Portalika.com [KARANGANYAR] – Ketua Umum National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun menekankan, agar para atlet disabilitas Indonesia bermental baja, dan tidak mudah menyerah saat bertarung di berbagai kejuaraan.
Apalagi saat ini pemerintah telah membangun Paralympic Training Center di Delingan, Karanganyar, Jateng sehingga bisa dimanfaatkan untuk menempa diri.
“Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya di seluruh penjuru Nusantara, jangan suka dikasihani, jangan suka dinomorsatukan karena kamu cacat. Tidak boleh seperti itu. Ini cacat pemberian dari Tuhan, ini talenta. Jangan susah, jangan anggap ini menyedihkan,” ujar dia saat memberi sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) NPC Indonesia di Hotel Lor In, Colomadu, Karanganyar belum lama ini.
Hadir pada acara malam itu di antaranya Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga (Deputi IV) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Surono, mewakili Menpora, Erick Thohir; Chef de Mission Kontingen Indonesia untuk Asian Para Games Nagoya 2026, Reda Manthovani dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Menurut Senny, orang tua yang telah mengandung selama sembilan bulan dengan sudah payah harus dihormati. ”Ingat selalu kata-kata yang sering saya katakan, bahwa jangan pernah hitung apa yang hilang dari tubuhmu, tapi hitung yang masih tersisa,” katanya berapi-api disambut tepuk tangan sejumlah tamu undangan.
Dia berharap apa yang selama ini dilakukan para atlet disabilitas bisa ikut berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat karakter bangsa melalui nilai sportivitas, serta membawa nama Indonesia ke panggung dunia melalui prestasi atlet paralympic.
Karena itu melalui forum Rakernas ini Senny mengajak semua pihak untuk menyatukan visi dan makna dalam transformasi olahraga disabilitas. Menghadirkan inovasi dalam membina dan kompetisi, serta memastikan bahwa inklusi benar-benar terwujud bukan hanya dalam kebijakan, tapi dalam praktik nyata di lapangan.
Mendobrak Batas
Lebih lanjut Senny mengungkapkan, sekarang ini pemerintah membuka luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi, berprestasi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Lebih dari itu olahraga menjadi sarana untuk menghapus stigma, membangun kepercayaan diri serta menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang sama.
“Tanggung jawab kami tidak hanya mencetak prestasi, tapi juga menghadirkan sistem yang inklusif yang adil dan berkelanjutan di seluruh daerah. Seperti yang telah kami lakukan yaitu menganalisa program mendobrak batas,” kata dia.
Tidak main-main, papar dia, dengan program ini satu provinsi diberi dana Rp1 juta. Dengan demikian mereka yang berada di suatu daerah, bisa melakukkan hal sama dengan yang dilakukan para pendahulu mereka di daerah lain.
“Saya ingin semua orang cacat di Indonesia maju, tidak terkecuali. Semuanya! Karena kita butuh bibit-bibit muda potensial dari daerah. Karena daerahlah yang mempunyai bibit, bukan NPC Pusat. NPC Pusat itu hanya membimbing, mengasah, mengajak bertanding ke luar negeri,” tegas Senny.
Dengan demikian prestasi Indonesia ke depan diharapkan bisa lebih baik. Apalagi adanya Olympic Training Camp Center di Delingan, Karanganyar, Jateng yang tentu akan membantu perkembangan atlet ke depan.
Banyak Manfaat
Sementara itu Reda Manthovani mengatakan pihaknya bersemangat membantu kemajuan olahraga disabilitas Indonesia. Karena dia mengaku telah melihat langsung semangat para atlet dalam berjuang membawa nama harum Negara Indonesia.
Menurut dia meski para atlet disabilitas mempunyai kekurangan tertentu, di sisi lain juga mempunyai banyak kelebihan. “Dari kenyataan itu saya menjadi sangat tertarik untuk membantu atau meramaikan pesta pertarungan para atlet disabilitas ini. Mulai dari Prancis, Thailand dan nanti di Nagoya [Jepang],” kata dia.
Dia menjelaskan pembinaan atlet disabilitas mempunyai banyak manfaat. Bukan hanya manfaat untuk penyandang disabilitas, tapi setidaknya bagi dirinya bisa membentuk diri menjadi karakter yang humanis. Karena itu dia meminta para Kajari, Kasi di daerah Solo Raya agar membantu dan turun langsung ke lapangan.
Sedangkan Deputi IV Kemenpora, Surono berharap Rakernas ini bisa menghasilkan suatu kebijakan dari NPC Indonesia. Khususnya program kegiatan strategis untuk pelatihan, kompetisi serta peningkatan mutu tenaga keolahragaan dan tenaga sarana prasarana,” ucap Surono.
Dia juga ikut mengusulkan agar salah satu hal yang perlu dibahas adalah persiapan menuju Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVIII 2028. Rencananya event itu digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk itu dia menekankan pentingnya koordinasi dengan tuan rumah. Terutama saat pembangunan sarana dan prasarana yang wajib dilengkapi akses ramah difabel.
“Mudah-mudah jika hal itu dimitigasi sejak jauh-jauh hari. Tuan rumah NTT dan NTB bisa memberikan yang terbaik, khususnya kepada para atlet yang membutuhkan akses penyandang disabilitas,” tegas Surono. (Iskandar)












Komentar