Portalika.com [WONOGIRI] – Sebuah kelas yang hidup tidak lahir dari materi pelajaran saja, melainkan dari kesiapan guru mengemasnya menjadi sesuatu yang relevan dan bisa terus dipakai.
Dari titik itulah KKN Tim II Universitas Diponegoro Desa Singodutan merancang rangkaian program yang tidak berhenti di siswa, tetapi diteruskan lewat pendampingan khusus untuk guru di sejumlah sekolah di Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.
Mengusung tema Kolaborasi Edukasi Kreatif: Sinergi Multidisiplin Ilmu untuk Pembelajaran Anak dan Remaja di Desa Singodutan, sepuluh mahasiswa lintas fakultas turun selama sepuluh hari, dari 22 hingga 31 Juli 2026.
Setiap program dirancang dua lapis: siswa lebih dulu merasakan langsung materi dan aktivitasnya, lalu guru didampingi agar bisa mengulang, mengembangkan, dan mengelola sendiri media maupun metode tersebut setelah mahasiswa KKN pulang.
Pendekatan dua lapis ini membuat program menyentuh lebih dari satu tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, kegiatan ini turut mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDGs 16 (Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh).
Rangkaian kegiatan dibuka pada 22 Juli 2026 di MAN Wonogiri lewat program “Gema Hukum Muda (Gerakan Edukasi dan Mitigasi Hukum untuk Generasi Muda)” yang digagas Elva Angie Calista dari Fakultas Hukum.
Sebanyak 120 siswa mengikuti seminar interaktif tentang kesadaran hukum, bentuk dan dampak kenakalan remaja, hingga penerapan perilaku sadar hukum dalam keseharian, ditutup dengan pembacaan Ikrar Remaja Sadar Hukum secara bersama-sama.
Di luar sesi siswa, Elva juga memberi pembekalan khusus kepada guru mengenai pencegahan kenakalan remaja serta penguatan peran guru dalam pendampingan dan konseling.
Lewat pembekalan ini, guru tidak sekadar menyaksikan materi disampaikan sekali, tetapi memperoleh bekal untuk melanjutkan pendampingan tersebut secara mandiri di sekolah.
Pada 27 Juli 2026, Celsy Adellia Ika Putri dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Program Studi Teknologi Hasil Perikanan menghadirkan program “Ayo Kenal Ikan dan Olahannya” untuk siswa kelas I–III SDN 2 Krisak.
Lewat buku aktivitas kreatif berisi permainan dan kegiatan mewarnai, siswa diperkenalkan pada dunia ikan dan olahannya dengan cara yang menyenangkan.
Buku itu kemudian tidak berhenti sebagai suvenir kegiatan. Celsy mendampingi guru memahami cara memanfaatkannya sebagai media pembelajaran alternatif, sesuai kondisi kelas masing-masing, sebelum akhirnya diserahkan ke sekolah untuk dipakai secara berkelanjutan.
Masih di SDN 2 Krisak, Adib Choiruzzaman dari Sekolah Vokasi Program Studi Akuntansi Perpajakan mengajak siswa kelas IV, V, dan VI membuat celengan kreatif lewat program “Kreasi Cilik: Kreasi Celengan dan Literasi Keuangan Cilik”.
Aktivitas tangan ini menjadi cara mengubah konsep menabung dan pengelolaan keuangan yang tadinya abstrak menjadi sesuatu yang bisa langsung dipraktekkan siswa.
Guru kelas IV–VI kemudian didampingi mempraktikkan metode learning by doing tersebut, sehingga punya contoh nyata sekaligus metode alternatif yang bisa mereka kembangkan kembali di kelas selanjutnya.
Pada hari yang sama, Yuanita Indriana Rukani dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Pemerintahan menghadirkan program “Belajar Menyampaikan Aspirasi Sejak Dini.” Siswa diberi kesempatan langsung mempraktekkan cara menyampaikan pendapat secara sopan, jujur, dan bertanggung jawab lewat Kotak Aspirasi yang disediakan.
Setelahnya, guru dilibatkan dalam proses pengelolaan kotak tersebut, mulai dari cara membaca hingga merespons aspirasi siswa secara tepat. Dengan begitu, ruang komunikasi dua arah ini diharapkan tidak berhenti menjadi pajangan begitu program KKN usai.
Pada 29 Juli 2026, Daffanisa Nadhira Zilqadiani dari Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Sastra Inggris membawa program “Fun English Learning: Pengembangan Metode Pembelajaran Speaking, Writing, dan Listening Bahasa Inggris SD melalui Aktivitas Interaktif” ke kelas III SDN 1 Krisak.
Siswa diajak belajar speaking, writing, dan listening lewat flashcards dan aktivitas interaktif yang dirancang agar tidak terasa seperti pelajaran biasa.
Modul Pembelajaran Guru beserta panduan penggunaannya kemudian diserahkan kepada guru, agar materi bisa terus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan kondisi kelas dari waktu ke waktu.
