Portalika.com [BALI] – Pengetahuan, adat istiadat, sikap, dan cara hidup yang tumbuh dan bertahan selama bertahun-tahun pada suatu masyarakat tertentu disebut sebagai kearifan lokal. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman berabad-abad, adaptasi lingkungan, dan rutinitas sehari-hari merupakan contoh kearifan lokal.
Pernyataan itu disampaikan, Frendi Suryo, mahasiswa dari Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta. Dia ke Bali dan bercerita, pengetahuan lokal seringkali menjadi landasan budaya suatu komunitas. Hal ini mencakup pilihan gaya hidup, prinsip moral, kerangka teoritis dan kemampuan yang diperoleh sebagai hasil dari peristiwa kehidupan dan kontak dengan dunia luar.
Di Kota Bali, Indonesia, ujarnya, juga memiliki kearifan lokal yaitu menggunakan metode irigasi Subak asli untuk keperluan pertanian. Subak merupakan warisan budaya yang secara turun temurun di Pulau Bali. Ini lebih dari sekadar cara memasok udara untuk lahan pertanian. Sistem Subak mengontrol pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian bersama masyarakat lokal.
Baca juga: PMM Ke Universitas Bengkulu, Mahasiswa Unisri Mengenal Kota Pengasingan Bung Karno
Hal ini memerlukan pembagian air yang adil di antara para petani yang tergabung dalam suku Subak. Melalui sistem saluran air yang rumit dan terorganisir dengan baik, para petani berkolaborasi mengatur aliran air dari mata air ke sawah mereka.
Selain ciri teknisnya, Subak juga merupakan perwujudan filosofi sosial dan nilai budaya peradaban Bali, antara lain keadilan, kebersamaan, dan kerja sama timbal balik. Selain itu, Subak memiliki konotasi spiritual yang kuat dan sering dikaitkan dengan sistem keagamaan Hindu di Bali.
Unesco menetapkan sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2012. Pengakuan ini menyoroti betapa luar biasa Subak sebagai model tata kelola sumber daya air berbasis masyarakat, berkelanjutan, dan terhubung dengan budaya. Sistem irigasi Subak tidak hanya melambangkan keseimbangan dan keselarasan antara pertanian, lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Bali, tetapi juga antara manusia dan alam.
Macam-macam Subak
Bali menggunakan metode irigasi tradisional yang dikenal sebagai Subak untuk keperluan pertanian. Meskipun mengelola dan mendistribusikan air untuk lahan pertanian adalah tujuan dasar sistem Subak, ada sejumlah variasi atau ragam Subak yang ditemukan di berbagai wilayah di Bali.
Berikut beberapa contoh modifikasi Subak:
1. Subak Sembung
Subak Sembung adalah salah satu jenis Subak di Bali yang membagi air dari mata airke lahan pertanian dengan memanfaatkan jaringan saluran air yang berbeda-beda. Sistem ini sering digunakan di daerah pegunungan.
2. Subak Petali
Subak Petali adalah sistem Subak yang digunakan di daerah pantai, di mana petani menggunakan cara penyiraman yang berbeda untuk mengairi lahan mereka yang lebih dangkal dan dekat dengan pantai.
3. Subak Abangan
Subak Abangan adalah istilah yang merujuk pada Subak yang terpisah dari Subak yang terintegrasi dalam organisasi Subak yang lebih besar.
4. Subak Gesing
Subak Gesing merupakan Subak yang lebih kecil dan terpisah dari Subak yang lebih besar, tetapi masih mengikuti prinsip-prinsip organisasi dan pengaturan air tradisional.
5. Subak Tista
Subak Tista adalah Subak yang terletak di daerah-daerah dataran rendah yang lebih datar.
Semua sistem Subak menganut nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan tata kelola air yang berkelanjutan untuk membantu masyarakat lokal dan pertanian, meskipun ada perbedaan dalam cara sistem ini diatur dan dijalankan di berbagai wilayah di Bali. Setiap versi Subak bersifat unik dan telah disesuaikan agar sesuai dengan kebutuhan spesifik dan kondisi geografis dimana sistem digunakan. (Heris/*)












Komentar