Lewat Kekidungan Wengi, Andi Zate Sebut Angkringan adalah Sumber Inspirasi

banner 468x60

Portalika.com [SUKOHARJO] – Inspirasi menulis lagu bagi musisi senior asal Kartasura Andi Zate bisa datang dari mana saja, tak hanya tempat mewah dan megah namun angkringan sederhana yang banyak dikunjungi masyarakat juga bisa menjadi bahan bagi Andi Zate untuk berkarya.

Setelah merilis lagu bertema angkringan bersama penyanyi Dylla Fadylla beberapa waktu lalu, Andi Zate kembali menggarap lagu bertema sama namun dengan genre musik yang berbeda yakni Kekidungan. Menggandeng Widi Kocrit, vocalis group humor legend asal Kota Solo Pecas Ndahe, Andi mencoba menawarkan lagu baru berjudul Kekidungan Wengi bagi penggemar musik Kidung di tanah air.

banner 300x250

Andi Zate ketika ditemui redaksi di rumahnya di kawasan Soditan, Kartasura, Senin (23/9) mengatakan
Kekidungan Wengi atau kehidupan malam di daerah Jawa khususnya Solo-Jogja identik dengan wedangan atau angkringan, karena di tempat tersebut semua tersedia, keluh kesah, cerita tentang hidup, cerita tentang semua akan selesai di Angkringan atau mungkin akan berkurang beban dan bisa juga membuat sebuah konsep.

Melalui lagu Kekidungan Wengi dia ingin mendeskripsikan realita keseharian hidup seorang lelaki di tengah beratnya beban hidup yang harus dipikul.

“Lagu Kekidungan Wengi bercerita tentang keseharian seorang lelaki dengan beratnya beban hidup yang harus dipikul di pundak, jalan hidup berliku dan naik turun yang harus dilalui,” katanya.

Beban hidup tersebut lanjut Andi, bisa dituturkan dan diungkapkan melalui sebuah perasaan.

“Ada keinginan untuk saling bertutur dan bercerita, mengungkapkan isi perasaan masing-masing. Mereka merasa percaya satu sama lain hingga menjadi sebuah keadaan yang nyaman,” katanya.

Angkringan adalah media yang tepat bagi lelaki tersebut untuk memberi solusi dari berbagai beban hidup yang dia hadapi.

“Angkringan selalu terasa istimewa, meski pemilihannya tidak dicari dengan survey dan riset ilmiah. Angkringan atau wedangan adalah adalah tempat yang fleksibel, menyesuaikan suasana hati dalam kondisi apapun,” ulasnya.

Andi menambahkan berjuta cerita suka dan duka terangkum di Angkringan.

“Mengalir dan bahkan tanpa ending.
Beribu tema apapun akan cocok untuk tampil disana, mengikuti kata hati, bagi penulis cerita dan pemeran cerita.
Angkringan atau Wedangan akan selalu menjadi bank naskah dari cerita hidup anak manusia,” tegas Andi.

Lagu tersebut lanjut Andi menawarkan sesuatu hal yang baru bagi para penggemar lagu kidung, faktor Widi Kocrit adalah salah satunya.

“Kita tempatkan ada sesi humor, orang akan terjebak bahwa kidung identik dengan hal yang serius banget tiba-tiba tengahnya ada humornya,” jelasnya.

Andi berharap lagu tersebut akan menjadi brand baru. Ditegaskannya, bahwa lagu kidung tidak harus sakral, untuk itu dia menamakannya kekidungan.

“Proses pembuatan video klip sudah dieksekusi, klipnya dibantu oleh sejumlah personel Pecas Ndahe di Kedai Apresiasi Kiki Atrika. Relink Jaya Swara sudah menjadi brand kidung, otomatis ini menjadi tambahan jaringan penonton yang lain, penonton yang suka humor, penonton yang suka teater dan yang suka kehidupan malam,” imbuhnya.

Melalui lagu tersebut Andi juga membangkitkan serta menyuarakan potensi Angkringan atau Wedangan.

“Lagu ini akan memberi dampak ke penjual Angkringan, karena saat ini di setiap sudut kampung ada Angkringan bahkan jumlahnya tidak hanya satu,” tandasnya. (Yulianto)

Komentar