Portalika..com [KLATEN] – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak-anak terus digencarkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan program kerja bertajuk “Membangun Sekolah Tanpa Kekerasan: Sosialisasi Anti-Bullying di Sekolah Dasar” di sekolah dasar negeri Kapungan 2 wilayah Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, pada 6 Agustus 2025. Kegiatan ini digagas oleh Amirul Khakim yang tergabung dalam kelompok 78 KKN-PPM Tahun 2025 Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa .
Bullying atau perundungan merupakan salah satu masalah serius yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Tindakan ini bukan hanya sekadar ejekan, melainkan juga bisa berupa kekerasan fisik, verbal, sosial, bahkan melalui dunia maya (cyberbullying). Melihat fenomena tersebut, mahasiswa KKN tergerak untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada siswa sekolah dasar agar mereka mampu mengenali, menghindari, serta mencegah praktik perundungan di lingkungannya.
Dalam pemaparannya, tim KKN menjelaskan secara sederhana namun mendalam mengenai apa itu bullying, jenis-jenisnya, hingga dampak yang ditimbulkan. Anak-anak dikenalkan pada berbagai contoh nyata, seperti menendang, mendorong, mengejek, mengucilkan, hingga menyebarkan gosip. Melalui pendekatan interaktif, siswa diajak untuk menyadari bahwa tindakan-tindakan tersebut bisa melukai perasaan maupun menurunkan rasa percaya diri teman mereka.
Tak hanya menjelaskan, kegiatan ini juga menekankan dampak jangka panjang bullying baik bagi korban maupun pelaku. Korban sering mengalami ketakutan, kecemasan, hingga depresi yang bisa menghambat prestasi belajar. Sementara pelaku berisiko tumbuh dengan perilaku agresif dan sulit menjalin hubungan sosial yang sehat. Penjelasan ini membuat siswa semakin memahami bahwa bullying bukanlah hal sepele, melainkan masalah yang harus dicegah bersama.
Salah satu bagian penting dari sosialisasi adalah mengajarkan kepada siswa cara mencegah dan menghentikan bullying. Anak-anak diajak untuk berani bersuara jika melihat teman menjadi korban, membantu korban agar merasa aman, menjaga jarak dari pelaku, dan jika memungkinkan berbicara langsung kepada pelaku dengan percaya diri. Selain itu, mereka juga diajak untuk menumbuhkan sikap empati, misalnya dengan mendengarkan curahan hati teman, memberikan dukungan ketika ada yang sedih, serta menghargai setiap perbedaan yang ada.
Peran guru dan orang tua turut disorot dalam kegiatan ini. Guru diharapkan mampu menjadi teladan yang baik, menumbuhkan sikap saling menghargai, serta membuka ruang komunikasi dengan siswa. Sementara itu, orang tua didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, mengajarkan pentingnya toleransi, dan menjadi pendengar yang baik ketika anak menghadapi masalah.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa bullying bukan hanya menyakiti fisik, tetapi juga melukai hati dan perasaan. Semua siswa berhak mendapatkan pendidikan di lingkungan yang aman dan nyaman,” ungkap salah satu pemateri dari mahasiswa KKN.
Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan suasana penuh semangat. Para siswa tampak aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, hingga berbagi pengalaman kecil yang pernah mereka alami. Guru-guru pun mengapresiasi program ini karena mampu memberikan edukasi penting yang mudah dipahami anak-anak.
Di akhir acara, seluruh peserta bersama-sama menyampaikan komitmen untuk saling menghargai dan menciptakan sekolah tanpa kekerasan. Dengan adanya program ini, diharapkan bukan hanya siswa, tetapi juga guru dan orang tua semakin peduli terhadap isu perundungan sehingga dapat mewujudkan budaya sekolah yang ramah, peduli, dan bebas dari segala bentuk bullying.
Penulis: Amirul Khakim, kelompok 78 KKN-PPM Tahun 2025












Komentar