Portalika.com [SOLO] – Taman Safari Indonesia (TSI) menggandeng Solo Safari (SS) menggelar lomba foto dan video internasional atau International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) berhadiah ratusan juta rupiah. IAPVC Satwa ke-33, merupakan sebuah acara tahunan TSI yang telah menjadi sorotan dalam komunitas konservasi dan fotografi satwa selama lebih dari tiga dekade.
“Tahun ini, Solo Safari menjadi kota kedua yang dikunjungi dalam rangkaian roadshow dengan tema Soul of the Wild, menggali dan mengekspresikan jiwa sejati dari alam liar melalui lensa kamera. IAPVC berlangsung mulai 8 Juni hingga 25 Agustus 2024 dan terbuka untuk umum,” ujar Senior Vice President TSI Group, Alexander “Alex” Zulkarnain di Solo Safari, Jurug, Surakarta, Jateng, Sabtu, 20 Juli 2024.
Menurut dia acara pembukaan roadshow IAPVC Satwa ke-33 menjadikan gajah Sumatra sebagai highlight roadshow khusus di SS dan ditampilkan pertama kali kepada customer & participant IAPVC. Memiliki nama latin Elephas Maximus Sumatranus, gajah tersebut hanya hidup di hutan tropis di Pulau Sumatra dan menjadi satwa endemik Indonesia.
Baca juga: Peringati Hari Unta Sedunia, Solo Safari Gelar Parade Unta Dan Kirabkan Pecinta Satwa Keliling Taman
Dia menjelaskan SS di bawah kepemimpinan General Manager, Rio Mahendra itu adalah tahun kedua khusus menggelar acara ini. Tujuan utama acara ini di antaranya ingin mengajak publik khususnya pengunjung SS, warga Solo, Jateng dan Jatim agar mempunyai kepedulian terhadap satwa liar, setidaknya yang ada di SS.
Ini juga dianggap sebagai ajang edukasi melalui foto dan video yang dibuat baik para jurnalis maupun fotografer enthusiast professional, amatir dan hobies. Pihaknya berharap misi konservasi edukasi bisa tersampaikan melalui kompetisi ini.
Sekaligus, papar Alex, ini merupakan salah satu kegiatan yang bisa menarik wisatawan, baik dari Solo terutama dari Jateng dan juga Jatim. Sehingga para wisatawan bisa datang khususnya ke SS di acara ini dan membawa keluarga serta anak-anak mereka untuk menikmati SS.
Ini juga untuk mendapatkan informasi-informasi mengenai bagaimana konservasi ini dilakukan dan bagaimana foto dan video bisa menjadi channel yang baik untuk mengedukasi masyarakat.
“Untuk hadiah seperti biasa selalu menarik, total ratusan juta rupiah, baik dalam bentuk produk maupun uang tunai. Namun yang paling utama sekali adalah kita tidak menginginkan kompetisi historical yang sudah berlangsung lama hanya diikuti orang-orang yang niatnya mencari hadiah saja,” ungkap dia.
Dia mengakui hadiah memang bisa menjadi insentif menarik, tapi ini juga bisa menjadi ajang edukasi. Pihaknya juga membuka satu kategori baru yaitu photo enthusiast.
Peserta Ditarget 7.000 Orang
Ini bisa diikuti mereka sejak dari usia SD sampai anak kuliah tanpa harus bersaing dengan fotografer profesional, amatir dan hobies lainnya. Jadi bisa diketahui bahwa dengan era digital dan sosial media ini penggunaan smartphone masif luar biasa.
Alex mengatakan satwa-satwa di SS luar biasa, masyarakat bisa belajar dengan para satwa melalui animal educator sekaligus mengabadikannya melalui foto baik smartphone maupun video.
Dia mengutarakan total peserta khusus di Solo pada Sabtu lalu ada 190 orang dan ini bisa bertambah lagi. Kalau total peserta tahun ini ditarget 7.000 orang dengan lebih dari 16.000 foto yang dikumpulkan.
Karena tahun lalu hampir 6.000 peserta yang mendaftar. Jadi ini boleh dikatakan kompetisi fotografi dan video yang banyak sekali pesertanya. Bukan hanya peserta dari Indonesia, karena ini internasional maka kita berharap ada peserta dari luar negeri.
“Solo Safari ini kan banyak didatangi turis yang datang ke Kota Solo, baik dari Jepang, Eropa, China dan lainnya, dan ini bisa menjadi salah satu daya tarik mereka untuk mengikuti kompetisi ini. Kompetisi tidak hanya dua hari tapi berlanjut. Dua hari itu adalah roadshow-nya,” kata Alex.
Acara ini juga ada workshop dari mantan fotografer Kompas, Arbain Rambay. Karena itu pihaknya memberi kesempatan peserta untuk mengambil gambar, tidak hanya sehari. Kenapa dua hari? Karena kalau hari pertama tak bisa mendapat hasil baik bisa dilanjut hari berikutnya.
Ini dimungkinkan karena objeknya satwa liar di outdoor dan satwa tidak direkayasa, tidak diarahkan dan ini benar-benar seorang fotografer dan video grafer harus mempunyai kesabaran untuk meng-capture moment-moment terbaik satwa ini.
Peserta Luar Negeri
Lebih lanjut dia mengatakan tahun ini SS dan TSI grup mengambil tema Soul of the Wild. “Jadi bagaimana kita menangkap jiwa-jiwa yang liar satwa yang hidup di konservasi. Ini pasti luar biasa! Karena bisa diambil menarik seperti saat mereka makan, musim kawin, saat mereka berinteraksi, itu luar biasa,” kata Alex.
Sementara itu jumlah peserta setelah launching baik di Prigen maupun di SS sudah ribuan mendaftar. Sedangkan peserta dari luar negeri tidak harus mengambil objek foto di Indonesia. Bisa diambil di mana-mana, tidak wajib di “TSI” ini justru inklusif buat semua. Tapi paling mudah di sini. Kalau hunting di hutan mungkin perlu waktu dua bulan untuk meng-capture.
Untuk kategori penjurian, ditangani juri-juri profesional seperti Arbain Rambay, fotografer senior dan konservasionis Rere, penghobi fotografi juga konservasi, Agus Santoso.
“Yang dinilai banyak parameter, tergantung kategori. Untuk pengiriman karya lewat link seperti di website tinggal di-submit. Seperti biasa nanti ada kurasi untuk foto-foto yang menggunakan AI [artificial intelegence] tidak diperkenankan. Untuk mengidentifikasi foto kami punya tolls sehingga bisa melihat,” ujar dia.
Di bagian lain General Manager Solo Safari, Rio Mahendra mengatakan dalam workshop diterangkan bagaimana mengetahui foto asli dan yang menggunakan AI. “Bedanya kalau foto AI tidak ada ruhnya dan ini kelihatan sekali,” ungkap dia. (Iskandar)












Komentar