Melalui Program PKM DPPM Risbang KEMDIKTISAINTEK, Tim UNS Gelar Pelatihan Pengrajin Bambu Kraosan di Borobudur

banner 468x60

Portalika.com [MAGELANG] – Tim dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui skema Program Pengabdian kepada Masyarakat 2025 Kemdiktisainstek menyelenggarakan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas produksi dan konsistensi mutu kerajinan bambu di Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu, 14 September 2025.

Kegiatan ini diikuti oleh 14 pengrajin aktif, sebagian besar di antaranya adalah ibu rumah tangga, yang selama ini menjadi tulang punggung produksi kerajinan bambu di desa tersebut.

banner 300x250

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya penguatan Kraosan, sebuah usaha sosial berbasis kerajinan bambu yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan rumah tangga. Kegiatan dilaksanakan dengan metode penyampaian materi, praktik langsung, dan diskusi interaktif. Materi yang diberikan mencakup manajemen kualitas produk, pengenalan potensi ekspor, serta pemanfaatan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan mutu produksi.

 

Dalam kegiatan ini turut hadir Biyp Mukhsen Assegaf, seorang praktisi berpengalaman di bidang kualitas produksi dan ekspor, yang memberikan wawasan serta pendampingan langsung kepada pengrajin.

Kehadirannya memberikan nilai tambah signifikan karena membuka perspektif pengrajin mengenai standar mutu internasional serta peluang ekspor yang dapat diakses melalui peningkatan kualitas produk.

Kegiatan ini dipandu oleh tim dosen UNS yang diketuai oleh Pram Suryanadi, S.E., M.Si., dengan anggota Dr. Catur Sugiarto dan Dr. Khresna Bayu Sangka.

Kehadiran para akademisi ini menunjukkan komitmen UNS dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, melalui transfer pengetahuan dan teknologi.

Ketua tim, Pram Suryanadi, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan mampu mendorong pengrajin Kraosan untuk lebih adaptif terhadap perkembangan pasar. “Melalui kegiatan ini, para pengrajin tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya standarisasi mutu dan strategi pemasaran, sehingga produk mereka dapat bersaing di pasar lokal, nasional, bahkan internasional,” ujarnya.

Para pengrajin menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengalaman baru dalam teknik produksi dan wawasan pengembangan usaha. Dengan dukungan akademisi dan praktisi, Kraosan diharapkan terus berkembang sebagai model usaha sosial yang berkontribusi pada pengentasan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi lokal di kawasan Borobudur. (Yulianto)

Komentar