Portalika.com [WONOGIRI] – Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Playen, Gunungkidul, DIY menggelar aksi nyata di Wonogiri. Kolaborasi lintas institusi ini menghadirkan pelatihan pembuatan olahan pangan bergizi bebas gluten yang aman bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Siaran pers dari Unisri belum lama ini menyebutkan, kegiatan yang berlangsung edukatif ini diikuti oleh 52 anggota Paguyuban Forum Jatigiri “Pejuang Buah Hati Wonogiri”. Komunitas ini merupakan wadah berkumpulnya para orang tua (Ortu) dari Anak Dengan Disabilitas (ADD) sensorik, fisik, intelektual, maupun mental di wilayah Wonogiri.
Sebagai informasi, Forum Jatigiri didirikan pada 8 Desember 2018 oleh dr Celli Septiana. Hingga saat ini, komunitas tersebut telah merangkul 80 anggota dengan fokus utama saling menguatkan serta memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas beserta keluarganya.
Pelatihan ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan mendesak saat ini, khususnya dalam meningkatkan kesadaran gizi khusus bagi anak dengan disabilitas. Anak dengan kondisi tertentu, seperti autisme (ASD), dikenal sangat sensitif terhadap konsumsi Monosodium Glutamat (MSG), pewarna buatan, pengawet, hingga perisa atau Bahan Tambahan Pangan (BTP).
Dua narasumber utama dari BRIN Playen, Prof Dr Ir Titiek F Djafaar, MP dan Dr Ir Tri Marwati, MP terjun langsung mempraktikkan cara membuat cookies dan nugget tinggi protein yang sehat tanpa bahan pengawet.
Kebaruan (novelty) dari pelatihan ini terletak pada teknik pengolahan makanan agar tetap lezat, bergizi tinggi, dan tahan lama secara alami. Bahan baku utama yang diadopsi adalah mocaf (tepung fermentasi singkong) yang secara alami bebas gluten (gluten-free) sehingga sangat aman untuk saluran pencernaan anak disabilitas.
“Anak dengan disabilitas seperti autisme relatif sensitif terhadap bahan pangan tertentu. Bahan pangan yang mengandung gluten dapat menyebabkan luka pada saluran pencernaan, yang kemudian berdampak pada kesehatan mental mereka. Karena itu, kami mendorong penggunaan bahan organik, bebas pestisida, bebas antibiotik, rendah gula, rendah MSG, dan wajib bebas gluten,” jelas Dr Ir Tri Marwati, MP.
Komitmen Unisri
Ketua Tim Pengabdian dari Fakultas Sains dan Teknologi Unisri Solo, Dr Akhmad Mustofa, STP, MSi, menegaskan agenda ini merupakan bagian dari kewajiban tahunan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Selain menjalankan misi sosial, program pengabdian masyarakat ini turut berkontribusi langsung pada pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 perguruan tinggi, yakni berupa luaran hasil kerja sama serta hilirisasi hasil penelitian, khususnya dari Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan Unisri.
“Harapan besar kami, ilmu praktis yang dibagikan oleh tim BRIN dan Unisri ini bisa langsung dipraktikkan oleh para orang tua di rumah masing-masing demi menjaga tumbuh kembang anak,” ujar Akhmad Mustofa.
Dukungan serupa disampaikan oleh Psikolog sekaligus Terapis Forum Jatigiri, Wuri Rahmawati. Ia menambahkan pola diet khusus yang rendah gula, rendah MSG, dan bebas gluten memang menjadi kebutuhan mutlak bagi anak dengan disabilitas. Selain olahan tepung mocaf, konsumsi buah-buahan segar, yogurt, dan bahan pangan tinggi protein sangat direkomendasikan.
Kemandirian Gizi Komunitas Difabel Wonogiri
Melalui momentum ini, pengurus Forum Jatigiri berharap jalinan sinergi bersama Unisri Solo dan BRIN tidak berhenti sampai di sini. Komunitas berharap ada program lanjutan yang berkelanjutan demi memberdayakan potensi ekonomi sekaligus mendongkrak kemandirian orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi khusus buah hati mereka.
Melalui program kolaborasi strategis ini, Unisri dan BRIN menegaskan komitmen kuatnya untuk terus menghadirkan riset dan pengabdian masyarakat yang solutif. Langkah nyata ini diharapkan mampu berpihak pada kelompok rentan sekaligus mendukung pemenuhan hak gizi anak berkebutuhan khusus, khususnya di Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. (Iskandar)












Komentar