Perempuan Jadi Garda Depan Hadapi Fenomena Pemisahan Antara Kecerdasan Dan Kesantunan Saat Ini

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Ribuan peserta menghadiri kajian keputrian bertema “Cintai Diri dengan Ilmu dan Adab Mulia” dalam rangka memperingati Hari Kartini, Minggu, 19 April 2026 di Pondok Pesantren Baitul Izza, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kegiatan Yayasan Baitul Izza ini menghadirkan dua pemateri, Dyah Puspitarini dan Miftahulati, yang merupakan pengasuh sekaligus pendidik di Pondok Pesantren Gading Mangu, Perak Jombang Jawa Timur.

Ketua Yayasan Baitul Izza, H Kardi Zicko, menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi peserta. Ia menilai kajian ini menjadi wadah penting dalam membangun kualitas perempuan, khususnya dalam menguatkan ilmu dan akhlak.

banner 300x250

“Kami berharap kegiatan ini terus istiqamah dan mampu melahirkan perempuan-perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia serta memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, pemateri menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan adab bagi perempuan, sejalan dengan semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini. Dyah Puspitarini menyebut fenomena pemisahan antara kecerdasan dan kesantunan sebagai persoalan yang kian nyata.

“Banyak yang pintar secara akademis, tetapi miskin adab. Atau sebaliknya, rajin ibadah tapi tidak mendalami ilmu,” ujarnya.

Sedangkan Miftahulati mengulas urgensi menuntut ilmu bagi perempuan, sementara Dyah Puspitarini membahas adab terhadap orang tua, suami, dan sesama manusia. Ia juga mencontohkan keteladanan Aisyah serta para sahabat perempuan dalam menuntut ilmu dan menjaga akhlak.

Kajian ini merupakan agenda rutin bulanan. Menurut panitia, pemilihan Masjid Baitul Izza sebagai tempat tetap bertujuan membangun kenyamanan dan kebiasaan positif di kalangan peserta.

Salah satu peserta, Evhi, 37, mengaku memperoleh pemahaman baru terkait pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu. Dampak kegiatan juga mulai dirasakan di lingkungan peserta, di antaranya berkurangnya kebiasaan menggunjing serta meningkatnya minat mengikuti pengajian.

Ke depan, panitia berencana mengembangkan program melalui pembentukan kelompok mentoring kecil (halaqah) dan penyusunan modul kajian tematik. Upaya ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta secara berkelanjutan.

Dyah Puspitarini berharap kajian ini dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Ia menegaskan pentingnya perempuan terus menuntut ilmu, karena tanpa itu, perempuan berpotensi disibukkan oleh hal-hal yang kurang bermanfaat.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin semata, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya ilmu dan adab dalam kehidupan perempuan. Dengan semangat Hari Kartini, kajian yang digelar oleh Yayasan Baitul Izza ini diharapkan terus melahirkan generasi perempuan yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberi kontribusi nyata bagi keluarga dan masyarakat. (Tarmin)

Komentar