Warga Pracimantoro Tolak Pendirian Pabrik Semen, Ketua DPRD Wonogiri Mengaku Tidak Tahu

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Ketua DPRD Wonogiri, Sriyono mengaku tidak tahu tentang berdirinya pabrik semen di Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Dia baru tahu setelah menerima surat permohonan audiensi dari Paguyuban Tali Jiwo.

Namun demikian, Sriyono mengaku ikut menyusun perubahan Peraturan Daerah (perda) Nomer 2 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Wonogiri, termasuk wilayah Wonogiri bagian selatan.

banner 300x250

Saat berbincang dengan BeritaWonogiri.com grup dari Portalika News Network (PNN), Sriyono, Senin, 14 April 2025 menjelaskan kawasan industri selatan yang dimaksudkan saat pembahasan dulu industri padat karya bukan pabrik semen.

Baca juga: Awasi Dan Laporkan Ketimpangan, Pabrik Semen Di Pracimantoro Segera Berdiri

“Dulu demam-demamnya pendirian pabrik-pabrik seperti di Manjung [Wonogiri] ada Libra, timur ada Nisea maka di selatan dengan JLS [jalur lintas selatan] ada pabrik. Mikir kita waktu itu kesana bukan pabrik semen,” tegasnya.

Lebih lanjut Sriyono berkali-kali menyatakan perda RTRW itu yang ajukan eksekutif dan tidak ada pembicaraan sama sekali tentang pabrik semen. “Yang membahas tidak hanya saya, jadi jika saya lupa yang lain bisa mengingatkan. Untuk itu kami akan konsultasikan dulu karena baru jalan dan prosesnya revisi [RTRW] itu panjang.”

Alumni FKIP UNS ini, menegaskan sampai Senin, 14 April 2025 belum pernah ada surat masuk audiensi baik dari investor pemda, pihak pabrik semen. “Baru surat dari Paguyuban Tali Jiwo ini, maka segera ditindaklanjuti segera sebagai informasi anyar. Kami DPRD Wonogiri buka mata buka telinga ibaratnya rumah jendela dan pintu kita buka lebar untuk mendapatlan informasi utuh,” jelasnya.

Portalika.com/Triantotus

Sriyono mengatakan usai RDP dengan warga langsung rapat pimpinan. “Putusan Rapim segera ditindaklanjuti apakah ke provinsi karena kewenanvan di provinsi. Namun untuk revisi Perda RTRW kami tidak mau memberi harapan palsu, kami sinkronisasi dulu karena masa berlaku 20 tahun,” jelasnya.

Menyinggung soal Amdal, Sriyono mengatakan akan memfasilitasi mempertemukan pihak Amdal Provinsi dengan Paguyuban Tali Jiwo. “Sana punya data, sini punya data nanti dikathokkan [dicocokkan],” ujarnya.

Apa yang disampaikan Ketua DPRD Wonogiri, menanggapi tuntutan Paguyuban Tali Jiwo yang dibacakan Permen. Permen mengatakan salah satu tuntutan warga dilakukan Perda RTRW dan review Amdal.

Tolak Pendirian Pabrik Semen
Ratusan warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri mendatangi Gedung DPRD Wonogiri, Senin, 14 April 2025. Perwakilan mereka menangis di hadapan wakil rakyat Wonogiri saat menyampaikan dampak sosial yang dihadapi selama ini sebelum pabrik semen berdiri dan menolaknya.

Perwakilan warga Desa Watangrejo ini meminta anggota DPRD Wonogiri memulihkan keguyuban dan ketentraman warga desanya. Pihaknya menolak pendirian pabrik semen dan berharap pertanian tetap lestari.

Suprihatin, warga Dusun Pelem, Desa Watangrejo, mengatakan dirinya mewakili ibu-ibu meminta anggota DPRD membatalkan pendirian pabrik semen. “Saya ke sini sowan [bertemu] DPRD nyuwun tulung [minta tolong] digagalke pendirian pabrik semen neng [di] Pracimantoro,” katanya sambil terisak.

Portalika.com/Triantotus

Dia meneruskan sebagai petani dirinya tidak setuju pabrik semen di Watangrejo. “Saya sebagaipetani merasakan hak kami dirampas dengan paksa. Kula [saya] apa salah jika menolak berdirinya pabrik semen di Pelem? Selama ini Pelem tidak kekurangan.”

Suprih menyatakan saat ini warganya berseteru karena ada pro dan kontra tentang pendirian pabrik semen. Dia tegaskan jika ditanya lebih jauh 90 persen warga menolak. “Warga takut bersuara jika menolak dan pekewuh. Kami akan berjuang, nyawa kami akan kamo pertaruhkan demi kehidupan tanpa polusi debu,” ujarnya.

Hal sama disampaikan Setia Dewi Saputri, warga Pelem, Watangrejo. “Yang muda-muda tidak akan mendukung berdirinya pabrik semen. Melihat dari medsos kalau ada pabrik semen dampak negatifnya lebih banyak,” ujarnya.

Dewi bercerita pabrik semen belum berdiri masyarakat Watangrejo sudah terbelah, pro dan kontra. “Belum berdiri saja sudah terdampak hlo Pak. Dampak sosial warga saat ini sudah dialami yang tadinya guyub rukun sakniki [sekarang] muncul pro kontra. Saudara-saudara mulai bertengkar, satron [tidak mau menyapa]. Kami tidak ingin kehancuran di desa kami,” ujarnya.

Dia meminta wakil rakyat turun ke lapangan dan mengikuti kata hati dalam berbicara. Dia contohkan, dirinya memiliki lahan sumber pangan satu-satunya berada di ring satu pabrik semen dan tidak akan dijual.

Menurutnya, satu dua tahun tidak muncul dampak. “Tapi sejak pabrik berdiri dan berproduksi apakah debu tidak menumpuk di lahan kami. Dampaknya kami tidak bisa mengolah lahan lagi, jika lahan diolah hasilnya tidak seperti dulu. Jadi mohon dibatalkan, digagalkan agar warga guyub lagi walau keguyubanya berbeda dengan sebelum terjadi pro dan kontra,” tandasnya.

Ketua DPRD Wonogiri, Sriyono yang memimpin rapat dengar pendapat tersebut mengatakan aspirasi warga Pracimantoro akan dijadikan bahan rapat. (Triantotus)

Komentar