Walikota Solo Percaya Pers Jadi Benteng Terakhir Penyampai Kabar Yang Baik

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Seiring perkembangan zaman, akhir-akhir ini masyarakat dengan mudah bisa mendapat berbagai informasi melalui berbagai media sosial (medsos). Karena informasi itu banyak berseliweran melalui gatget yang mereka genggam.

Namun informasi di medsos itu tidak semuanya valid alias tidak sedikit yang hoax atau tak benar. Karena itu perlu hati-hati saat mendapati berita dari medsos, setiaknya tidak menelan mentah-mentah informasi tersebut.

banner 300x250

Terkait hal ini Walikota Solo, Jateng, Respati Ardi mengapresiasi acara halal bihalal ini dan mengaku tetap lebih memercayai karya jurnalistik sebagai patokan.

Baca juga: PWI Surakarta Jalin Silaturahmi Dan Sinergitas Bersama Kapolresta Surakarta

“Saya berharap wartawan sebagai benteng terakhir bisa benar-benar menjadi penyampai berita kepada masyarakat dengan baik,” papar dia ketika memberi sambutan pada acara Halal Bihalal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Rumah Dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung kawasan Penumping, Laweyan, Solo, Sabtu, 19 April 2025.

Selain Walikota Solo, hadir pada acara yang diikuti puluhan jurnalis baik dari media cetak maupun elektronik antara lain Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani; Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo; mantan Walikota Solo, Teguh Prakosa; Danren 074/Warastrama Surakarta, Kolonel (Inf) Muhammad Arry Yudistira SIP MIPol MHan; mantan Ketua Kadin Solo dua periode, Gareng S Haryanto; Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto dan sebagainya.

Menurut Respati maraknya keberadaan media sosial (medsos) saat ini banyak mewarnai kehidupan masyarakat luas. Karena masyarakat yang saat ini sudah banyak memiliki smartphone, bisa dengan mudah mengakses berbagai informasi di medsos.

Dia menjelaskan keberadaan medsos bagaikan pisau bermata dua. Artinya di satu sisi keberadaan medsos bisa menjadi satu hal positif, namun di sisi lain bisa menjadi satu hal negatif. Sehingga jika tidak tepat atau tidak bijak dalam menggunakannya akan bisa merugikan.

Lebih lanjut dia mengatakan guna mendongkrak perekonomian atau pendapatan Kota Solo, pihaknya harus kreatif memanfaatkan peluang. Karena Kota Solo tidak mempunyai tambang, wisata alam dan sebagainya yang bisa diandalkan untuk menghasilkan uang.

Ketua PWI Surakarta, Jateng, Anas Syahirull memberi sambutan saat halal bihalal PWI di Rumah Dinas Walikota Surakarta, Loji Gandrung, Sabtu, 19 April 2025. (Portalika.com/Iskandar)

Jadi, kata dia, Pemkot Solo dituntut kreatif membuat acara jika ingin roda perekonomian berjalan lancer. Belum lama ini sebenarnya dia bertemu dengan Ketua Umum PSSI, Erick Tohir menanyakan soal penyelenggaraan babak penyisihan turnamen sepakbola Piala Asean Football Federation (AFF) atau Federasi Sepakbola Asean U-23.

Dia berharap perhelatan itu digelar di Kota Solo. Namun ternyata PSSI telah menetapkan tempat peyelenggaraan itu di Sidoarjo, Jatim.

Kerja Sama Se-Solo Raya
Di bagian lain Respati juga menekankan pentingnya kerja sama daerah-daerah tingkat II di Solo Raya untuk saling bersinergi di berbagai bidang. Karena itu dia mempersilahkan pemakaian nama Solo yang lebih dikenal luas dibanding beberapa nama daerah di Solo Raya untuk identitas kawasan wisata andalan.

Dia sadar Kota Solo yang luas wilayahnya terbatas tidak mempunyai bandar udara (Bandara). Namun di kancah internasional, Bandara Adi Soemarmo yang secara administratif terletak Boyolali, lebih dikenal sebagai Bandara Solo.

“Silahkan teman-teman di Solo Raya seperti Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen [menggunakan nama Solo], kalau kita bicara kedaerahan nanti tidak akan selesai-selesai. Saya berharap seluruh kawasan di Solo Raya ini merasakan kesejahteraan yang sama,” tegas dia.

Sedangan Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul mengatakan kegiatan ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi ajang silaturahmi para wartawan dari berbagai generasi dan dengan stakeholder. Karena itu dia menyambut baik acara yang digelar di rumah dinas Walikota Solo tersebut.

“Menurut saya halal bihalal ini penting karena membuka ruang komunikasi dengan mitra. Selain itu hal ini juga memudahkan teman-teman wartawan saat bertugas di lapangan,” papar Anas.

Menikmati Pekerjaan
Sementara itu acara halal bihalal yang dihadiri puluhan wartawan dan mantan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik dari berbagai generasi berlangsung semarak. Sejumlah wartawan senior seperti Sardjono mantan wartawan Sinar Harapan mengaku senang bisa berkumpul dengan teman-teman lama.

“Saya sekarang memang sudah tidak lagi menulis di media. Tetapi tetap saya dulu sangat menikmati pekerjaan sebagai wartawan yang saat itu belum banyak wartawan seperti sekarang,” ujar dia yang mengaku telah berusia 73 tahun ini.

Sedangkan mantan wartawan Suara Merdeka, Subakti A Sidik juga mengaku banyak tak kenal dengan sejumlah wartawan muda yang hadir. “Saya sudah lama pensiun sehingga banyak yang tidak kenal dengan adik-adik wartawan yang masih muda-muda ini,” ungkap dia.

Kendati demikian dia juga mengaku senang menghadiri acara halal bihalal ini. Sebab bisa bersilaturahmi dengan teman-teman seangkatan dan yang masih dikenalnya. (Iskandar)

Komentar