Dari Kain Menjadi Peluang Usaha: RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS Gelar Pelatihan Shibori di Sanggar Seni Tresna Budaya

banner 468x60

Portalika.com [GUNUNGKIDUL, DIY] – Research Group (RG) Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Workshop Pembuatan Kain Shibori bagi komunitas Sanggar Seni Tresna Budaya di Kelurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kerja sama yang telah terjalin antara RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS dengan Sanggar Tresna Budaya. Sebelumnya, kedua pihak telah sukses menyelenggarakan pelatihan ecoprint yang mendapat respons positif dari masyarakat.

banner 300x250

Kali ini, pelatihan difokuskan pada pengenalan dan praktik pembuatan kain shibori sebagai salah satu keterampilan kreatif yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Tim RG Sejarah Kebudayaan yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dr Yusana Sasanti Dadtun, MHum, Dr Asti Kurniawati, MHum, Drs Tundjung Wahadi Sutirta, MSi, Dr Hayu Adi Darmarastri, MHum dan Dr Supariadi, MHum.

Workshop menghadirkan Dr Dyah Yuni Kurniawati, SSn, MSn, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, sebagai narasumber sekaligus instruktur pelatihan. Tundjung Wahadi Sutirta, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kolaborasi yang berkelanjutan dengan Sanggar Seni Tresna Budaya.

“Kami sangat senang dapat kembali bekerja sama dengan Sanggar Tresna Budaya. Ini merupakan kegiatan kesekian setelah sebelumnya kami melaksanakan pelatihan ecoprint. Melalui pelatihan shibori ini, kami berharap masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Pada sesi pelatihan, Dr Dyah Yuni Kurniawati menjelaskan pembuatan kain shibori memerlukan beberapa tahapan penting agar menghasilkan motif dan warna yang optimal.

Proses diawali dengan pembersihan kain untuk menghilangkan kotoran, minyak, atau zat kimia yang masih menempel pada serat kain sehingga pewarna dapat terserap dengan baik.

Setelah itu, peserta mempelajari berbagai teknik pelipatan dan pengikatan kain yang menjadi ciri khas shibori. Teknik tersebut menentukan pola dan karakter motif yang akan muncul setelah proses pewarnaan.

Tahap berikutnya adalah pencelupan kain ke dalam larutan pewarna dengan berbagai pilihan warna yang cerah dan menarik. Setelah warna meresap secara merata, kain menjalani proses fiksasi untuk mengunci warna agar lebih tahan lama.

Setelah proses selesai, ikatan dibuka dan kain dibentangkan untuk memperlihatkan motif yang terbentuk secara unik. Momen pembukaan ikatan ini menjadi bagian yang paling dinanti peserta karena setiap lembar kain menghasilkan pola yang berbeda dan tidak dapat diulang secara persis.

Pelatihan berlangsung secara interaktif dan partisipatif. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga mempraktikkan langsung seluruh tahapan pembuatan kain shibori mulai dari persiapan bahan hingga proses akhir.

Suasana pelatihan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para peserta tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan hingga proses pembukaan ikatan kain yang menghasilkan motif-motif unik dan tak terduga.

Sugiyono, selaku pengelola Sanggar Seni Tresna Budaya, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami sangat senang dan berterima kasih kepada tim RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS yang kembali hadir memberikan pelatihan kepada masyarakat. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang sangat bermanfaat. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut karena akan membuat sanggar kami semakin berkembang dan maju,” katanya.

Kesan positif juga disampaikan Sutini, salah satu peserta pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru yang sangat berharga.

“Ini adalah pengalaman pertama saya membuat kain shibori. Hasilnya sangat mengejutkan karena motif yang muncul ternyata indah sekali. Bu Dyah mendampingi kami dengan sabar sehingga kami merasa senang dan mudah memahami prosesnya,” ungkapnya.

Tidak hanya memberikan keterampilan teknis, pada sesi akhir pelatihan Dr Dyah Yuni Kurniawati juga membekali peserta dengan materi kewirausahaan. Peserta diperkenalkan pada cara menyusun blueprint usaha, menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menentukan Break Even Point (BEP), serta menetapkan harga jual produk secara tepat.

Menurutnya, kemampuan membuat produk kreatif perlu diimbangi dengan pemahaman dasar mengenai pengelolaan usaha agar keterampilan yang dimiliki dapat berkembang menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.

“Pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Masyarakat juga perlu memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang wajar agar usaha yang dijalankan dapat memberikan keuntungan dan berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS berharap masyarakat Sanggar Tresna Budaya tidak hanya memperoleh keterampilan baru dalam bidang kriya tekstil, tetapi juga mampu mengembangkan produk kreatif berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi.

Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung tumbuhnya ekonomi kreatif di tingkat lokal. (Dyah/*)

Editor: Triantotus

Komentar