Setyawan Pamer 12 Karya Baru, Tanaman Liar, Kompos Dan Lempung Jadi Bahan Baku

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Beberapa perupa meyakini karya seni adalah ciptaan artistik atau benda estetik. Material atau bahan yang digunakan pun beragam.

Bahkan tak jarang benda yang oleh masyarakat luas sering kali tidak terpikirkan untuk dijadikan bahan baku karya seni, di tangan orang yang kreatif bisa dimanfaatkan maksimal menjadi barang bernilai.

banner 300x250

Hal ini bisa disaksikan pada pameran tunggal karya Albert Yonathan Setyawan di Museum Tumurun kawasan Sriwedari, Laweyan, Solo, Jateng.

Baca juga: Prodi S-1 Seni Murni FSRD UNS Selenggarakan Pameran Bertajuk Ecohibition

Perupa kelahiran Bandung, Jabar 1983 ini saat pembukaan di Museum Tumurun, Jumat 7 Juni 2024 sore mengatakan siap menggelar 12 karya baru yang unik mulai 8 Juni 2024 sampai 12 Januari 2025 dengan berbagai bahan baku yang banyak didapati di alam sekitar. Dari 12 karya baru yang dipamerkan terdiri atas 9 karya sebagai sebuah set instalasi.

Karya seni itu, ungkap dia, terbuat dari tanah liat mentah (lempung), tanah kompos, benih, tanaman, dan bahan organik lainnya. Selain itu juga ada tiga karya instalasi keramik (terakota) lainnya.

Pameran tersebut digelar menyusul pameran survei di Museum Nasional Jogja (JNM) tahun lalu yang berjudul Capturing Silence dan kini dia kembali hadir dengan proyek terbarunya untuk Tumurun Museum berjudul Transitory Nature of Earthly Joy.

Perupa Albert Yonathan Setyawan (kanan) dan Pendiri Museum Tumurun, Iwan Kurniawan Lukminto menerangkan salah satu karyanya saat memberi keterangan kepada awak media pada pembukaan pameran di Museum Tumurun kawasan Sriwedari, Laweyan, Solo, Jateng, Jumat 7 Juni 2024. (Portalika.com/Iskandar)

“Judul ini diambil dari salah satu karya yang pernah dipamerkan, yang berfokus pada gagasan tentang transisi, transformasi, ketidakkekalan, dan materialitas tanah liat,” kata perupa jebolan Magister Seni Rupa (Seni Keramik) Institut Teknologi Bandung tahun 2012 yang menyelesaikan gelar doktor (S3) di Kyoto Seka University, Jepang tersebut.

Menurut dia judul pameran ini mengacu pada gagasan tentang bentuk yang secara bertahap diubah oleh kondisi alam. Kondisi tersebut pada akhirnya mengubah wujud dari keadaan awal menjadi sesuatu yang kurang permanen dan tidak dapat diprediksi.

Sifat karya yang selalu berubah, terutama instalasi yang terbuat dari tanah liat mentah dan bahan organik, secara perlahan memunculkan kesan ketidakkekalan.

Sifatnya yang fana dan sementara diyakini seniman sebagai kebalikan dari salah satu kualitas yang dicari dalam pembuatan keramik, yaitu untuk mencapai kualitas bahan yang ‘permanen’, baik untuk tujuan teknis maupun estetika.

Salah satu karya perupa Albert Yonathan Setyawan yang dipamerkan di Museum Tumurun kawasan Sriwedari, Laweyan, Solo, Jateng, Jumat 7 Juni 2024. (Portalika.com/Iskandar)

Setyawan yang saat ini tinggal dan berkarya di Tokyo, Jepang itu mengatakan proyek ini dimulai tahun 2016 ketika dia mulai bereksperimen dengan menanam benih di dalam tanah liat mentah yang belum dibakar dengan menambahkan tanah kompos dan bahan organik lainnya.

Meski tidak dalam kondisi alamiahnya, beberapa benih bertunas dan tumbuh besar sehingga mengubah bentuk objek.
Kondisi ini membuat dirinya terkagum dengan hasil yang tidak dapat diprediksi tersebut.

Hal ini juga bisa menjadi cerminan dari ketegangan yang dialami banyak seniman mono-material dalam berinteraksi dengan medium mereka.

Dikoleksi Di Beberapa Negara
Karena itu dia ingin mengurangi keterlibatannya dan meminimalkan kendalinya atas bentuk akhir karyanya.

Nyatanya, akan sulit untuk menentukan keadaan final karya instalasi tersebut, karena sebagian benih dan tanaman mungkin akan terus tumbuh dan terus berubah bentuk.

Sejumlah pengujung pameran melihat hasil karya perupa asal Bandung Albert Yonathan Setyawan yang memamerkan karya-karyanya di Museum Tumurun kawasan Sriwedari, Laweyan, Solo, Jateng, Jumat 7 Juni 2024. (Portalika.com/Iskandar)

Perupa yang dalam biografinya menyebutkan karyanya dikoleksi beberapa museum dan galeri di berbagai negara di Australia, Jepang, Singapura dan sebagainya itu mengatakan, sebagian yang lain mungkin akan mati dan membusuk, sehingga kondisi objek akan berubah secara bertahap selama pameran yang akan berlangsung selama enam bulan.

Dia mengakui objek-objek karyanya merupakan replika dari benda-benda yang berkaitan dengan praktik mendirikan altar yang biasa ditemukan di kuil atau candi Budha.

Beberapa di antaranya merupakan replika guci yang biasa digunakan untuk menyimpan abu jenazah setelah proses kremasi. Setyawan memilih benda-benda tersebut karena mereka melambangkan kepercayaan akan akhirat.

“Benda-benda yang biasanya dibuat agar tahan lama ini pada umumnya diyakini mewakili hubungan antara dunia kita dan dunia nenek moyang atau ruh. Di karya ini, mereka disandingkan dengan menggunakan bahan-bahan yang tidak akan bertahan lama dan yang akan terus berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu judulnya Transitory Nature of Earthly Joy. Pameran ini merupakan bentuk refleksi puitis tentang hakikat keberadaan manusia melalui eksplorasi materialitas tanah liat,” ujar Setyawan.

Di bagian lain Pendiri Museum Tumurun, Iwan Kurniawan Lukminto mempersilakan para awak media yang akan datang lagi melihat progres pameran. Objek karya seni ini dinilai cukup menarik karena akan selalu berubah bentuk.

“Seperti disampaikan senimannya tadi bahwa apa yang dipamerkan ini akan selalu berubah. Untuk itu teman-teman media yang belum melihat atau yang baru melihat sekali tapi belum cukup silakan datang lagi melihat progres perubahan karya seni. Karena karya ini akan selalu berubah bentuk dan nantinya seperti apa tidak ada yang tahu,” kata dia kepada para awak media termasuk Portalika.com yang didapuk menjadi salah satu media partner pameran ini. (Iskandar)

Komentar