bisa mati ngadek. Pegal thok. Misalnya mengajukan program kalau kalah voting mau apa? Jadi sudah jadi presiden tapi setiap hari kalah voting. Misalnya mengajukan anggaran untuk ini itu, tapi dibilang tidak setuju meski partai pendukungnya ngotot mereka akan minta voting. Ini akan kalah lagi. Kalau demikian nanti tidak akan bisa apa-apa,” tegas Kharis. (Iskandar)

Komentar