Portalika.com [SOLO] – Rute prosesi kirab pusaka menjelang Tahun Baru Jawa 1 Syura yang digelar Minggu Kliwon, 7 Juli 2024 pukul 19.00 WIB bakal digelar lebih panjang atau lebih jauh sekitar 500 meter dari biasanya.
Jika biasanya selama ini sering kali hanya mengitari tembok Pura Mangkungaran, Solo, Jateng pada kirab mendatang akan digelar hingga Jalan Slamet Riyadi, Solo.
“Tahun ini rute kirab akan diperpanjang dari biasanya. Kalau biasanya mengelilingi tembok Pura, tahun ini kita akan menarik sedikit lebih jauh ke arah Ngarsapura dan [Jl] Slamet Riyadi, kembali mengitari tembok Pura,” ujar Pengageng Praja Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X saat mengundang awak media di Pracima Tuin, Pura Mangkunegaran, Solo, Jateng, Jumat 28 Juni 2024.
Baca juga: Silaturahmi Dengan Kanjeng Gusti Bhre, Pemuda Muhammadiyah Solo Bahas Kerja Sama Ekonomi Dan Budaya
Menurut dia pihaknya akan menggelar kirab pusaka pada Minggu 7 Juli 2024, pukul 19.00 WIB memperingati tahun baru Jawa. Kirab pusaka ini merupakan event tahunan dan tahun ini pihaknya ingin lebih mendekatkan diri dengan masyarakat Solo dan sekitarnya.
Dia yang sebelum dilantik bernama Gusti Pangeran Harya (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo ini menjelaskan kirab pusaka 1 Syuro itu moment untuk semua orang.
Acara yang difasilitasi Mangkunegaran ini tentu menjadi bagian dari masyarakat Solo dan sekitarnya. Jadi kirab pusaka ini bukan dari Mangkunegaran untuk Mangkunegaran tapi justru dari masyarakat Solo dan sekitarnya untuk masyarakat juga.
Saat menjawab pertanyaan awak media Bhre menjelaskan, alasan memperpanjang rute kirab di antaranya dari sisi kebudayaan. Karena kawasan Ngarsapura yang secara historis berarti di depan Pura yang sudah dibangun itu akan dimaksimalkan.
Dengan demikian keterlibatan masyarakat bisa lebih luas. Pada kirab tahun ini, ujar dia, Mangkuegaran juga akan mengundang keluarga, kerabat, trah Mangkunegaran dan juga tamu dari dalam maupun luar kota.
Harapannya kirab 1 Syuro ini berjalan dengan baik, menjaga kekhidmadannya, rasa kebersamaannya dan bisa membawa wadah bagi masyarakat Solo dan sekitarnya merayakan moment kebudayaan bersama.
Pada peringatan 1 Syuro ini pihaknya ingin mengundang masyarakat Solo dan sekitarnya agar hadir dan agar bisa mengalami moment kebudayaan yang sangat berharga ini.
Karena kebudayaan ini milik masyarakat bersama dan untuk itu pihaknya meminta masyarakat ikut nyengkuyung bersama-sama. Bhre berharap ke depan Mangkunegara bisa terus hadir untuk masyarakat.
Sebelumnya Rute Pernah Diubah
Lebih jauh dia mengungkapkan rute kirab pusaka ini sebelumnya juga pernah diubah oleh almarhum ayahandanya yaitu Mangkunegara IX. Karena kawasan Mangkunegaran itu sampai ke Ngarsapura yang dulu juga ada gapuranya.
Selanjutnya dengan telah dibangunnya kembali Ngarsapura dan keberadaan gapuranya seperti sekarang, harapannya secara kebudayaan bisa lebih melibatkan masyarakat di sekitarnya.
Dia menjelaskan perpanjangan rute itu dilakukan agar keterlibatan masyarakat bisa lebih banyak, sehingga ini bisa menjadi satu hal yang ingin dilakukan. Harapannya ini cakupannya bisa lebih luas karena tahun lalu keterlibatan masyarakat juga besar.
“Tahun lalu luas kirab juga mengalami sedikit kesulitan dari sisi teknis terutama dari panjang barisan. Jadi pertimbangan ini dilakukan berdasar alasan historis,” papar Bhre.
Dia berharap perpanjangan jarak kirab ini akan berdampak positif untuk jalannya acara, terutama dari keterlibatan masyarakat sekitar.
Dia menilai kirab pusaka 1 Syuro ini merupakan moment budaya yang sudah turun-temurun dan sudah menjadi tradisi di Mangkunegaran dalam kurun waktu lama.
Tapa Bisu
Bhre menjelaskan kirab ini sebagaimana tahun baru pada umumnya, merupakan satu moment untuk berkontemplasi diri, refleksi diri dan masyarakat menghadapi tahun baru dengan harapan penuh keberkahan, kebahagiaan dan tentunya kebermanfaatan di lingkungan sekitar.
Menurut dia peringatan malam 1 Syura di Praja Mangkunegaran terdiri atas beberapa prosesi. Di antaranya Kirab Pusaka dalem dan semedi.
Saat kirab pusaka dalem, para peserta kirab akan melakukan tapa bisu atau berjalan dalam kesunyian. Ini dinilai sebagai upaya untuk mewujudkan kebebasan batin dari gangguan hawa nafsu dan emosi serta memperoleh keseimbangan batin dalam memasuki tahun yang baru.
“Pada malam 1 Sura, moment pergantian tahun dilaksanakan dengan kesakralan, ketenangan, dan penuh penghayatan,” ungkap KGPAA Mangkunegara X. (Iskandar)












Komentar