Portalika.com [SOLO] – Nama putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, KGPAA Mangkunegara X GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo dan Wakil Walikota Solo, Teguh Prakosa muncul di antara 12 nama bursa calon walikota (cawalkot) Surakarta (Solo) periode 2024-2029.
Berdasar Solo Raya Polling, selain tiga nama itu terdapat sembilan nama lainnya yang tertangkap radar polling yang dilakukan Direktur Solo Raya Polling, Dr Drs Suwardi, MSi ini.
“Dari nama-nama itu belum ada nama mengerucut. Semua masih sama. Dari 12 nama yang muncul belum bisa diranking,” ujar Suwardi yang juga dosen Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Jateng, ketika memberi keterangan kepada para wartawan di salah satu rumah makan di Manahan Solo, Jumat 7 Maret 2024.
Menurut dia sembilan nama lainnya yaitu Ketua DPRD Solo, Budi Prasetyo, Sekda Kota Solo, Budi Martono, Ketua PC Nahdlatul Ulama Kota Solo, Mochamad Mashuri, putri anggota DPR Aria Bima, Yashinta Sekarwangi, putri Akbar Tandjung, Sekar Tandjung. Kemudian putra eks Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, Rheo Fernandez, Ketua Bapilu PDIP Solo, Her Suprabu, Rektor Unsa, Astrid Widjayanti, seorang anggota DPRD Solo dari Fraksi PKS, Sugeng Riyanto.
Suwardi mengatakan nanti ranking didasarkan survei jajak pendapat dengan responden masyarakat Kota Solo yang namanya tertera dalam pemilih tetap (DPT). Hal ini dinilai penting karena survei yang baik harus memiliki kerangka sampling yang jelas.
Dia menjelaskan kerangka sampling ini yang menjamin setiap orang penduduk Kota Solo memiliki kesempatan yang sama menjadi responden. Di situlah yang disebut representasi dari populasi.
Dalam melakukan polling Suwardi menggunakan metode Delfhi dengan mewawancarai 19 tokoh lintas bidang di Kota Solo. Metode ini digunakan untuk memahami gagasan dari para tokoh atau stakeholder. “Jadi karakteristik dari respondennya adalah tokoh lintas bidang,” papar dia.
Tokoh lintas bidang itu terdiri atas politisi, birokrat, akademisi, budayawan, pengusaha, tokoh pergerakan, agamawan, tokoh pemuda, tokoh dari keraton dan sebagainya.
Dari jajak pendapat dengan para tokoh bisa didapat informasi terkait isu tantangan kendala pembangunan Kot Solo ke depan. Yang mana ini tak lepas dari keinginan agar Solo menjadi pusat peradaban Jawa.
“Keinginan menjadikan Kota Solo sebagai pusat peradaban Jawa menyangkut beberapa hal yang harus selalu diperhatikan oleh para calon wali kota Solo mendatang. Di antaranya terkait kelanjutan pembangunan wali kota sebelumnya. Lalu persoalan keadilan ekonomi dan kemiskinan, orientasi pembangunan kota dalam hal ini di sektor MICE,” kata dia.
Dari berbagai permasalahan yang harus dihadapi nantinya calon wali kota diharapkan memiliki karakter jujur, antikorupsi, merakyat, religius, punya track record kesuksesan, berpenampilan menarik, visioner, memilki jaringan kuat ke pemerintah pusat serta modern dan mengakar pada budaya Jawa.
Guna mengetahui seberapa besar penerimaan masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang namanya muncul dalam penjaringan tadi Suwardi bersama dengan tim akan melakukan survei.
Suwardi mengutarakan 12 tokoh yang masuk di radarnya itu nanti akan menjalani uji publik, melibatkan DPT Kota Solo. Pihaknya melibatkan 640 orang responden yang terdistribusi di 80 titik lokasi survei (TLS). Teknik pengambilan sampel menggunakan cuplikan random sampling berbasis DPT sebagai TLS.
“Masing-masing titik akan diambil delapan orang secara acak, sehingga akan didapatkan sekitar 640 responden. Survei ini mempunyai tingkat signifikansi sekitar 90 persen. Kira-kira dalam 20 hari survei nanti akan terlihat tokoh-tokoh yang banyak dipilih,” papar dosen Fisip Unisri ini.
Menurut dia salah satu keinginan warga menginginkan figur wali Kota Solo mendatang adalah mempunyai jaringan kuat dengan pemerintah pusat. Hal ini nampaknya akan menjadi poin penting yang harus terpenuhi agar Kota Solo benar-benar bisa melakukan pembangunan dengan baik. Karena jika hal itu tak terpenuhi, Kota Solo dinilai tak ada bedanya dengan kota-kota kecil di sekitarnya.
Kendati tak menyebut secara gamblang, Suwardi mengatakan hal itu bukan tidak mungkin akan dikait-kaitkan dengan Presiden Jokowi sebagai representasi pemmerintah pusat. Tapi dalam survey ini dia mengaku akan bersikap netral agar bisa mendapatkan jawaban jujur dari masyarakat. (Iskandar)












Komentar