Dosen ISI Solo Gelar Pameran Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong sebagai Media Seni Kaligrafi

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Dosen Institur Seni Indonesia (ISI) Solo, Jateng menggelar pameran revitalisaasi kertas tradisional gendhong sebagai tahapan akhir dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat. Pameran ini digelar di Pondok Gontor Putra Ponorogo dan Pondok Gontor Putri Ngawi belum lama ini.

Siaran pers dari ISI menyebutkan pameran ini mengambil tema “Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong: Penerapan Inovasi Cetak Serat sebagai Media Seni Kaligrafi pada Komunitas Askya sebagai Penguatan Tradisi Literasi Pesantren”.

banner 300x250

Disebutkan, program ini sebagai upaya memulihkan teknik pembuatan kertas Gendhong berbasis serat glugu, sekaligus menerapkannya sebagai media karya seni kaligrafi santri dan komunitas pesantren.

Program ini berangkat dari urgensi pelestarian tradisi literasi pesantren Tegalsari, yang pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20 dikenal sebagai pusat penyalinan manuskrip berbasis kertas Gendhong. Seiring berjalannya waktu, praktik produksi kertas tersebut memudar.

Sementara komunitas kaligrafi pesantren kini banyak bergantung pada kertas industri. Revitalisasi ini mengembalikan keterhubungan antara seni kaligrafi dengan akar material tradisi pesantren.

Ketua Tim Program Inisiasi Seni Nusantara (PISN) ISI Solo, Gayuh Styono SSn MSn menegaskan penelitian terdahulu telah membuktikan potensi inovasi teknik cetak serat glugu dalam menghasilkan kertas tradisional yang kokoh, stabil, dan layak menjadi media karya seni bertaraf pameran.

Portalika.com/Ist

“Kertas Gendhong bukan hanya media tulis, tetapi warisan intelektual pesantren yang membentuk tradisi keilmuan Islam di Jawa. Revitalisasi ini menghubungkan kembali praktik artistik santri dengan sejarah literasi Nusantara,” papar dia.

Menurut dia program pengabdian ini merupakan tindak lanjut dari dua karya cipta riset tim ISI Solo:

  • Rerenggan Pinandito Nggayuh Lintang Material Kertas Gedhog (EC002024211339)
  • Seni dan Budaya Tradisi dalam Perspektif Ekonomi Kreatif (EC00202473413)

Dia menjelaskan pameran ini adalah rangkaian akhir proses pengabdian setelah melalui sejumlah tahapan yaitu:

  1. Sosialisasi dengan Komunitas Askya, Dusun Bulu, Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Ngawi
  2. Pelatihan produksi kertas Gendhong inovatif, mempraktikkan teknik cetak serat berbasis glugu
  3. Pelatihan aspek sosial dan praktik kaligrafi, memperkenalkan nilai, penggunaan, dan etika pemanfaatan media berbasis tradisi pesantren
  4. Lokakarya seni kaligrafi, menggunakan kertas hasil produksi peserta untuk menghasilkan karya siap pamer
  5. Pendampingan kelompok kreatif kaligrafi pesantren, termasuk pengembangan jejaring komunitas
  6. Pameran karya kaligrafi berbasis kertas Gendhong, diselenggarakan di Ngawi (Komunitas Askya), Pondok Gontor Putri 1 Mantingan, dan Pondok Gontor Pusat Ponorogо.

Berdasarkan evaluasi dari tim menunjukkan bahwa proses kegiatan tersebut, menghasilkan peningkatan kapasitas produksi dan kualitas karya kaligrafi dari para peserta. Karya-karya yang ditampilkan pada pameran, merupakan hasil proses panjang pembelajaran kaligrafi berbasis nilai spiritual pesantren, yang ditulis pada media kertas inovasi cetak serat.

Sebanyak 20 karya kaligrafi yang menggunakan media kertas inovasi juga menjadi bagian dari pameran ini, di samping pemenang lomba khot Kaligrafi yang digelar sebagai rangkaian Kegiatan 100 Tahun Gontor.

Berkualitas Tinggi
Dia menjelaskan tulisan kuratorial pameran kaligrafi ini ditulis oleh Aghni Ghofarun Auliya SSn (alumni Gontor dan ISI Solo). Sementara karya-karya kaligrafi yang ditampilkan merupakan kolaborasi antara pesantren, komunitas seni, masyarakat, dan akademisi guna menghidupkan kembali material yang pernah menjadi fondasi literasi Islam Jawa pada media seni ini.

Pemeran ini juga dihadiri oleh Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko. Kegiatan pameran ini terselenggara berkat kerja sama Kemendiktisaintek, ISI Surakarta, Pondok Pesantren Yukminuuna Bil Ghoibi, Markaz Khot Pondok Modern Darussalam Gontor Putra dan Putri.

“Kertas Gendhong yang dihasilkan melalui inovasi cetak serat terbukti mampu menjadi media berkualitas tinggi, tahan lama, dan selaras dengan nilai kesakralan tulisan kaligrafi. Pameran ini sekaligus menunjukkan kesiapan kertas Gendhong sebagai media seni kontemporer berbasis tradisi terutama tradisi kaligrafi pada pesantren,” katanya.

Dia berpendapat melalui kolaborasi komunitas pesantren, akademisi, dan masyarakat, program ini tidak hanya menjaga keberlanjutan warisan literasi pesantren, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis tradisi.

Revitalisasi kertas Gendhong diharapkan menjadi model implementasi pelestarian budaya yang adaptif dan berdampak bagi generasi mendatang. (Iskandar)

Komentar