Portalika.com [SOLO] – Serentetan eksploitasi alam berlebihan di Indonesia yang akhir-akhir ini rawan memicu konflik dengan masyarakat setempat disorot salah seorang koreografer papan atas Indonesia, Sardono Waluyo Kusumo, 80.
Mantan Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini tergerak nuraninya untuk memotret dampak sosial politik dari eksploitasi alam itu untuk mementaskannya.
Guna mewujudkan gagasan itu dia menggandeng sejumlah seniman panggung teater dan tari akan menggelar eksploitasi timah di Bangka Belitung, Sumatra yang di antaranya dianggap berdampak negatif terhadap lingkungan termasuk masyarakat sekitar.
Baca juga: Pentas Seni Dan Drama Anak-Anak Guna Pelestarian Budaya Dan Pengembangan Potensi Desa Minggarharjo
Karena itu dia bersama beberapa seniman Kota Solo dan salah seorang warga Bangka yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jateng, Rahmad Putra tergerak memvisualkan hal tersebut untuk dipentaskan menjadi tari berjudul Sang Penggali Timah di kediamannya pada 21-23 Februari 2025.
Pementasan tersebut juga digelar menyusul ribut-ribut eksploitasi alam berlebihan yang menghancurkan lingkungan alam sekitar di berbagai daerah. Di antaranya penggalian timah di Bangka Sumatra, penggalian pasir laut di Sumatra yang diekspor ke luar negeri dan sebagainya.
“Menggali kekayaan alam ini sejak tahun 1950 sebenarnya sudah menjadi isu besar. Dan sudah menjadi karya sastra yang dipanggungkan. Jadi kita harus belajar dengan ribut-ribut ini,” ujar Sardono kepada awak media di kediamannya kawasan Kampung Kemlayan, Solo, Jateng belum lama ini.
Menurut dia pementasan ini digelar berawal diskusi kecil dirinya dengan Putra sejak Maret 2024. Guna merealisasi pentas ini, Sardono mengaku rela studionya “dirusak” dengan digali pasirnya sedalam sekitar 50 sentimeter.
Sehingga pasir halus yang semula menutupi tanah tersebut untuk sementara disingkirkan dengan diwadahi beberapa karung.
Sementara itu Rahmat Putra mengatakan dia “merusak” atau menggali studio Sardono, Mas Don Art Center setelah mendiskusikannya dengan Sardono. Kegiatan ini dimaksukan untuk menggambarkan situasi pertambangan timah di kampung halamannya di Bangka Belitung yang kurang lebih sama dengan yang dilakukannya ini sekaligus untuk setting panggung.
Untuk merealisasikan pentas tesebut dia juga berkolaborasi dengan pimpinan Teater Gidag Gidig Solo, Hanindawan; seniman Djarot Darsono, Galuh Sari dan sebagainya.
“Di sini Mas Don [Sardono] meminta saya menggambarkan situasi di kampung saya. Di sana orang bisa menggali di dapurnya menemukan sebongkah timah sekadar untuk membeli beras atau biaya sekolah. Karena itu saya diizinkan menggali studio ini untuk penggambaran situasi di Bangka,” papar dia.
Tanpa Sponsor
Lebih lanjut Sardono mengungkapkan pergelaran Sang Penggali Timah ini merupakan adaptasi bebas naskah Drama Sang Penggali Intan dan Penggali Kapur karya Kirdjomulyo tahun 1950.
“Ada perjuangan, ada percintaan. Tapi juga ada kematian. Di kedua drama itu sama, dan tentu saja ada proses ‘menggali’ untuk menemukan sesuatu. Kurang lebih Sang Penggali Timah nanti juga akan mengikuti alur yang sama,” kata dia.
Di bagian lain dia bersyukur sebab putra Kirdjomuljo dijadwalkan bakal menghadiri pentas tersebut. Kebetulan saat ini putra Kirdjomulyo sedang mengambil tesis tentang sosok bapaknya sebagai seniman, sehingga diharapkan nanti bisa menambah informasi untuk penonton.
Untuk itu dia mengimbau mereka yang tertarik dengan pentas tersebut segera membeli tiket yang sudah dijual secara online. Pihaknya sengaja menjual tiket karena pentas ini tidak ada sponsor yang mendanai.
“Pentas ini yang membeayai ya penonton itu, maka dari itu kalau ingin menonton yang beli karcis,” papar dia.
Dia menambahkan ketiadaan sponsor itu sengaja dilakukan agar para seniman berlatih bisa hidup dalam dunianya yang memang tugasnya membaca, mengekspresikan, menyampaikan nilai-nilai yang ditulis para sastrawan. Kalau tidak dikomunikasikan akan rugi, karena sastrawan itu merekam gejala zaman.
Sedangkan harga tiket untuk presale dijual Rp35.000 dan untuk presale bundling atau tiket dengan kopi Rp45.000, untuk tiket on the spot Rp75.000. Presale tiket dilayani terakhir hari Senin 17 Februari 2025 ini. (Iskandar)












Komentar