Merajut Keberanian Sejak Dini: Mahasiswa KKN Unisri 2025 Transformasi Ruang Kelas dengan Edukasi Interaktif Public Speaking

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] – Di tengah hiruk pikuk agenda pendidikan formal, sebuah inovasi cerdas datang dari para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Kelompok 59, Sabtu, 2 Agustus 2025.

Suasana lingkungandi SD Negeri 1 Sukorini berubah menjadi lebih hidup dan penuh semangat. Melalui program kerja individu yang digagas oleh Vania Kharizma Satriawan, mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum semester 6, ia sukses menggelar Edukasi Interaktif Public Speaking dengan sebuah pendekatan yang revolusioner: Metode Bercerita Interaktif.

banner 300x250

Program ini bukan hanya sekadar mengajar, melainkan menanamkan keberanian dan kepercayaan diri yang merupakan modal krusial bagi masa depan anak-anak.

Vania Kharizma Satriawan, yang akrab disapa Vania, menyadari bahwa metode pengajaran konvensional yang monoton sering kali gagal menangkap perhatian siswa. Atas dasar itulah, ia merancang sebuah program yang jauh dari kesan kaku.

Dibantu oleh timnya yang sekelompok KKN dengannya, di antaranya, Isnaini Puji Lestari (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar), Azizah Palupi Cahyoningtyas (Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris), Alfantino Galih Wijayanto (Program Studi Ilmu Komunikasi), Rizal Iklil Syauqy (Program Studi Manajemen), dan Charles Epapras Gultom (Program Studi Agroteknologi).

Program kerja individu ini memilih metode bercerita sebagai jembatan utama. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya disuguhkan materi, tetapi juga diajak masuk ke dalam alur cerita yang menantang mereka untuk berpendapat dan berinteraksi.

Prasetyo Elda, SPd, guru Olahraga dan Kesehatan SDN 1 Sukorini, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan umum adalah bekal penting yang masih minim dimiliki siswanya.

“Kurangnya keberanian untuk berbicara, apalagi saat pemilihan petugas upacara, menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.

Portalika.com/Ist

Dukungan serupa datang dari Kepala Sekolah, Dewi Tri Astuti, SPd, yang mengapresiasi inovasi mahasiswa KKN.

“Materi public speaking ini belum pernah kami ajarkan. Dari pihak eksternal pun belum ada yang mengisi seminar atau kelas kami perihal materi itu. Ini sangat diperlukan bagi anak didik kami untuk bekal masa depan,” tuturnya.

Pernyataan dari pihak sekolah menunjukkan bahwa program ini mengisi sebuah celah penting dalam kurikulum sekolah dasar.

Para pakar pendidikan sepakat bahwa pendekatan interaktif sangat efektif untuk anak-anak. Psikolog pendidikan anak, Dr Santi Wardani, MPsi, dalam sebuah wawancara terpisah, menyatakan, “Anak-anak belajar paling baik melalui pengalaman dan interaksi. Metode bercerita interaktif seperti ini tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga memupuk rasa empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis mereka.”

Menurutnya, pendekatan ini mengubah persepsi belajar dari sebuah kewajiban menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Dengan demikian, siswa tidak merasa terbebani, melainkan termotivasi untuk berpartisipasi aktif.

Vania dan timnya membuktikan teori tersebut. Mereka tidak hanya memberikan materi, tetapi juga menciptakan suasana yang suportif dan menyenangkan. Pola pengajaran yang dibangun bersifat dua arah, di mana setiap siswa memiliki kesempatan untuk didengar.

Vania percaya, sebagaimana kutipan Jim Rohn yang ia sampaikan, bahwa “Komunikasi adalah 20% dari apa yang kamu tahu, dan 80% dari bagaimana kamu merasa akan apa yang kamu tahu.”

Oleh karena itu, ia fokus pada bagaimana siswa merasa nyaman dan percaya diri saat menyampaikan gagasan mereka.

Program ini terbagi dalam beberapa sesi yang dirancang secara cermat. Salah satu sesi yang paling berhasil adalah ice breaking inovatif bernama ‘Mengumpulkan Bintang’. Dalam permainan ini, siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dasar terkait materi atau isu harian akan mendapatkan satu bintang yang dapat ditukarkan dengan hadiah menarik. Permainan ini sukses besar.

Dari yang awalnya pasif dan malu-malu, siswa-siswa SDN 1 Sukorini berubah menjadi aktif dan berani. Mereka mulai mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan, dan bahkan menceritakan pengalaman pribadi, dari pengalaman liburan hingga isu serius seperti bullying di sekolah.

Transformasi ini sangat nyata. Program ini tidak hanya melatih siswa untuk berbicara, tetapi juga membentuk karakter. Mereka belajar untuk menghargai pendapat orang lain, berani mengambil risiko untuk berbicara di depan umum, dan yang paling penting, mereka menemukan suara mereka sendiri.

Program public speaking interaktif dari mahasiswa KKN Unisri ini membuktikan bahwa pendidikan yang efektif tidak selalu harus formal dan kaku. Dengan sentuhan kreativitas dan inovasi, pendidikan bisa menjadi sebuah pengalaman yang berkesan dan transformatif. Inisiatif Vania dan timnya menjadi bukti konkret bahwa semangat mahasiswa dapat membawa perubahan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Harapannya, pendekatan metode belajar ini terus direalisasikan oleh guru-guru di SDN 1 Sukorini. Di bawah bimbingan dan pengawasan tersebut, peserta didik SDN 1 Sukorini akan mulai mengolah rasa, olah vokal, dan olah pikir.

Mereka tidak lagi menjadi sekadar peniru, melainkan seorang pencerita ulung yang percaya diri. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga berani bersuara dan berpendapat. Sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar. (*)

Penulis: Vania Kharizma Satriawan, mahasiswi Ilmu Hukum semester 6 Unisri, divisi acara pada KKN Unisri Kelompok 59 tahun 2025.

Editor: Suryono

Komentar