DP3AP2KB Solo Edukasi Publik soal Kekerasan Perempuan di CFD

DP3AP2KB Kota Surakarta bersama mahasiswa Unisri menggelar edukasi publik 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Upaya membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap isu kekerasan terhadap perempuan terus digencarkan oleh Pemerintah Kota Surakarta. Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Pemkot Surakarta menggelar kegiatan edukasi dan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (30/11/2025).

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, salah satunya Devina Safa, mahasiswa Program Studi Manajemen, yang turut berperan aktif dalam menyampaikan pesan-pesan edukatif kepada masyarakat. Kampanye ini menjadi bagian dari rangkaian global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diperingati setiap tahun sebagai momentum refleksi dan aksi bersama melawan segala bentuk kekerasan berbasis gender.

banner 300x250

Devina Safa menilai kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius yang kerap terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Bentuknya pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Namun, banyak kasus yang tidak terungkap karena minimnya pemahaman, kuatnya stigma sosial, serta anggapan keliru bahwa kekerasan merupakan urusan privat.

“Masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa tindakan verbal, kontrol berlebihan, atau tekanan psikologis juga termasuk bentuk kekerasan. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat lebih peka dan berani bersikap,” ujar Devina di sela kegiatan.

Pemilihan lokasi CFD Slamet Riyadi dinilai strategis karena menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi warga dari berbagai latar belakang. Melalui pendekatan langsung, pesan kampanye diharapkan dapat menjangkau lebih luas dan diterima dengan lebih terbuka oleh masyarakat.

Kegiatan edukasi dilakukan melalui berbagai metode, antara lain sosialisasi tatap muka, diskusi interaktif, penyampaian materi edukatif, serta kampanye visual menggunakan poster dan media informasi lainnya. Warga diajak untuk memahami definisi kekerasan terhadap perempuan, dampak jangka pendek dan panjang yang ditimbulkan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Perwakilan DP3AP2KB Kota Surakarta menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan empati dan keberanian masyarakat untuk bersuara. Selain itu, masyarakat juga diberikan informasi mengenai mekanisme pelaporan serta layanan pendampingan dan perlindungan bagi korban kekerasan.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa negara hadir melalui layanan pengaduan dan pendampingan. Korban tidak sendiri dan memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan,” ujar salah satu petugas DP3AP2KB.

Respons masyarakat terhadap kegiatan ini terbilang positif. Antusiasme terlihat dari banyaknya pengunjung CFD yang berhenti untuk mendengarkan penjelasan, mengajukan pertanyaan, hingga berdiskusi mengenai isu kekerasan terhadap perempuan. Beberapa warga mengaku baru menyadari bahwa tindakan yang selama ini dianggap wajar ternyata termasuk dalam kategori kekerasan.

Selain meningkatkan kesadaran, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Dengan pengetahuan yang lebih baik, masyarakat diharapkan berani mencegah, melaporkan, dan memberikan dukungan kepada korban kekerasan.

Melalui kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini, DP3AP2KB Kota Surakarta menegaskan komitmennya dalam upaya pencegahan kekerasan serta perlindungan terhadap perempuan. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan diyakini menjadi kunci untuk menciptakan Kota Surakarta yang aman, ramah, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Penulis: Devina Safa, mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Editor: Yoedi

Komentar