Portalika.com [YOGYAKARTA] – Suara tawa pecah berkali-kali di sebuah vila di lereng Gunung Merapi, Kaliurang, Sabtu, 4 Juli 2026. Sesekali terdengar panggilan nama yang sempat terlupakan, disusul pelukan hangat dan tepukan di bahu.
Ada yang masih mudah dikenali. Sebagian lain harus menebak lebih dulu sebelum akhirnya saling tertawa. Walau waktu mengubah wajah, namun tidak selalu mampu menghapus kenangan persahabatan.
Tiga puluh tujuh tahun setelah lulus dari SMA Negeri 8 Yogyakarta Angkatan 1989, jalan hidup membawa para alumni ke arah yang berbeda. Ada yang menjadi guru, dokter, dosen, birokrat, pengusaha, akademisi, petani, pekerja profesional, hingga ibu rumah tangga.
Ada yang tetap tinggal di Yogyakarta. Ada pula yang merantau ke berbagai kota, bahkan menetap di luar negeri. Sebagian menikmati keberhasilan, sebagian pernah jatuh lalu bangkit kembali.
Di antara nama-nama yang dipanggil hari itu, ada pula sahabat yang telah lebih dahulu berpulang, meninggalkan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Reuni akhirnya menjadi lebih dari sekadar temu kangen. Di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab masing-masing, berkumpul kembali adalah kemewahan yang tidak selalu mudah diwujudkan.
Ketika pertemuan itu akhirnya terjadi, yang dirayakan bukan hanya masa lalu, melainkan rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu.
Sosiolog Maurice Halbwachs menjelaskan bahwa ingatan manusia dibangun melalui collective memory atau memori kolektif. Banyak kenangan masa sekolah sesungguhnya baru kembali hidup ketika diceritakan bersama.
Nama guru, candaan di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kisah-kisah sederhana yang dulu terasa biasa, mendadak menjadi bagian penting dari identitas bersama. Reuni bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi merawat memori yang membentuk perjalanan hidup setiap orang.
Pandangan itu diperkuat Émile Durkheim yang melihat pertemuan komunitas sebagai ritual sosial yang memperbarui solidaritas. Dalam suasana reuni, para alumni kembali merasakan ikatan yang pernah dibangun sejak remaja.
Jabat tangan, obrolan ringan, dan tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat menjadi perekat sosial yang semakin berharga di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis.
Lebih jauh, Robert D Putnam menyebut hubungan semacam ini sebagai social capital atau modal sosial. Persahabatan yang bertahan puluhan tahun tidak berhenti pada nostalgia.
Dari jaringan alumni lahir kerja sama, peluang usaha, kegiatan sosial, hingga kepedulian kepada sahabat yang sedang menghadapi kesulitan. Reuni menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan sekadar saling mengingat.
Menariknya, dalam reuni berbagai sekat sosial seolah mencair. Antropolog Victor Turner menyebut keadaan ini sebagai communitas, ketika jabatan, pangkat, kekayaan, dan status sosial kehilangan makna dominannya.
Seorang pejabat bercanda dengan teman yang kini menjadi petani, pengusaha duduk berdampingan dengan pensiunan guru, semuanya kembali menjadi anak-anak SMA yang pernah mengenakan seragam putih abu-abu.
Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa reuni membawa manfaat nyata. Roy F Baumeister dan Mark R Leary menjelaskan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok merupakan kebutuhan dasar manusia.
Sementara Constantine Sedikides membuktikan bahwa nostalgia mampu meningkatkan optimisme, memperkuat harga diri, dan mengurangi kecemasan. Bahkan riset Julianne Holt-Lunstad menunjukkan hubungan sosial yang kuat berkaitan dengan kesehatan fisik yang lebih baik, mulai dari menurunnya tingkat stres hingga meningkatnya kualitas hidup.
Dalam perspektif Islam, reuni juga merupakan bentuk silaturahmi yang dianjurkan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menyambung silaturahmi menjadi jalan datangnya keberkahan rezeki dan umur.
Para ulama memaknai umur yang panjang bukan semata-mata hitungan tahun, melainkan kehidupan yang dipenuhi manfaat dan hubungan baik dengan sesama.
Mungkin itulah sebabnya reuni selalu menghadirkan rasa haru. Rambut yang memutih, langkah yang mulai melambat, dan jumlah sahabat yang semakin berkurang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
Namun selama Allah masih memberi umur, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul, persahabatan layak dirawat. Sebab hidup memang cuma sekali. Maka, banyak-banyaklah reuni. (Yuliantoro)












Komentar