Doakan 500 Arwah Leluhur, Makin Bakar Kapal King Hoo Ping

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Sembahyang King Hoo Ping yang digelar Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Surakarta berlangsung khidmad. Puluhan umat dan simpatisan terdiri atas anak-anak putra-putri sampai orang tua mengikuti acara sembahyang dan doa di tempat ibadah agama Khonghucu bernama Lithang di Jalan Drs Yap Tjwan Bing nomor 15, Jagalan, Solo, Jateng, Minggu (10/9/2023).

“Jumlah leluhur yang didoakan tahun ini 500 leluhur lebih, tahun lalu 400 saja kurang. Memang lebih banyak tahun ini, sampai yang membacakan nama yang minta didoakan capai,” ujar Pendeta Muda Ws Adjie Chandra menjawab pertanyaan wartawan seusai memimpin doa di tempat ibadah tersebut.

banner 300x250

Yang menarik, papar dia, upacara diakhiri dengan penyempurnaan atau pembakaran replika kapal Bahtera King Hoo Ping dengan panjang 3,5 meter. Bahtera yang dibakar di dalamnya berisi ratusan nama-nama almarhum dan sesaji yang telah didoakan para rohaniwan di tengah sejaji lainnya itu ditarik keluar halaman untuk dibakar di depan pintu gerbang Lithang.

Baca juga: Mangkunegoro X Minta Modernisasi Kota Solo Tetap Merawat Kekayaan Tradisi

Menurut Adjie pembakaran replika kapal itu sebagai lambang bahwa dengan sarana transportasi itu keluarga mengantar agar para roh segera kembali ke tempatnya. Karena bulan 7 Imlek akan segera berakhir.

Sejumlah umat Khonghucu berdoa di halaman Lithang di Jalan Drs Yap Tjwan Bing nomor 15, Jagalan, Solo, Jateng saat sembahyangan King Hoo Ping Minggu (10/9/2023) siang. (Portalika.com/Iskandar)

Sembahyang ini juga disebut sembahyang rebutan, karena menurut legenda para arwah yang hadir untuk menikmati sesaji ini sangat banyak sehingga mereka berebut. Atau di daerah lain, seusai sembahyang kadang terjadi rebutan seperti tradisi ketika gunungan di keraton selesai didoakan.

“Tapi yang jelas ini terkandung makna yang indah dapat kita peroleh yaitu jangan melupakan leluhur, jangan lupa asal-usul kita,” kata dia yang memimpin doa didampingi para rohaniwan lain dalam sembahyangan King Hoo Ping yang tahun ini panitianya diketuai Js Novita Luisiana Dewi SE sekaligus Ketua Wanita Agama Khonghucu Indonesia (Wakin) ini.

Lebih lanjut Adjie mengatakan tanggal 10 September 2023 ini bertepatan dengan tanggal 26 bulan 7 tahun 2574 penanggalan Imlek. Karenanya Makin Surakarta melaksanakan sembahyang dan doa bagi arwah umum.

Beragam sesaji yang diwadahi berbagai wadah termasuk yang di dalam replika Bahtera King Hoo Ping dikumpulkan di halaman Lithang di Jalan Drs Yap Tjwan Bing nomor 15, Jagalan, Solo, Jateng, Minggu (10/9/2023) siang. (Portalika.com/Iskandar)

“Artinya kepada semua arwah termasuk arwah yang bukan leluhur kita sendiri dan arwah yang tidak lagi mendapat perhatian sanak keluarganya yang masih hidup, dikenal dengan dengan upacara Sembahyang King Hoo Ping atau Sembahyang Rebutan,” ujar dia.

Menurut legenda atau dongeng, papar Adjie, pada Jit Gwe (bulan 7 Imlek) pintu akherat dibuka. Para arwah diberikan kesempatan turun ke dunia menengok sanak keluarganya. Guna menyambut mereka, masyarakat Tionghoa khususnya umat Khonghucu, diwajibkan melakukan sembahyang pengenangan atau penghormatan kepada mereka yang digelar tanggal 15 bulan 7 Imlek atau Jit Gwe Poa di rumah masing-masing.

Sedangkan di akhir Jit Gwe sebelum para arwah kembali ke alamnya digelar upacara King Ho Ping. Ini untuk menghormati mereka seakan mengantar mereka segera kembali. Makin Surakarta, kata dia, biasanya memilih hari Minggu paling akhir di bulan 7 Imlek yang jatuh pada 10 September 2023.

“Maka masyarakat Tionghoa yang masih memegang adat tradisional pada Jit Gwe ada yang pantang mengadakan kegiatan mantu atau hajatan lainnya. Karena menganggap bulan 7 Imlek adalah bulan khusus untuk persembahyangan. (Iskandar)

Komentar