Portalika.com [SOLO] – Ratusan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Solo Raya demo di Gedung DPRD Kota Solo, Jateng diwarnai dengan memblokade penggal Jl Adi Sucipto dan membakar ban di tengah jalan serta menduduki gedung wakil rakyat tersebut.
Demo yang dimulai kira-kira pukul 14.30 WIB di Jalan Adi Sucipto depan Gedung DPRD Solo ini sempat memacetkan arus lalu-lintas. Karena ratusan massa yang berorasi di tengah jalan ini sambil membakar ban hingga arus lalu-lintas (Lalin) dari Stadion Manahan Solo yang hendak ke Colomadu, Karanganyar tak bisa lewat.
Masyarakat harus lewat jalan lain sebab sejak dari SPBU Manahan ke barat ditutup dan arus Lalin dari Colomadu ke timur, lalin dialihkan ke jalan lain karena Jl Adi Sucipto di Tugu Makutha ditutup.
Baca juga: Belajar Sejarah Negara Di Asia Untuk Antisipasi Dampak #KaburAjaDulu
Imbasnya jalan kampung di sekitar Gedung DPRD Solo seperti Jl Sawo, Jl Tanjung di Karangasem dan beberapa jalan di Jajar seperti Jl Basuki Rahmat dan sebagainya padat kendaraan roda dua dan mobil roda empat.
Berdasar pantauan di lokasi aksi, mereka yang meneriakkan beberapa yel-yel ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah ini dikawal ketat petugas gabungan TNI, Polri dan Satpol PP. Selain itu mereka juga membentangkan beberapa spanduk antara lain bertuliskan Adili Jokowi, Tolak MBG # Tolak Efisiensi, Indonesia Gelap, Oke Gas X Antri Gas dan sebagainya.
Guyuran hujan di lokasi tak menyurutkan mereka secara bergantian berorasi meneriakkan berbagai ketidakpuasan kebijakan pemerintah akhir-akhir ini, seperti soal makan bergizi gratis (MBG), efisiensi anggaran, soal tingginya beaya pendidikan dan meneriakkan ajakan lawan oligarki di Indonesia, revolusi dan seterusnya.
Salah seorang mahasiswi peserta aksi bernama Okta mengatakan ada tujuh tuntutan mahasiswa dalam aksi ini. Mahasiswi perempuan asal Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini di antaranya menyebutkan mengenai efisiensi anggaran sampai soal makan bergizi gratis.
Dia mengecam efisiensi anggaran yang dinilai sangat merugikan rakyat, “Pokoknya tidak ada yang menyejahterakan rakyat, semuanya merugikan rakyat. Begitu pula dengan program makan bergizi gratis kebanyakan diprotes.”
“Adik kita dapat makan, tapi kita sama keluarga kita jadi tidak makan. Mereka merugikan, susah cari uang, cari gas, semuanya jadi susah karena kebijakan seperti itu,” tegas dia kepada awak media di sela-sela aksi.
Hal lain yang menjadi sorotan mereka adalah soal keberadaan hutan adat hingga soal penggundulan hutan. “Banyak temanku dari Papua atau dari Kalimantan yang kuliah di ISI mengeluhkan hutan kita digunduli untuk hal ini… itu, mereka juga menanyakan keadilan untuk masyarakat adat,” papar mahasiswi baru ISI ini.
Akan Terus Melawan
Sementara itu Koordinator Aksi, Syaifullah mengatakan aksi mereka diawali dengan berjalan mundur para peserta aksi. Hal ini dimaksudkan sebagai sindiran bahwa Indonesia mengalami kemunduran.
Untuk itu pihaknya menegaskan tak akan diam kalau ada kebijakan yang merugikan rakyat. “Kami akan terus melawan dan terus bergerak jika ada aparat sudah seenaknya membuat peraturan yang menyeleweng dari kebenaran,” tandas dia.
Di bagian lain aksi Indonesia Gelap ini sempat terjadi ketegangan dengan aparat keamanan, saat sejumlah mahasiswa menaiki tangga Ruang Paripurna DPRD Solo. Namun tak lama kemudian ketegangan bisa diredam dan aksi mereka berakhir kira-kira pukul 18.00 WIB setelah pembacaan pernyataan sikap dan naskahnya diteken anggota DPRD Solo. (Iskandar)












Komentar