Portalika.com [SOLO] – Wayang Orang (WO) Sriwedari merupakan seni pertunjukan yang menampilkan penggalan cerita Mahabarata dan Ramayana yang dipentaskan secara naratif. Para aktor dalam sajiannya melakukan gerak tari, dialog, dan tembang (bernyanyi) didukung dengan musik karawitan serta dalang yang menyampaikan narasi dalam setiap adegan.
Pada masa jayanya sekitar tahun 1970-an, WO Sriwedari yang lahir pada 10 Juli 1910 atau 114 tahun silam ini menjadi tontonan favorit warga Solo dan sekitarnya. Di masa jayanya hampir setiap pergelaran Gedung WO Sriwedari dipenuhi penonton.
Namun seiring perjalanan waktu, tontonan budaya tradisional Jawa ini mengalami pasang surut. Kendati beberapa waktu lalu tontonan ini sempat ditinggalkan para penggemarnya hingga sering kali tak ada penonton, saat ini WO Sriwedari yang para pemainnya didominasi generasi muda perlahan-lahan kembali mampu menarik penonton.
Baca juga: Awas Ada Drakula Di Museum Keris Nusantara!
“Kalau dulu untuk menarik penonton sering menghadirkan bintang tamu dengan mengeluarkan dana, sekarang di hari ulang tahun ke-114 ini seharusnya tak perlu. Karena para pemain muda ini sebenarnya sekarang sudah menjadi bintang,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo, Aryo Widyandoko dalam konferensi pers di Gedung WO Sriwedari, Solo, Kamis, 25 Juli 2024.
Berdasar data yang dipunyainya, saat ini rata-rata penonton yang hadir menonton di Gedung WO Sriwedari 500 orang. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu jumlah penoton meningkat menjadi sekitar 750 orang.
Bahkan untuk pementasan dalam rangka HUT ke-114 WO Sriwedari dengan lakon Panakawan Labuh (Ngruwat Nagari) yang akan digelar Sabtu, 27 Juli 2024 hampir seluruh tiket terjual habis. Hanya tersisa sedikit karena untuk kepentingan go show.
Sedangkan tiket yang dijual online sudah habis terjual. Dia memperkirakan jika sisa tiket yang ada dijual akan habis terjual. Kendati demikian dia mengakui untuk menyamai kejayaan seperti pada era empat legend seperti Rusman, Darsi, Surono dan Mrajak tetap sulit.
Dia menjelaskan sekarang ini yang menjadi idola adalah tokoh panakawan meski diakui levelnya belum bisa menyamai kepopuleran Rusman, Darsi, Surono dan Mrajak.
“Zaman sudah berbeda, karena dulu yang namanya tontonan itu ya wayang. Sekarang tontonan banyak alternatif seperti Doraemon dan sebagainya. Tetapi sekarang ini sudah mulai ada bintang yang mulai gemerlap,” kata Aryo disambung pernyataan Koordinator WO Sriwedari, Didik Wibowo bahwa jika dulu penonton WO Sriwedari didominasi orang tua, sekarang 75 persen terdiri atas anak-anak muda.
80 Persen Pemain Lulusan Sarjana
Sementara itu Ketua Penyelenggara HUT ke-114 WO Sriwedari, Irizal Suryanto mengatakan sekarang total karyawan di WO Sriwedari ada 71 orang. Mereka terdiri atas pemain wayang, pengrawit, karyawan dekorasi, kostum, kebersihan, lighting maupun sound system.
Dia menjelaskan saat ini mayoritas atau 90 persen pemainnya terdiri para generasi muda. Sedangkan pemain senior perempuan yang tersisa di antaranya Iyem atau Sri Lestari dan sutradara Warsini. Pemain laki-laki senior ada Jamrud, karyawan karawitan ada Suparno dan Sutarjo.
Menyinggung latar pendidikan para pemain wayang, 80 persen mereka lulusan sarjana seni dari ISI. Sedangkan untuk pendidikan karyawan non pemain wayang dari berbagai latar pendidikan beragam. Untuk status karyawan mayoritas non aparatur sipil negara (ASN).
“Mereka tenaga kerja dengan perjanjian kontrak. Mereka yang pegawai negeri sipil [PNS] hanya 10 persen,” ujar dia yang juga pemain wayang orang ini.
Lebih lanjut Aryo mengatakan WO Sriwedari menjadi sebuah tontonan maupun tuntunan epic bagi para masyarakat yang haus sebuah pertunjukan. Untuk memperingati hari kelahiran tersebut, para seniman yang berkecimpung di WO Sriwedari membuat beberapa rangkaian acara tradisi, salah satu rangkaian acaranya yaitu wilujengan dan pementasan.
“Dalam rangka HUT ke-114 WO Sriwedari, kami sampaikan beberapa rangkaian kegiatan yang akan digelar untuk memeriahkan acara. Tema HUT ke-114 WO Sriwedari adalah Tenang semua… Saatnya pemuda…,” kata Aryo.
Rangkaian kegiatan HUT WO Sriwedari digelar tiga hari. Pada Kamis, 25 Juli 2024 ada workshop tata rias wayang untuk MUA dan fotografer, bazar kuliner, live musik, dan pementasan reguler (rutin) WO Sriwedari.
Kemudian Jumat, 26 Juli 2024 ada lomba tari Srikandhi-Cakil, bazar kuliner, live musik, dan pementasan reguler (rutin) WO Sriwedari dan Sabtu, 27 Juli 2024 ada bazar kuliner, pagelaran Reog Yogo dari Banyuanyar, live musik, tari anak dari Sanggar Pratama Budaya, serta pementasan HUT WO Sriwedari dengan lakon Panakawan Labuh (ngruwat nagari). (Iskandar)












Komentar