Kota Surakarta Perkuat Identitas Sebagai Kota Budaya Yang Adaptif Dan Relevan Bagi Generasi Muda

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Pagelaran Wayang Kulit Hari Wayang Nasional 2025 di Pendhapi Gede, Balai Kota Surakarta menjadi bukti Kota Surakarta sebagai kota budaya yang adaptif dan relevan bagi generasi muda, Sabtu malam kemarin.

Tahun ini, pagelaran menghadirkan pendekatan baru yang lebih sinematik, kolaboratif, dan modern, sejalan dengan tren pembaruan kesenian pertunjukan Jawa. Komunitas Dalang Remaja (Darma Suta) membawakan lakon “The Construction of Cinematic Warriors: Sang Surya Tenggelam – Karena Karna” dengan gaya penceritaan yang segar dan penuh eksplorasi.

banner 300x250

Darma Suta menggabungkan unsur-unsur pembaruan pertunjukan seperti:

  • Kolaborasi wayang orang, wayang kulit, gamelan, seni artistik, dan tata gerak,
  • Tata cahaya dramatis,
  • Komposisi musik kontemporer namun tetap berpijak pada pakem,
  • Struktur visual sinematik yang menonjolkan karakter Karna sebagai figur tragik,
  • Desain panggung interaktif yang memadukan bayangan, siluet, dan gesture pemain,
  • Serta narasi filosofis tentang pilihan hidup, kesetiaan, dan konflik moral yang disampaikan secara teatrikal.

Pendekatan multidisiplin ini membuat pertunjukan wayang bukan sekadar tontonan tradisi, tetapi pengalaman artistik yang imersif dan dekat dengan bahasa visual generasi muda.

Darma Suta: Ruang Ekspresi Dalang Muda Komunitas Darma Suta, lahir sebagai wadah kreatif dalang muda Surakarta, kembali menunjukkan kapasitasnya dalam menghadirkan pertunjukan berpakem namun inovatif.

Portalika.com/Ist

Mereka mengolah nilai tradisi menjadi format artistik yang relevan bagi publik masa kini. Melalui teknik visual, musikal, dan dramaturgi yang berani—mulai dari transisi adegan sinematik, penegasan karakter melalui cahaya, hingga harmoni gamelan kontemporer—Darma Suta menegaskan bahwa wayang adalah ruang dialog antara nilai masa lalu dan kegelisahan generasi hari ini.

Nilai ini tampak dalam monolog emosional Karna, eksplorasi moralitas, hingga adegan klimaks “Sang Surya Tenggelam” yang membuat penonton terpaku.

Acara dibuka oleh Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, yang sekaligus menyerahkan Penghargaan Pelestari Seni Budaya Kota Surakarta Tahun 2025 kepada tiga maestro seni:

  1. Joko Sriyono – Maestro wayang beber dari Baluwarti
  2. Ignatius Purwanto – Perajin canting tembaga terakhir di Joyotakan
  3. Nyi Tugini – Pesinden senior dan pembina karawitan

Penyerahan dilakukan bersama budayawan Kanjeng Gusti Dipo Kusumo, perwakilan ISI Surakarta Wasi Bantarlo, dan Direktur Mataya Arts & Heritage Heru Prasetyo. Apresiasi hangat dari para hadirin mengiringi momen penghormatan tersebut.

Wakil Walikota Astrid Widayani menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan gerakan kolektif yang harus terus relevan dengan perkembangan zaman.

“Pelestarian budaya adalah gerakan kolektif menjaga warisan serta memastikan nilai-nilai budaya terus hidup dan relevan dengan perkembangan masyarakat hari ini,” ujar Astrid.

Ia menekankan peran sentral generasi muda dalam keberlanjutan tradisi. “Anak muda yang lahir dan tumbuh di Kota Budaya harus bisa kreatif, adaptif, dan berani menyuarakan tradisi. Karena merekalah penerus pelestari kebudayaan di Kota Solo,” tambahnya.

Dia menegaskan komitmen Pemkot Surakarta dalam memperkuat ekosistem kebudayaan melalui penyediaan ruang ekspresi, fasilitasi program kreatif, serta promosi Kota Solo sebagai pusat budaya Jawa di tingkat nasional maupun internasional.

Identitas Solo Kota Budaya
Pertunjukan Darma Suta malam itu menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi.

Generasi muda hadir dalam jumlah besar—mahasiswa, influencer, seniman digital, hingga pelajar pecinta budaya—menunjukkan bahwa wayang masih relevan, dicintai, dan mampu beradaptasi.

Kombinasi antara penghormatan kepada maestro, kreativitas dalang muda dan dukungan pemerintah, menghadirkan narasi kokoh mengenai bagaimana Surakarta mempertahankan identitasnya sebagai Kota Budaya.

Acara ditutup dengan adegan klimaks sinematik “Sang Surya Tenggelam” yang disambut tepuk tangan panjang. Di tengah hiruk pikuk modernitas, malam itu Surakarta menegaskan: budaya Jawa tidak pudar—justru terus tumbuh, hidup, dan diwariskan dengan bangga. (*)
Editor: Triantotus

Komentar