Di hari yang sama, Bagus Data Pramudya dari Sekolah Vokasi Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik bersama Tsabita Marty Mirabissama dari Fakultas Sains dan Matematika Program Studi Biologi menghadirkan program “Mengenal Tanaman Obat Keluarga dan Berkebun Seru dengan Botol Bekas” untuk siswa kelas 4 SDN 1 Krisak.
Siswa dilibatkan langsung dalam praktik menanam jahe dan
Fhgg
langsung dalam praktik menanam jahe dan kunyit menggunakan botol bekas sebagai pot, sekaligus belajar melihat barang bekas dari sudut pandang baru.
Guru kemudian didampingi memahami keseluruhan proses penanaman TOGA tersebut, dan menerima prototipe tanaman yang telah dibuat untuk dirawat dan dikembangkan lebih lanjut di lingkungan sekolah.
Septa Harum Melati dari Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Antropologi Sosial menghadirkan program “Yuk, Kenalan Sama Budaya di Sekitar Kita! Pengenalan Budaya dan Kearifan Lokal” pada 29 Juli 2026. Siswa kelas 5 SDN 1 Krisak mengikuti sesi pembelajaran tentang budaya dan sejarah Desa Singodutan lewat penyampaian materi, tanya jawab, diskusi, dan lembar evaluasi.
Sebagai luaran yang tertinggal, guru menerima materi referensi lengkap soal budaya dan kearifan lokal, dilengkapi poster yang diserahkan ke sekolah untuk dipakai sebagai bahan ajar sekaligus dipajang di lingkungan sekolah.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 31 Juli 2026 dengan program yang secara langsung menyasar kapasitas guru. Rafie Waldan Valerie dari Fakultas Teknik Program Studi Teknik Komputer mendampingi guru kelas 5 dan 6 SDN 3 Krisak memahami Modul Pembelajaran Guru dengan pendekatan yang lebih sederhana dan mudah diterapkan. Modul ini diserahkan dalam dua bentuk sekaligus: hardfile sebagai pegangan langsung di kelas, dan softfile yang dibagikan lewat WhatsApp guru, sehingga akses terhadap bahan ajar tetap terbuka meski kegiatan KKN telah selesai. Program ini tidak berhenti pada pendampingan guru saja, Rafie juga turun langsung mendampingi siswa kelas 5 dan 6 dalam memahami isi modul tersebut, sehingga siswa SD ikut merasakan manfaat modul itu secara langsung, bukan hanya menjadi penerima materi dari guru di kemudian hari.
Masih pada 31 Juli 2026, Zeda Shafiq Adiwidya dari Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan melaksanakan program “Peningkatan Ilmu dan Praktik Guru SDN 3 Krisak Desa Singodutan”. Berbeda dari program lain yang berfokus pada media dan metode ajar, kegiatan ini diarahkan langsung pada kesiapsiagaan guru menghadapi situasi kesehatan sehari-hari di sekolah. Mulai dari pertolongan pertama pada kondisi tersedak, cara menggosok gigi, hingga cara mencuci tangan yang benar, disampaikan lewat demonstrasi, praktik, dan roleplay. Poster sebagai media pengingat kemudian diserahkan ke sekolah, agar guru dapat terus memanfaatkannya dalam kegiatan edukasi kesehatan berikutnya.
Sepuluh mahasiswa dengan sepuluh keahlian berbeda, Elva (hukum), Celsy (perikanan), Adib (akuntansi perpajakan), Yuanita (ilmu pemerintahan), Daffanisa (sastra Inggris), Bagus dan Tsabita (logistik dan biologi), Septa (antropologi sosial), Rafie (teknik komputer), dan Zeda (keperawatan), menjalankan program dengan pola yang sama: siswa merasakan langsung aktivitasnya, lalu guru dibekali cara meneruskannya.
Modul, flashcards, buku aktivitas, Kotak Aspirasi, poster, pot dari botol bekas, hingga tanaman TOGA yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Semuanya diserahkan ke sekolah dan penggunaannya dipercayakan kepada guru, agar terus dipakai dan dikembangkan dalam pembelajaran maupun aktivitas sekolah lainnya.
Pendidikan berkualitas, pada akhirnya, bukan hanya soal seberapa banyak pengetahuan sampai ke siswa, tetapi juga seberapa siap guru menjaga agar pengalaman belajar itu tetap relevan dan berkelanjutan. Melalui Desa Singodutan, KKN Tim II Universitas Diponegoro menunjukkan bahwa pencapaian SDGs 4 bisa dimulai dari penguatan mereka yang berada di garis depan pendidikan, yaitu para guru itu sendiri. (*)
Penulis: KKN Tim II Universitas Diponegoro Desa Singodutan, Selogiri, Wonogiri
Editor: Triantotus












Komentar