Staimas Wonogiri dan UniSZA Malaysia Kolaborasi Konferensi Internasional Integrasi AI dalam Pendidikan Tinggi

banner 468x60

Portalika.com [TERENGGANU, MALAYSIA] – Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (Staimas) Wonogiri menunjukkan eksistensinya di kancah internasional dengan berpartisipasi dalam International Conference on Fundamental Studies (ICFS) 2025, yang diselenggarakan oleh Faculty of General Studies and Advanced Education, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, Kamis, 9 Oktober 2025 di Meeting Room FUPL UnisZA Malaysia.

Konferensi bertajuk “AI Integration in Higher Education: Navigating Tradition and Transformation” (Integrasi AI dalam Pendidikan Tinggi: Mengemudi Tradisi dan Transformasi) ini mempertemukan akademisi dari Indonesia dan Malaysia untuk membahas bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat diintegrasikan dalam sistem pendidikan tinggi tanpa meninggalkan nilai tradisi dan etika akademik.

banner 300x250

Kegiatan dibuka Assoc Prof Dr Abdullah Ibrahim, Dekan Faculty of General Studies and Advanced Education, UniSZA, yang menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

“Integrasi AI bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sebuah proses refleksi akademik untuk memastikan bahawa kemajuan tidak mengabaikan nilai kemanusiaan dan integriti ilmiah. Kami menyambut baik kehadiran Staimas Wonogiri sebagai mitra akademik dari Indonesia,” ujar Dr Abdullah Ibrahim.

Dalam rangkaian acara tersebut, juga dilaksanakan penyerahan resmi mahasiswa Staimas Wonogiri kepada UNiSZA untuk mengikuti program Summer Course. Penyerahan dilakukan oleh Wakil Ketua III Staimas Wonogiri, Sugiyanto, SE, MSi dan diterima Dekan Fakulti Pengkajian Umum UNiSZA dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaboratif.

“Kami berharap mahasiswa Staimas dapat menimba pengalaman internasional, belajar langsung dari budaya akademik Malaysia, dan membawa pulang nilai-nilai kolaborasi global ke tanah air,” tutur Sugiyanto.

Pada sesi konferensi, sejumlah dosen dari Staimas Wonogiri turut menjadi pembicara, yaitu Dr Ruslina Dwi Wahyuni, SSos, MAP, CPM, dengan makalah berjudul “Integrasi AI dalam Pendidikan Tinggi: Perspektif Hukum Tata Negara.” Ia menyoroti perlunya AI Governance Framework dalam dunia pendidikan agar penggunaan kecerdasan buatan tetap sesuai dengan prinsip legalitas, akuntabilitas, transparansi, dan non-diskriminatif.

Sugiyanto, membahas implementasi AI dalam manajemen pendidikan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas. “Kalau mau sukses ya harus peka terhadap perkembangan era. Kalau sekarang era AI ya harus kuasai AI,” imbuh Sugi.

Devina Melinawati, SPd, MPd menyoroti kesiapan pendidik menghadapi transformasi digital dalam pembelajaran abad ke-21. Dari pihak UniSZA, hadir pula Dr Wan Nur Izzati Wan Nor Anas dan Fakhratu Naimah Muhad, yang memaparkan kajian etika dan kesetaraan gender dalam penerapan AI di pendidikan tinggi.

Salah satu poin penting dari konferensi ini adalah pembahasan mengenai enam domain utama di mana AI dapat meningkatkan fungsi akademik, yakni pengembangan ide dan desain riset, pengembangan konten dan struktur akademik, kajian literatur dan sintesis pengetahuan, manajemen dan analisis data penelitian, penyuntingan, peninjauan, dan publikasi karya ilmiah dan komunikasi, diseminasi, dan kepatuhan etika akademik.

Keenam domain ini menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, tetapi mitra akademik yang dapat memperkuat produktivitas, kreativitas, dan kolaborasi ilmiah, asalkan dikelola secara etis dan berlandaskan hukum yang jelas.

Menutup acara, pihak UniSZA dan Staimas sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam bentuk riset kolaboratif, pertukaran akademik, dan pengembangan kurikulum berbasis digital ethics.

“Kolaborasi seperti ini bukan hanya memperkaya ilmu, tetapi juga memperkuat jalinan persaudaraan akademik antara Malaysia dan Indonesia,” tambah Assoc Prof Abdullah Ibrahim.

Melalui kegiatan ini, Staimas Wonogiri menegaskan komitmennya untuk menjadi kampus Islam unggul dan berdaya saing global, yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga berakar pada nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan keislaman. (Nadhiroh)

Komentar