Portalika.com [WONOGIRI] – Salah satu program unggulan dan konsisten dilaksanakan di MTs dan MA Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati, Kismantoro, Kabupaten Wonogiri adalah muhadatsah, yaitu kegiatan percakapan dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris.
Pengasuh MTs dan MA Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati, Drs KH Sutrisno Yusuf, MSi, menjelaskan kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari Rabu dan Sabtu, dengan tujuan utama membentuk keterampilan berbicara atau speaking skill yang aktif, terarah, dan berkesinambungan.
Menurutnya, dalam konteks pendidikan bahasa, kemampuan berbicara merupakan keterampilan produktif yang tidak hanya menuntut penguasaan kosakata, tetapi juga kecepatan berpikir, keberanian, serta kepercayaan diri untuk mengekspresikan ide.
Melalui muhadatsah, para santri dilatih untuk tidak hanya memahami bahasa sebagai seperangkat aturan gramatikal, melainkan juga menggunakannya sebagai alat komunikasi nyata. Lebih dari sekadar latihan, muhadatsah berfungsi sebagai jembatan antara teori dan praktik.
“Para santri yang sebelumnya memperoleh materi bahasa melalui pembelajaran klasikal, akan mendapatkan ruang untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam percakapan sehari-hari. Dengan demikian, keterampilan yang terbangun tidak bersifat pasif, melainkan komunikatif dan aplikatif,” jelasnya.
Secara pedagogis, muhadatsah juga menumbuhkan kemandirian belajar (autonomous learning). Santri dituntut untuk kreatif dalam menyusun kalimat, memilih kosakata yang sesuai, hingga berinteraksi dengan teman sebaya dalam suasana yang menyenangkan namun tetap akademis.
Interaksi inilah yang menjadikan muhadatsah sebagai salah satu pendekatan efektif dalam mencetak generasi yang fasih berbahasa asing, baik Arab maupun Inggris.
Lebih jauh diakatakan, kegiatan ini memiliki relevansi strategis dalam membekali santri menghadapi tantangan global. Kemampuan berbahasa asing, khususnya Arab dan Inggris, merupakan kunci dalam mengakses literatur internasional, memperluas jaringan akademik, hingga membuka peluang kontribusi di level dunia.
Oleh karena itu, muhadatsah bukan hanya rutinitas mingguan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk pengembangan kompetensi santri. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini secara konsisten, madrasah menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga berdaya saing global.
Muhadatsah telah menjadi bukti bahwa penguasaan bahasa dapat diraih melalui pembiasaan, praktik, dan keberanian untuk terus berbicara. (Ilma Yulqowin/*)
Editor: Triantotus












Komentar