Portalika.com [KLATEN] – Salah satu mahasiswa Kelompok 97 KKN PPM program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Unisri Surakarta, Rofi’ Hani Hangganingtyas melaksanakan program kerja di SDN 1 Sorogaten, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Kamis, 30 Juli 2025.
Bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi pada pengabdian masyarakat yaitu mengimplementasikan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini Kelompok 97 KKN PPM Unisri melaksanakan pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan sasaran siswa kelas V SDN 1 Sorogaten, Klaten.
Profil Pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil Pelajar Pancasila berperan sebagai referensi utama yang mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan termasuk menjadi acuan untuk para pendidik dalam membangun karakter serta kompetensi peserta didik.
Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Adapun tema P5 terdapat enam, yaitu: gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, Bhineka Tunggal Ika, bangunlah jiwa dan raganya, rekayasa dan teknologi, dan kewirausahaan.
Rofi’ Hani Hangganingtyas mengambil tema P5, kearifan lokal. Kearifan lokal adalah pengetahuan, nilai-nilai, praktik, dan tradisi yang berkembang dalam suatu masyarakat lokal dan diwariskan secara turun-temurun.
Kearifan lokal ini menjadi pedoman hidup bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah, menjaga kelestarian lingkungan, dan membangun identitas budaya. Kearifan lokal, yang juga sering disebut sebagai local wisdom atau local genius, merupakan kumpulan pengetahuan, kepercayaan, pemahaman, dan praktik yang telah dikembangkan oleh suatu komunitas atau masyarakat selama berabad-abad.
Kearifan lokal ini terbentuk dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosial mereka. Menurut Rofi’, akhir-akhir ini, banyak masyarakat terutama siswa Sekolah Dasar yang belum mengenal lebih tentang nama-nama motif batik beserta asal daerahnya.
Maka dari itu, kegiatan pembelajaran ini dirancang oleh mahasiswa PGSD FKIP Unisri, Rofi’ Hani Hangganingtyas untuk mengenalkan dengan contoh 10 motif batik yang ada di Indonesia dengan asal usul daerahnya dengan pelajaran dari pengertian batik, cara membuat batik, hari batik, serta kapan sebaiknya batik digunakan dalam acara-acara tertentu.
Siswa kelas V belajar bersama mengenai motif batik bersama Rofi’ Hani Hangganingtyas kemudian dilanjutkan praktek eksperimen pewarnaan motif batik dengan larutan asam dan basa. Pembelajaran dilaksanakan selama satu hari, pada hari Rabu, 30 Juli 2025.
Bukan hanya siswa kelas V yang mempraktekkan, namun mahasiswa anggota Kelompok 97 KKN PPM Unisri 2025 juga ikut serta dalam eksperimen pewarnaan motif batik dari bahan asam dan basa tersebut.
Dengan cara itu, tidak hanya kelas V saja yang dapat melestarikan lingkungan, namun diharapkan seluruh warga sekolah SDN 1 Sorogaten ikut serta terlibat.
Praktek eksperimen mewarnai motif batik dengan larutan asam dan basa dengan alat dan bahan, yaitu kertas sketsa 10 motif batik, cuttonbud, cup plastik kecil, kunyit bubuk, deterjen bubuk, cairan cuka, air mineral, dan kapas.
Cara pembuatannya, yaitu pilih dulu motif batik sesuai keinginan, menyiapkan cairan larutan basa yaitu di cup pertama campurkan kunyit bubuk dengan air lalu di cup kedua campurkan deterjen bubuk dengan air lalu aduk dengan cuttoncud, menyiapkan cairan larutan asam yaitu tuangkan cairan cuka di cup ketiga, oleskan larutan kunyit ke seluruh kertas motif batik dengan menggunakan kapas secara hati-hati agar rapi dan supaya kertas tidak sobek karena basah.
Kemudian oleskan larutan deterjen ke motif batik yang diinginkan menggunakan cuttonbud, lalu akan keluar warna merah, apabila warna merah dari cairan detergen keluar garis, bisa dihapus dengan cairan cuka dan terakhir, keringkan kertas yang sudah diberi warna dengan menjemurnya di bawah sinar matahari langsung.
Peserta didik kelas V berhasil bereksperimen mewarnai motif batik dengan larutan asam dan basa dengan pembelajaran yang menyenangkan. Peserta didik dan mahasiswa KKN PPM Kelompok 97 bangga terhadap hasil karya yang telah dibuat. Melalui P5, sebuah program yang mencakup projek kearifan lokal, diharapkan peserta didik dapat memahami cara melestarikan warisan budaya yaitu batik dengan bangga menggunakan pakaian berbatik.
Lebih luas lagi, peserta didik dapat menjadi agen perubahan untuk pelestarian kearifan lokal dan mampu menghadapi tantangan abad ke-21. (*)
Penulis: Rofi’ Hani Hangganingtyas, mahasiswa PGSD FKIP Unisri Surakarta
Editor: Suryono












Komentar