Di kalangan umat Islam modern seperti Muhammadiyah, sering muncul kegamangan dalam menokohkan para pendirinya. Kekhawatiran dianggap mengkultuskan tokoh membuat sebagian warga enggan membicarakan kebesaran jiwa dan akhlak KH Ahmad Dahlan secara mendalam.
Padahal, beliau bukan sekadar pendiri organisasi, melainkan pribadi yang ikhlas, zuhud, dan mengabdikan seluruh hidupnya bagi kemaslahatan umat. Dari ketulusan itu lahir monumen agung bernama Muhammadiyah, yang hingga kini berkontribusi besar bagi pendidikan dan kesejahteraan bangsa.
Sebaliknya, di kalangan umat Islam tradisional seperti Nahdlatul Ulama, terutama di pedesaan, penghormatan terhadap kiai dan guru ngaji justru sangat mendalam.
Sosok kiai dianggap pembawa barokah, sumber ketenangan batin, tempat umat menimba doa dan keteladanan. Para santri mencintai gurunya dengan takzim, meneladani keikhlasan dan kedermawanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi sebagian kalangan, penghormatan seperti ini sering dicap sebagai “taklid buta” atau bahkan “kultus individu”. Pertanyaannya: apakah benar mencintai dan meneladani guru berarti mengkultuskan? Ataukah itu ekspresi cinta dan penghormatan yang tulus terhadap sosok berilmu?
Kultus: Kekaguman yang Kehilangan Akal
Kultus adalah penghormatan yang kehilangan nalar. Ia muncul ketika seseorang menempatkan tokoh tertentu seolah sempurna, tak tersentuh salah, bahkan dianggap suci dari kekurangan manusiawi.
Dalam situasi itu, kebenaran berpindah dari prinsip ke pribadi, dan akal pun kehilangan arah. Fenomena semacam ini mudah ditemukan-di ranah agama, politik, hingga budaya populer. Ketika tokoh dijadikan simbol yang kebal kritik, tumbuhlah fanatisme.
Dalam konteks agama, bahaya ini telah diingatkan Rasulullah:
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Cinta dan penghormatan harus dijaga agar tidak melampaui batas. Mengkultuskan bukan tanda cinta, tetapi kehilangan keseimbangan dalam mencintai.
Meneladani: Cinta yang Cerdas
Berbeda dengan kultus, meneladani adalah tindakan sadar dan cerdas. Ia bukan pemujaan, melainkan pembelajaran moral dan spiritual. Meneladani berarti menyerap nilai-nilai, bukan meniru bentuk luar.
Mengikuti guru bukan berarti meniru gaya berbicara atau penampilan, melainkan memahami kedalaman ilmunya, keikhlasannya dalam mengabdi, dan kesabarannya dalam membimbing umat.
Alquran menegaskan:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab [33]:21)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi bukan untuk dikultuskan, melainkan untuk diteladani. Meneladani berarti menjaga keseimbangan antara cinta dan kritisisme, antara penghormatan dan kesadaran diri.
Memuji: Antara Apresiasi dan Bahaya Berlebihan Pujian adalah ekspresi spontan dari rasa hormat. Ia bisa memperkuat semangat, tetapi bila takarannya berlebihan, bisa menjadi racun.
Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Pujian itu seperti pisau bermata dua: bisa menguatkan niat baik, tapi juga menumbuhkan kesombongan.”
Rasulullah pun menegur sahabat yang memuji berlebihan, “Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher saudaramu.” (HR. Muslim)
Pujian yang tak proporsional dapat membunuh ketulusan dan menumbuhkan ego. Karena itu, memuji harus disertai niat mendidik dan menumbuhkan kebaikan, bukan membangun berhala dalam hati.
Akal Sehat dalam Menghormati
Di era media sosial, kultus hadir dalam bentuk baru-digital cult. Figur publik, influencer, hingga tokoh agama dipuja tanpa batas; kritik dianggap penghinaan. Padahal, cinta sejati kepada guru dan tokoh ialah menjaga akal tetap hidup di tengah rasa hormat.
Meneladani bukan berarti kehilangan nalar, justru akal sehat adalah bukti cinta tertinggi. Orang yang benar-benar mencintai gurunya tak akan membiarkan nama sang guru dijadikan alat pembenaran kebodohan atau fanatisme.
Bertahun-tahun berguru kepada para ulama seperti KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’), KH Thoifur Mawardi, KH Ahmad Haedar Idris, KH Masrur, Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, Habib Husein bin Anis Al-Habsyi, dan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, saya belajar bahwa keteladanan sejati tampak dalam keseharian, bukan dalam mitos.
Mereka sosok alim, zuhud, dan penuh kasih sayang. Rendah hati dalam memuliakan santri dan menebar ilmu tanpa pamrih.
Menghormati mereka bukan berarti mengkultuskan, melainkan meneladani nilai-nilai luhur yang mereka hidupkan: keikhlasan, kasih sayang, dan ketundukan total kepada Allah.
Kita membutuhkan tokoh untuk diteladani, bukan disembah. Kita butuh guru yang membimbing dengan ilmu, bukan yang menuntut pemujaan. Kemuliaan sejati tidak melekat pada pribadi, melainkan pada nilai-nilai yang diperjuangkannya.
Menghormati dengan akal sehat lebih mulia daripada memuja dengan buta. Mari belajar meneladani dengan hati yang jernih dan nalar yang hidup. Sebab cinta sejati kepada guru dan tokoh tidak mematikan akal, melainkan menumbuhkan kecerdasan spiritual, cinta yang mencerahkan bukan membutakan. (**)
*) Penulis lepas, aktif di majelis ilmu beberapa pesantren, alumni Sosiologi UGM












Komentar