Jerman Juara Piala Dunia U-17, Erick Thohir: Final Klimaks!

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Tim sepakbola Jerman U-17 yang bermain dengan 10 orang, berhasil menjuarai Piala Dunia U-17 secara dramatis setelah menekuk Perancis 4-3 (2-2) melalui adu tendangan penalti di Stadion Manahan Solo, Jateng, Sabtu, 2 Desember 2023 malam.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir yang menyaksikan langsung laga sepakbola terakbar sejagat di Manahan ini mengaku terhibur menyaksikan bentrok sengit antarkedua tim.

banner 300x250

Tim Ayam Jantan Muda (sebutan tim Perancis muda) sukses melakukan comeback di waktu normal untuk memaksakan adu tos-tosan. Sempat tertinggal 0-2, mereka yang bertarung habis-habisan sukses memaksakan skor imbang di waktu normal 2-2.

Baca juga: Kapolda Jateng Himbau Penonton Laga Final Piala Dunia U-17 Hindari Pelanggaran Hukum

Jerman membuka keran gol pada menit ke-29 lewat penalti. Penyebabnya, Aymen Sadi melakukan pelanggaran di kotak penalti. Pemain Borussia Dortmund Jerman, Paris Brunner yang jadi algojo sukses menunaikan tugasnya dan membuat Jerman unggul 1-0 atas Perancis.

Memasuki paruh kedua, Jerman tidak butuh waktu lama untuk kembali mencetak gol. Kali ini, mereka melakukan serangan balik di menit ke-51. Kapten tim Jerman, Noah Darvich sukses melepas tembakan di depan gawang yang mengenai kiper Perancis bertinggi badan 190 cm, Paul Argney dan malah masuk ke gawang sendiri.

Pesepakbola Timnas Jerman mengangkat trofi juara Piala Dunia U-17 2023 usai mengalahkan Timnas Perancis pada laga final di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (2/12/2023). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

Hanya dua menit berselang, Perancis memperkecil ketinggalan. Pemain asal AS Monaco Prancis, Saimon Boubare yang mencatatkan namanya di papan skor menit ke-53 setelah memanfaatkan umpan dari Nhoa Sangui.

Kedudukan 2-1 membuat laga berjalan semakin sengit. Perancis lebih rajin menyerang mengejar skor. Memasuki menit ke-65, Jerman dirundung kesialan karena harus bermain dengan 10 orang. Karena pemain asal klub RB Leipzig Jerman bertinggi badan 189 cm, Winners Osawe mendapat kartu kuning kedua.

Akibatnya dia tak bisa melanjutkan laga, setelah diusir keluar lapangan pertandingan oleh wasit Espen Eskas asal Norwegia. Perancis akhirnya mampu menyamakan kedudukan di menit ke-85.

Media centre Piala Dunia U-17

Berawal dari upaya Tidiam Gomis di sisi sayap dan dilanjutkan dengan umpan tarik. Bola matang di depan gawang didorong oleh pemain asal klub AS Saint Etienne Prancis, Mathis Amougou yang memaksa skor jadi 2-2.

Begitu memasuki duel adu penalti, Jerman menunjukkan kematangannya. Tiga penendang Perancis gagal menceploskan bola ke gawang Jerman yang dikawal Konstantin Heide. Der Panzer (julukan tim Jerman) unggul 4-3.

Sementara Heide dan Brunner merupakan eksekutor Jerman yang gagal menceploskan bola ke gawang Prancis yang dikawal Paul Argney.

“Pertandingan yang benar-benar mendebarkan. Final yang klimaks. Perancis menunjukkan mentalitas tidak mengenal menyerah. Walau tertinggal mereka bisa mengejar skor untuk memaksakan pertandingan disudahi dengan adu penalti,” kata Erick.

Media Centre Piala Dunia U-17

Pujian diberikan pria yang juga menjabat sebagai Ketua LOC Piala Dunia U-17 tesebut kepada Jerman. “Jerman pantas menjadi juara. Semenjak penyisihan grafik performa mereka terus menanjak. Mereka menyingkirkan tim kuat Spanyol dan Argentina sebelum akhirnya bersua Prancis di laga puncak,” papar dia.

Erick berharap tontonan seru duel final ini memberi pembelajaran bagi sepakbola Indonesia. “Piala Dunia U-17 menjadi contoh pentingnya kita serius akan pembinaaan usia dini. Untuk membentuk Timnas senior yang solid perlu ditopang pembinaan yang berkesinambungan. PSSI mendapat pelajaran banyak dari Piala Dunia U-17, tak hanya sebagai pengelola event tapi juga pemikiran masa depan berkaitan dengan pembinaan.”

Sementara itu mantan pemain timnas Indonesia asal Solo, Haryanto “Tommy” Prasetyo yang ditemui Portalika News Network, saat menonton bersama Asisten Pelatih Shin Tae Yong, Nova Ariyanto mengatakan bentrok kedua tim enak ditonton. Karena meski materi kedua tim merupakan pemain U-17 cara bermain mereka sudah seperti pemain dewasa.

“Di Eropa, meski usia para pemain ini di bawah 17 tahun, mereka sudah biasa bermain dengan tekanan dan ritme tinggi. Sebab mereka mayoritas sudah menjadi pemain di klub profesional. Kalau di Indonesia pemain di bawah usia 17 tahun masih di SSB [sekolah sepak bola]. Selain itu kompetisi usia muda di Eropa berjalan dengan baik, sehingga mental dan skill mereka terasah,” kata dia yang pernah menimba ilmu sepakbola di Italia beberapa tahun lalu bersama sejumlah pemain lainnya yang tergabung dalam timnas Baretti. (Iskandar/*)

Komentar