
Portalika.com [Slogohimo] – Dalam upaya meningkatkan efektivitas pemanfaatan lahan, kelompok tani dusun Dologan mengundang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi untuk menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas berbagai permasalahan yang dihadapi para petani setempat. Dalam diskusi tersebut, kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pengairan selama musim kemarau.
Warga mengharapkan solusi untuk mengatasi masalah ini, dan mahasiswa KKN menawarkan beberapa metode, termasuk sistem Irigasi Tetes dan lebih menarik lagi, teknik Hidroponik. Dengan cepat, minat warga beralih ke metode hidroponik, yang dinilai lebih cocok karena memerlukan lebih sedikit air dibandingkan metode konvensional.

Hidroponik adalah metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, melainkan memanfaatkan air yang kaya nutrisi. Secara signifikan, teknik ini dapat mengurangi kebutuhan air, sehingga sangat relevan diterapkan di daerah dengan sumber daya air terbatas.
Pada tanggal 9 Agustus 2024, mahasiswa KKN menyelenggarakan sesi sosialisasi dan praktik pembuatan hidroponik. Pelatihan ini disambut antusias oleh kelompok tani, di mana mereka menerima penjelasan menyeluruh dari penyemaian hingga perawatan tanaman. Praktik langsung dilakukan dengan media pipa paralon, di mana para warga menanam pakcoy menggunakan sistem hidroponik dengan media tanam alternatif seperti cocofiber dan spons.
Dalam sesi praktik, alat pengukur pH dan TDS juga diajarkan untuk memastikan kualitas air dan nutrisi yang optimal bagi tanaman. Para peserta menunjukkan ketertarikan besar dan semangat dalam menerapkan ilmu baru ini.
Setelah acara, salah satu anggota kelompok tani menyampaikan rasa terima kasih kepada mahasiswa. “Terima kasih kepada para mahasiswa KKN yang telah membagikan ilmunya kepada kami. Semoga ini bermanfaat dan menjadi alternatif untuk masalah pertanian kami,” ujarnya.
Penerapan sistem hidroponik tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memperkenalkan teknologi ramah lingkungan kepada masyarakat. Dengan harapan dapat mengubah pola pikir pertanian tradisional, program ini diharapkan akan membuka jalan bagi pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Watusomo.(*)










Komentar