Portalika.com [SURAKARTA] – Tim Para Fencing Indonesia gagal merebut medali pada Para Fencing World Cup 2025 di GOR Indoor Manahan Kota Solo, Jateng. Sebaliknya kontingen Thailand pada kejuaraan anggar kursi roda ini tampil sebagai juara umum.
Ketua Umum National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun mengatakan meski Indonesia tak berhasil merebut medali dia tetap bangga.
“Ini [peristiwa] luar biasa Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Sebab ini event tingkat dunia yang diikuti 17 negara dan fencing kali pertama digelar di Indonesia. Ini menandakan bahwa Indonesia luar biasa,” ujar dia saat Gala Dinner dan penutupan Para Fencing World Cup 2025 di Hotel Harris, Purwosari, Solo, Kamis malam.
Dia mengaku tak masalah Indonesia yang baru mengenal olahraga ini belum berhasil merebut medali. Sebab Indonesia baru kali pertama mengenal olahraga fencing dan persiapan training center (TC) menghadapi kejuaraan tingkat dunia ini Indonesia hanya selama dua bulan.
Namun di masa mendatang pihaknya berjanji mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi. Apalagi, kata dia, Indonesia juga sudah mempunyai alat-alat yang dibutuhkan sehingga bisa digunakan untuk menunjang latihan.
“Harus ada pembinaan lebih lanjut sehingga pada kejuaraan mendatang di Thailand akan kita siapkan dengan baik,” kata Senny.
Sementara itu Thailand menjadi yang terbaik setelah menggeser Hongkong dengan menambah dua medali emas pada laga hari terakhir Kamis 18 Septemer 2025. Dua medali emas itu diraih dari kelas female saber team dan female epee team. Thailand menurunkan Saysunee Jana, Duean Nakprasit dan Thitirat Pengprasittipong.
Di partai final kelas saber team, Saysunee Jana dkk menggebuk Georgia yang mengandalkan Nino Tibilashvili, Irma Khetsuriani dan Gvantsa Zadishvili. Sementara di kelas epee team, Thailand menang atas Britania Raya yang diwakili Gemma Colins dan Emily Holder.
Indonesia Terhenti Di Awal
Pada kejuaraan ini Thailand total merebut 4 medali emas, 3 perak dan 4 perunggu. Hongkong membuntuti dengan meraih 3 emas dan 6 perunggu serta Korea Selatan dengan 2 emas, 2 perak dan 6 perunggu.
Pelatih Kontingen Thailand, Nunta Chantasuvannasin mengatakan capaian medali yang didapat Thailand sudah sesuai target yang dipatok.
“Kami senang dengan hasil ini dan tentu kami juga senang bisa bertanding di sini. Terima kasih kepada Indonesia yang telah menyelenggarakan turnamen ini. Semuanya membuat kami sangat nyaman. Venue-nya bagus, fasilitasnya lengkap dan mereka juga memberikan kami makanan, minuman dan camilan,” kata Nunta.
Dia menuturkan Thailand siap memberikan dukungan penuh kepada tim Indonesia yang baru menghidupkan lagi cabang olahraga anggar kursi roda, setelah sempat vakum lebih dari enam tahun.
Total ada 10 atlet Indonesia yang diturunkan pada ajang ini. Namun, tak ada satupun yang bisa menembus babak semifinal. Langkah atlet-atlet Indonesia terhenti di babak 8 besar dan babak 16 besar.
“Saya berharap Indonesia memiliki lebih banyak atlet kursi roda lagi. Kami dari tim Thailand akan membantu dan memberikan dukungan penuh. Mungkin tim Indonesia bisa datang dan kita bisa latihan bersama,” ungkap Nunta.
Indonesia Sengaja Tak Patok Medali
Di bagian lain Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia, Rima Ferdianto, mengapresiasi keberhasilan Thailand yang berhasil mengungguli 16 negara lainnya.
“Thailand menjadi juara, seperti yang sudah kami perkirakan, karena di Paralimpiade Paris saja mereka bisa mendapatkan tiga medali emas. Jadi kita tidak terkejut kalau juara umumnya Thailand,” ujar dia.
Menyinggung capaian 10 atlet Indonesia yang belum berhasil mendapatkan medali, Rima mengatakan sejak awal Sri Lestari dkk tidak ditarget meraih medali. Kejuaraan ini menjadi ajang pembelajaran yang tepat bagi Sri Lestari dkk menuju Asean Para Games 2025.
“Dari ajang ini para atlet sudah mengetahui kualitas dari atlet-atlet juara Paralimpiade itu seperti apa. Mudah-mudahan kedepannya ada atlet kita yang bisa meraih prestasi di level Asia Tenggara terlebih dahulu, kemudian secara bertahap ke Asia dan mudah-mudahan ada yang bisa berpartisipasi di Paralimpiade Los Angeles 2028,” papar Rima.
Sedangkan Technical Delegate Para Fencing World 2025, Udo Zielger mengaku puas dengan penyelenggaraan kejuaraan di Solo. Menurutnya penyelenggaraan yang berlangsung empat hari ini sudah melebihi ekspektasi dari World Para Fencing.
“Saya mendengar hal-hal yang sangat baik dari semua atlet tentang kompetisi ini, mulai venue, tata letak venue, transportasi, hotel hingga makanan. Kami sangat menghargai upaya Indonesia dalam mempersiapkan semuanya. Ini jauh melebihi apa yang kami harapkan,” papar dia. (Iskandar)












Komentar