Portalika.com [WONOGIRI] – Chapter Wonogiri menjadi penutup perjalanan Rock in Solo Festival 2025. Gelaran terakhir ini berlangsung pada Sabtu, 1 November 2025 di sebuah kafe di pusat Kota Wonogiri dan seperti chapter sebelumnya, menghadirkan sesi RockCon, forum diskusi yang mempertemukan musik ekstrem dengan pembahasan isu-isu sosial.
Melalui format talkshow, RockCon kembali mengundang sejumlah panelis untuk membahas tema Pegunungan Sewu dalam Ancaman Ekstraktivisme. Diskusi dipandu Mariana dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Surakarta.
Dalam forum tersebut, para panelis menyoroti ekstraktivisme sebagai cara pandang yang menempatkan bumi semata-mata sebagai objek ekonomi.
Cara pandang ini, menurut mereka, melahirkan praktik pengerukan sumber daya alam tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan maupun keberlanjutan masyarakat lokal.
Jaya Darmawan, peneliti Celios, menyebut ekstraktivisme sebagai ide yang dipaksakan dan perlu dilawan secara kolektif.
“Bukan hanya oleh masyarakat setempat, tapi juga oleh kita semua yang hidup di sekelilingnya,” ujarnya.
Ia mengutip hasil riset Celios yang menunjukkan bahwa rencana pabrik semen dan tambang di Pracimantoro, Wonogiri berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan sebesar Rp22,7 triliun dalam kurun 70 tahun.
Jika eksploitasi dilakukan lebih cepat, kerugian bisa mencapai Rp26,5 triliun. Beban terbesar dari kerugian itu, menurutnya, akan ditanggung oleh masyarakat lokal.
Sedangkan Azzaki Amali, periset Trend Asia, menambahkan perspektif tentang bagaimana jaringan bisnis neoliberal membentuk lanskap ekstraktivisme di Pegunungan Seribu.
Ia menekankan bahwa rencana pengerukan ini dibicarakan para pengambil keputusan dengan ringan, seakan tanpa konsekuensi.
“Mereka membicarakan rencana pengerukan ini di meja makan dengan tertawa dan bahagia tanpa peduli di bagian lain ada orang-orang yang menangis karena kegelisahan,” katanya.
Sementara itu, Suryanto Perment dari Paguyuban Tali Jiwa menilai bahwa sebagian masyarakat karst Gunung Sewu belum sepenuhnya menyadari potensi kerugian yang mengancam.
Ia menyebut masyarakat kerap disuguhi narasi pembangunan oleh pemerintah, sementara kebijakan terkait kawasan karst justru berubah mengikuti kepentingan industri besar.
“Pemangku kebijakan perlu disadarkan bahwa pembangunan tidak harus dengan cara merusak ruang hidup dan budaya kehidupan masyarakat. Mereka sering tergiur oleh bujukan pengusaha besar yang masuk dan mendikte melalui perubahan-perubahan regulasi perlindungan kawasan karst, ” tegasnya.
Selain sesi diskusi, Chapter Wonogiri juga menampilkan deretan band yang menjadi bagian dari rangkaian Rock in Solo Festival. Kehadiran musisi independen: Boar, Human Inslavement, Infusion, Glome, The Suse dan Thuggery ini mempertahankan tradisi festival dalam merayakan dinamika komunitas lokal dan energi musik keras yang tumbuh dari akar warga.
Dalam penampilan mereka, disisipkan pesan-pesan kegelisahan dari masyarakat di antaranya kalimat ‘Tolak Pembangunan Pabrik Semen Gunung Sewu’ pada background perform mereka.
Dengan terselenggaranya Chapter Wonogiri, rangkaian Rock in Solo Festival 2025 resmi berakhir. Namun isu Gunung Sewu yang diangkat dalam forum ini masih akan terus menjadi bahan pembicaraan di berbagai ruang komunitas, mengingat besarnya dampak ekologis dan sosial yang dipertaruhkan.
Rangkaian festival boleh selesai, tetapi percakapan tentang keselamatan ruang hidup di selatan Wonogiri tampaknya akan memasuki babak baru. (Suryanto/*)
Editor: Triantotus












Komentar