“Ibu dan Anak”: Keheningan Cinta yang Menjaga Kehidupan

banner 468x60

Portalika.com [YOGYAKARTA] — Di tengah hamparan karya yang memenuhi ruang pamer Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan, sebuah patung resin berukuran relatif sedang tampak memancarkan energi yang tenang.

Tidak hadir dengan gestur dramatis atau bentuk yang meledak-ledak, karya berjudul “Ibu dan Anak” ciptaan Tri Suharyanto justru menawarkan sesuatu yang lebih mendasar, kasih sayang yang menjadi fondasi kehidupan.

banner 300x250

Patung berbahan resin berukuran 63 x 35 x 50 sentimeter itu menampilkan figur induk babi dan anaknya dalam komposisi yang menyatu. Bentuk-bentuk tubuh yang membulat dan melengkung menciptakan kesan hangat, seolah menghadirkan ruang perlindungan yang tak kasatmata.

Dari kejauhan, karya ini tampak sederhana. Namun ketika diamati lebih dekat, tersimpan lapisan makna yang berbicara tentang hubungan paling purba sekaligus paling universal: hubungan antara ibu dan anak.

Bagi Tri Suharyanto, figur babi dipilih bukan tanpa alasan. Dalam berbagai tradisi budaya, babi kerap dimaknai sebagai simbol kesuburan, daya hidup, dan kemampuan bertahan.

Melalui simbol tersebut, seniman menghadirkan refleksi mengenai keberlanjutan kehidupan yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sosok induk yang membungkuk ke arah anaknya menghadirkan kesan perlindungan yang kuat. Di sana terdapat paradoks yang indah: kekuatan yang hadir melalui kelembutan.

Sang induk tidak tampil sebagai figur yang agresif atau dominan, melainkan sebagai penjaga yang penuh kasih. Sementara anak yang berada dekat di sisinya menjadi lambang harapan, pertumbuhan, serta masa depan yang terus bertunas.

Komposisi patung dibangun secara harmonis. Tidak ada elemen yang saling mendominasi. Tubuh induk dan anak saling melengkapi dalam keseimbangan visual yang mengalir.

Lengkungan-lengkungan bentuk menciptakan ritme organik yang mengingatkan pada siklus kehidupan: lahir, tumbuh, melindungi, lalu melahirkan kehidupan baru.

Di balik bentuknya yang sederhana, karya ini sesungguhnya berbicara mengenai sesuatu yang semakin penting di tengah dunia modern yang serba cepat: perhatian. Kehidupan tidak tumbuh hanya karena kekuatan fisik atau kemajuan teknologi, tetapi juga karena adanya pengorbanan, kepedulian, dan cinta kasih yang diwariskan secara terus-menerus.

“Ibu dan Anak” menjadi pengingat bahwa keberlangsungan kehidupan selalu bermula dari relasi yang penuh ketulusan. Bahwa masa depan lahir dari tangan-tangan yang menjaga.

Bahwa kasih sayang adalah energi paling mendasar yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung. Karya ini dipamerkan dalam Grand Opening Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe yang menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan”, Senin, 15 Juni 2026, di Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe, Ary’s Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan Nomor 29, Mantrijeron, Yogyakarta.

Pameran yang dibuka oleh pemerhati budaya, kurator, sekaligus dosen ISI Yogyakarta, Mikke Susanto ini juga melibatkan 21 perupa lintas generasi.

Mereka antara lain Awang Behartawan, Budi Ubrux, Chamit Arang, Dadi Setiyadi, Erica Hestu Wahyudi, Heri Purwanto, Klowor Waldiyono, Komroden Haro, Lully Tutus, Nasirun, Ridi Winarno, Rina Kurniyati, Rismanto, Samuel Indratma, Sigit Handari, Sinung Rubiyanto, Sulardi Wiyana, Tri Suharyanto, Ugo Untoro, Watie Respati, dan Yaya Maria.

Di antara beragam ekspresi artistik yang hadir, “Ibu dan Anak” berdiri sebagai oase keheningan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tetapi perlahan mengajak penonton merenungkan sesuatu yang sering terlupakan: bahwa cinta yang menjaga adalah kekuatan terbesar yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung. (Yuliantoro/*)

Komentar