Portalika.com [SOLO] – Tidak jelasnya pemberian royalti karya lagu ciptaan para musisi di Indonesia menjadikan para musisi di Tanah Air mengeluh. Bahkan salah seorang musisi papan atas Tanah Air pernah mendapat royalti karyanya dengan nominal tidak memadai karena hanya menerima Rp125.000 per tahun.
Tekait hal itu salah seorang musisi asal Kota Bengawan, Mr Jepank mempercayakan lagu-lagu karyanya ke aggregator sekaligus publisher dalam negeri yakni NextArt.id. “NextArt ini adalah aggregator dan publishing dalam negeri yang mempunyai sistem jelas,” ujar Mr Jepank kepada awak media di Karonssih Culinary Resto, Mangkubumen, Solo, Jateng kemarin malam.
Jepank yang nama aslinya Fahrurrozi ini memasukkan karya-karyanya ke NextArt.id karena merasa nyaman. Pelayanan dan respons yang dilakukan NextArt.id dinilai cepat tidak seperti beberapa aggregator lainnya.
Baca juga: Panggung Katabunyi 2024: Ekspresi Musik Dan Literasi Seni Di Teater Gendon Humardhani
Mantan gitaris pengiring penyanyi Didi Kempot almarhum ini mencontohkan, jika di aggregator lainnya kalau ada masalah meski dia sudah berkomunikasi lewat email namun harus menunggu balasan berhari-hari. Sedangkan di NextArt.id dia ketika memasukkan karyanya seperti yang dilakukan beberapa hari teakhir ini bisa langsung satu hari ditangani.
Hal lain yang membuat dia mempercayakan ke NextArt.id karena dia mengaku telah berteman baik dengan Chief Executive Officer (CEO) NextArt.id Distributor Musik Digital, Rio Zelly Rinaldo sudah lama.
Jepank mengungkapkan lagu-lagu karyanya masih banyak dimasukkan di aggregator lainnya di luar NextArt.id. Terkait itu jika habis masa kontraknya, ujar dia, seluruh karya tersebut akan ditarik dan dimasukkan ke NextArt.
“Dulu saya memasukkan ke beberapa aggregator itu karena saya dikasih kerjaan sehingga pekewuh. Aggregator-aggregator sebelah itu sudah baik dengan saya seperti bapak-ibu saya kandung,” ungkap Jepank.
NextArt Masuk Aggregator Dunia
Sementara itu founder NextArt.id, Rio Adiwardhana yang juga penyanyi ini mengatakan NexArt yang merupakan pendistribusi musik digital tentu akan memperhatikan pembagian royalti dengan jelas dan proporsional.
“Nanti akan dijelaskan royalti, sistem yang digunakan yang mungkin hal ini jarang dibuka oleh aggregator lain,” ujar dia.
Penyanyi beraliran acid jazz dengan album berjudul Sisi lain berisi lima buah lagu ini mengatakan, dengan adanya sistem di NextArt.id sangat terbuka. Dengan demikian semua orang bisa mengakses, semua orang bisa melihat hasil karya musiknya itu mendapatkan berapa dan dari mana saja.
Dia menjelaskan di dunia ada 153 platform aggregator yang bergerak di bidang distribusi musik digital seperti NextArt yang banyak dimanfaatkan para musisi. Di bagian lain RZ Rinaldo menerangkan NextArt.id yang telah berdiri empat tahun adalah sebuah perusahaan aggregator yang bergerak di bidang distribusi musik digital. Apapun yang berbentuk karya cipta atas nama audio bisa didaftarkan lewat NextArt.id.
Ini dimaksudkan supaya karya cipta tersebut bisa didistribusikan di seluruh platform di digital streaming provider (DSP) seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music. TikTok Music, facebook dan sebagainya.
“Kita bekeja sama dengan sekitar 150-an platform itu seluruh dunia. Sehingga lagu-lagu kita masuk ke etalase mereka,” ujar dia.
Dari sekian lagu yang masuk ke etalase-etalase tersebut satu di antaranya bisa beredar ke seluruh pelosok dunia. Jadi tidak ada yang tahu jika lagu Pesona Solo karya Mr Jepank tiba-tiba didengarkan masyarakat di Irlandia, Eropa dan ini bisa didetek di dashboard atau di system NextArt.
Laki-laki asal Minang, Sumatra Barat ini mengklaim sistem yang dibangunnya ini bisa menghadilkan passive incoma. Hasil royalty para musisi yang telah dipublish pun akan bisa dilihat secara tranparan tidak seperti nasib para musisi Indonesia saat ini yang kesulitan mengurus royalti mereka.
Hanya Dapat Royaltinya Rp125.000
Belum lama ini, ujar dia, gitaris musik band Padi, Piyu yang juga sebagai Ketua Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) dapat royalti Rp125.000 per tahun.
Terus komposer lagu Kemesraan yang sering dinyayikan di berbagai acara seperti saat perpisahan atau arisan ibu-ibu di kantor-kantor dari Sabang sampai Merauke hanya mendapat Rp300.000 per tahun.
“Ini ngenes! Ternyata penyebabnya lagu kemesraan yang sering dinyanyikan orang-orang se-Indonesia dalam bentuk fisik bukan dalam bentuk digital. Lain halnya jika lagu itu dinyanyikan dalam bentuk digital lewat youtube menggunakan gitar, kincringan-kincringan, sehingga lagu ini menghasilkan sesuatu yang besar,” kata Rinaldo.
Dia yang mengajar musik piano ini menjelaskan tujuan utama platform ini untuk membangun para musisi khususnya pencipta lagu agar mendapatkan royalty sesuai porsi hak yang seharusnya didapatkan. Karena itu dia mengajak para musisi, composer, pencipta lagu untuk mendistribusikan karya mereka agar mendapatkan royalty sesuai hak mereka.
Sebab dengan teknologi yang digunakannya NextArt karya mereka diklaim bisa tersebar di lebih dari 150-an platform digital seluruh dunia.Untuk itu sejak bediri Juli 2021 NexArt membuka pintu bagi para musisi dari berbagai daerah untuk memasukkan karyanya.
Dia berharap NexArt bisa menjadi peluang bagi para musisi daerah yang sering kesulitan mendapatkan akses untuk mengenalkan karya mereka di kancah nasional maupun intenasional. (Iskandar)












Komentar