Portalika.com [WONOGIRI] – Mahasiswa KPM Kolaborasi Beragama di Desa Gedongrejo, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri mendapat pengalaman berharga saat mengikuti kegiatan arisan rukun manunggal, sebuah paguyuban warga lintas agama yang telah eksis sejak tahun 1972.
Arisan yang kini beranggotakan 13 orang ini bukan sekadar ajang berkumpul, namun menjadi ruang hidupnya nilai-nilai toleransi, gotong royong dan persaudaraan antarumat beragama.
Uniknya, arisan ini bersifat tetap atau tidak berputar dan memiliki sejarah menarik. Pada masa awalnya, arisan ini bahkan menggunakan uang emas sebagai bentuk iuran.
“Arisan ini sudah seperti keluarga, beda keyakinan itu biasa yang penting kita tetap saling peduli” tutur Giman, Ketua Arisan.
Sebagai ketua dan tokoh senior, Giman dianggap sebagai penjaga semangat paguyuban ini. Dia menjaga keberlanjutan kegiatan yang diikuti oleh warga beragama Islam, Katholik dan Budha, sebuah komposisi unik yang mencerminkan kerukunan nyata ditengah perbedaan.
Salah satu tokoh yang mencuri perhatian mahasiswa adalah Mbah Pitung, sosok sepuh yang meski sudah lanjut usia tetap antusias mengikuti setiap pertemuan. Semangatnya menjadi teladan bagi generasi muda dalam menjaga kebersamaan.
Mahasiswa KPM, Hanna Iffadatul Khoiriyah merasa terinspirasi oleh suasana akrab yang terbangun dalam kegiatan tersebut. Bagi mahasiswa, kata dia, ini bukan hanya kegiatan rutin warga, tapi juga bentuk nyata moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui partisipasi dalam arisan rukun manunggal, mahasiswa KPM Kolaborasi Moderasi Beragama tidak hanya hadir sebagai pengabdi, tetapi juga sebagai pembelajar. Mereka menyaksikan langsung bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang tumbuh dari niat baik dan kebersamaan. (*)
Penulis: Rhizma Aurezia
Editor: Triantotus












Komentar