Portalika.com [SOLO] – Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan kapasitas sekitar 10.000 penonton penuh sesak dengan penonton. Setidaknya belasan ribu penonton yang mayoritas para mahasiswa UMS seakan terhipnotis dengan performa penyanyi tradisional lagu-lagu Jawa asal Ngawi, Jawa Timur, Denny Caknan.
Bahkan sejumlah penonton yang semula tak bisa masuk gedung karena sudah penuh. Akhirnya nekat merangsek masuk dari pintu barat dan timur secara bersamaan. Kondisi ini membuat penonton yang semula duduk di area festival mendadak kaget dan terpaksa harus berdiri agar tak terinjak massa yang merangsek serentak itu.
“Luar biasa. Tadi ketika saya masuk, penonton yang di luar masih banyak yang tidak bisa masuk,” ujar salah satu penonton Farid, 20, yang masuk ke gedung terlambat ketika bercerita dengan teman-temannya, Jumat (29/9/2023) malam.
Baca juga: Libatkan Denny Caknan, Alumni UMS Bikin Konser Hanebu Sauyun, Suarakan Kebhinekaan
Malam itu belasan ribu penonton fans Denny Caknan memang disuguhi sejumlah band dan beberapa keseniaan tradisional yang digelar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UMS bertajuk Hanebu Sauyun Concert (HSC). Sejak awal pertunjukan para penonton seakan hanyut terhibur dengan penampilan pengisi acara.
Apalagi penampilan mereka didukung dengan tata lampu spektakuler dan sound system menggelegar. Kombinasi ini membuat pergelaran HSC kian tambah moncer.
Di sisi lain kehadiran penyanyi yang belum lama melepas masa lajangnya itu mendapatkan sambutan hangat dari para penonton HSC, yang didominasi mahasiswa-mahasiswi UMS, para alumni angkatan awal hingga angkatan terbaru serta masyarakat luas.
Kendati Denny tampil di pengujung acara para penonton tampak tetap setia menunggu performa idola mereka. Karena itu ketika tiba giliran Denny perform penonton banyak yang ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Denny sambil tak henti-hentinya bergoyang.
Lagu-lagu yang dibawakan berkisar 10 lagu di antaranya Pamer Bojo, Kartonyono Medot Janji, Nemu dan sebagainya. Dia juga melantunkan lagu Cundamani yang menceritakan tentang pertemuan Denny dengan belahan jiwanya Bella Bonita digabung dengan lagu maestro campursari Didi Kempot almarhum, Sewu Kutha dan lagu lainnya.
Selain Denny, panggung megah dengan tata cahaya spektakuler di Edutorium UMS ini pun dihibur dengan paduan suara Voca Al Kindi UMS, Wamsinomi Old Star & Friends, penampilan musik humor Owah Gerr Band dan sebagainya.
Sebelumnya Ketua Panitia HSC, Dr Muzakir Isa, SE, MSi mengungkapkan Hanebu Sauyun, yang merupakan filosofi Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas (RM) Said yang juga Mangkunegoro I, panggung reuni akbar ini pun disemarakkan dengan tarian kolosal Tari Hanebu Sauyun.
Tari yang mengisahkan perjuangan Pangeran Sambernyawa yang tak membedakan pengikut dengan memperlakukan secara adil ini, menampilkan berbagai unsur budaya dari berbagai suku di Indonesia, seperti Jawa, Aceh, Dayak, Papua dan sebagainya.
Para penari ini mengenakan busana daerah asal masing-masing dengan luwes menari sesuai ciri dan iringan lagu daerah yang dibawakan. Penampilan mereka seakan menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang beragam.
Di bagian lain Muzakar menjelaskan digunakannya nama Hanebu Sauyun yang digaungkan Pangeran Sambernyawa, karena konser ini diharapkan dapat menjadi satu ikatan atau sauyun. Dia menginginkan konser yang digelar seperti bongkokan tebu yang terikat kuat.
“Seperti tebu atau hanebu yang terikat menjadi satu atau sauyun, itulah harapan konser ini digelar,” papar dia sambil menambahkan sesuai tema konser ini yakni Indonesia Berseri Merajut Kebinekaan.
Muzakar yang juga Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS ini berharap pertunjukan HSC dapat memecahkan lima rekor Museum Rekor Indonesia (Muri). Pertama salat Maghrib berjamaah sebelum konser Hanebu Sauyun dimulai.
Kedua, membentangkan bendera merah putih ukuran 30 meter X 24 meter, memayungi penonton yang berada di area festival depan panggung.
Ketiga bisa menjadi green campus consert, keempat merupakan rekor konser yang dihadiri 23.300 penonton dan kelima menyanyikan jingle IKA UMS, yang dinyanyikan 23.000 penonton.
Sementara Sound Director Rey Tanjung yang juga alumni UMS berharap, HSC ini dapat menjadi penggagas baru bagi masyarakat, untuk menghentikan perpecahan saat Pemilu. Sebab selama ini, Pemilu yang seharusnya menjadi pesta demokrasi justru dinilai seringkali menjadi ajang perpecahan. (Iskandar)












Komentar