Portalika.com [KLATEN] – Pondok Pesantren Baitul Sholihin di Desa Jemawan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, menjadi saksi kegiatan literasi keuangan bagi pelajar yang digelar pada 26 Juli 2025. Kegiatan ini, yang diprakarsai oleh mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, bertujuan mengajarkan santri cara mengelola uang saku secara efektif.
Dengan pendekatan sederhana namun praktis, pelajar diajak memahami pentingnya perencanaan keuangan, prioritas pengeluaran, dan kebiasaan menabung untuk masa depan. “Literasi keuangan adalah kunci kemandirian bagi santri. Dengan pengelolaan uang saku yang baik, mereka bisa belajar tanggung jawab sejak dini,” ujar Nabila Nur Istiqomah, penulis sekaligus koordinator kegiatan.
Menurutnya, banyak santri menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan karena minimnya pengetahuan tentang perencanaan dan pengaruh lingkungan sosial. Tantangan utama yang dihadapi pelajar di pesantren adalah kurangnya perencanaan pengeluaran. Banyak santri cenderung menghabiskan uang saku untuk kebutuhan sekunder, seperti camilan atau hiburan, tanpa memikirkan kebutuhan pokok. Selain itu, pengaruh teman sebaya sering mendorong pembelian impulsif, sehingga uang saku sering habis sebelum waktunya.
Minimnya kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran juga menjadi hambatan dalam pengendalian keuangan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, kegiatan literasi keuangan ini memperkenalkan langkah-langkah praktis. Santri diajarkan membuat anggaran mingguan atau bulanan dengan mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok, seperti alat tulis dan kebersihan, serta menyisihkan 10–20% untuk tabungan. “Prinsipnya sederhana: kebutuhan didahulukan, keinginan ditunda.
Dengan mencatat setiap pengeluaran, santri bisa melihat ke mana uang mereka pergi,” tambah Nabila. Selain itu, santri diajak memahami pentingnya menghindari pemborosan. Salah satu caranya adalah memanfaatkan fasilitas pesantren, seperti dapur umum, untuk mengurangi pengeluaran pribadi. Alternatif lain adalah membeli barang secara patungan bersama teman untuk mendapatkan harga lebih hemat.
Langkah ini terbukti efektif dalam membangun kebiasaan hidup hemat tanpa mengorbankan kebutuhan esensial. Manfaat literasi keuangan ini tidak hanya terasa dalam jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Dengan pengelolaan yang baik, santri dapat memastikan uang saku mereka cukup hingga akhir bulan, mengurangi stres akibat kekurangan dana.
Lebih dari itu, kebiasaan ini membantu membentuk karakter hemat, mandiri, dan bertanggung jawab, yang akan menjadi bekal berharga saat mereka terjun ke masyarakat. “Melalui kegiatan ini, kami berharap santri tidak hanya belajar mengelola uang, tetapi juga membangun mindset keuangan yang sehat untuk masa depan,” tutup Nabila.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pengurus pesantren dan menjadi inspirasi bagi pelajar untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka.
Penulis: Nabila Nur Istiqomah, mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta












Komentar