Portalika.com [SOLO] – Mahasiswa pecinta alam (Mapala) Arcapada Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta melepas 10 anggota muda Atma Adhimukti melakukan ekspedisi spesialisasi. Nantinya 10 orang tersebut terbagi menjadi 3 divisi yaitu Rock Climbing, Caving (Susur Goa) dan Gunung Hutan.
Dari Divisi Caving melakukan penelusuran gua di kawasan karst yang berada di kota Tuban. Kegiatan tersebut berlangsung selama 10 hari terhitung sejak tanggal 19 hingga 28 Juni 2024. Tim Ekspedisi spesialisasi caving berjumlah 6 anggota yaitu 4 Anggota muda dan 2 pendamping.
Anggota muda terdiri dari Galang Adiwijaya, 19, Mawardi Gresik Kusuma Ardi, 21, Isabel Balqis Al Mansyur, 19, Gita Dwi Ramadani, 19 serta 2 pendamping yaitu Elia Dwi wahyuno, 23, Agil Haryo Saputro, 21.
Baca juga: Peserta Ekspedisi Spesialisasi Mapala Arcapada Unisri Solo Membelah Pulau Bali
Ketua pelaksana ekspedisi spesialisasi caving, Galang Adiwijaya memaparkan tujuan dari kegiatan ini untuk pengimplementasian dan pemantapan materi susur gua serta ekso budaya untuk mempelajari budaya sekitar, sebagai bentuk serangkaian pendidikan anggota muda Mapala Arcapada.
“Kegiatan pertama kami melakukan Ekso Gua untuk survei sekaligus mendata goa yang terdapat di sana. Setelah selesai ekso selama 2 hari, di hari berikutnya kami melakukan penerapan materi [Teknik Penelusuran Goa Horizontal [TPGH] yang berupa pemetaan di Goa Temugiring dengan grade 3C. Kami berhasil memetakan Gua Temugiring sepanjang 226 meter,” ujarnya.
Asal Usul Goa Temugiring
Dia bercerita konon katanya Goa Temugiring memiliki arti nama yang berasal dari dua kata yaitu temu dan juga giring, temu di ambil dari tumbuhan temulawak yang dulunya banyak hidup di sekitar goa, dan giring berasal dari kata miring karena letak dari gua tersebut yang berada di tempat yang miring. Biota yang terdapat di dalam goa Temugiring, yakni kelelawar, ular, katak, jangkrik, semut dan ulat.
Selanjutnya kami menerapkan materi Teknik Penelusuran Goa Vertikal (TPGV) yang bertempatan di Goa User dan Luweng Wareng. Goa User terletak di dekat perkebunan jagung dan cabai. Gua User terbagi menjadi dua yaitu user 1 dan user 2 yang memiliki entrence yang bersampingan.
User 1 mempunyai 4 pitc dan User 2 memiliki 1 pitch (single pitch). “Pertama kami menelusuri Goa User 1, dari interence ke pitch 1goa user 1 memiliki kedalaman 3,5 meter. Setelah di pitch 1 terdapat 2 jalur sebeah kiri dan kanan dan kami memilih jalur kanan, dari pitch 1 ke pitch 2 memiliki kedalaman 8 meter, pitch 2 ke pitch 3 memiliki kedalaman 5,23 meter, dan yang terakhir pitch 3 ke pitch 4 yang memiliki kedalaman 3,67 meter dan selanjutnya hanya ada lorong horizontal yang berair,” jelasnya.
Setelah tiba di lorong horizontal, tim melanjutkan dengan mengeksplor Goa User 1. “Kami menjumpai air terjun di dalamnya. Didalam Goa User 1 hanya terdapat ornamen mati, dan kondisi dari keseluruhan lorong terbilang cukup besar. Saat memasuki goa kami juga menemukan kerangka manusia di antara pitch 3 dan pitch 4, berupa tengkorak dan 2 tulang kaki atau tangan. Untuk Biota yang terdapat di goa user 1 yaitu ular, kepiting, udang, lele, belut, dan kelelawar,” katanya.
Menurut pengakuan dari warga sekitar Goa User di sebut User karena goa tersebut menjadi tempat berlabuhnya air dan membentuk sebuah pusaran “muser” yang dipengaruhi oleh letak dari goa tersebut yang berada di pusat depresi, sehingga warga sekitar yang melihatnya memberikan sebutan Gua User.
Penelusuran selanjutnya di Goa User 2 yang memiliki 1 pitch (single pitch) dengan kedalaman 27 meter, setelah itu terdapat lorong horizontal. “Kita melewati lorong yang sangat sempit yang hanya muat 1 orang saja sehingga cukup sulit untuk melewatinya jika tidak berhati hati. Di dalam gua user 1 hanya terdapat ornamen mati berupa stalaktit, dan kondisi didalam lorong horizontalnya cukup berlumpur dan terdapat air tetapi tidak sampai membentuk aliran air.”
Biota yang terdapat di goa User 2 yaitu udang dan kelelawar. “Kami tidak hanya melakukan eksplor tetapi juga melakukan pengimplementasian materi vertical rescue dengan metode counter weight dan menggunakan instalasi system “M”. Setelah selesai melakukan penerapan materi TPGV di Gua User kami berpindah tempat menuju ke Luweng Wareng untuk kembali melakukan penerapan materi TPGV dan Vertical Rescue yaitu Self Rescue hingga terbenamnya matahari. Luweng wareng merupakan salah satu lubang raksasa yang terdapat hutan didalamnya,” jelasnya. (Heris)












Komentar