Portalika.com [SURAKARTA] -Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, menegaskan Pancasila bukan sekadar teks dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan jiwa, fondasi, dan kompas perjalanan bangsa Indonesia di tengah tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, dan perubahan sosial yang terus berkembang.
Menurut Astrid di acara seminar FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis, 5 Februari 2026, perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai benteng pembentukan karakter dan agen pembudayaan nilai-nilai kebangsaan, terutama bagi generasi muda.
Astrid juga menekankan pentingnya pendidikan sejarah dalam membangun pemahaman Pancasila secara kontekstual. Ia menilai sejarah Pancasila bukan narasi masa lalu yang usang, melainkan proses hidup yang harus dipahami secara kritis dan reflektif.
“Melalui pendekatan sejarah, Pancasila dapat dipahami sebagai kesadaran ideologis yang hidup dan relevan dalam setiap tindakan,” ujar Astrid.
Kegiatan seminar diikuti mahasiswa UNS dan dihadiri Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Seminar nasional dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BPIP dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI).
Kerja sama ini bertujuan memperkuat pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan sejarah di perguruan tinggi.
Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyampaikan Indonesia merupakan bangsa dengan sejarah yang besar dan panjang. Ia menegaskan bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi momen paling penting dan menentukan dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Proklamasi adalah peristiwa besar yang menandai keberhasilan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan setelah perjuangan panjang,” kata Yudian.
Melalui seminar nasional ini, para peserta diharapkan dapat memperkuat pemahaman historis dan konseptual tentang Pancasila, sekaligus mengonsolidasikan peran pendidikan sejarah dalam membentuk karakter generasi muda. Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara pembuat kebijakan dan kalangan akademik untuk merumuskan langkah kolaboratif yang berkelanjutan dalam penguatan ideologi Pancasila. (Ariyanto)












Komentar