Portalika.com [WONOGIRI] – Dalam menghadapi ancaman keselamatan anak di era digital serta maraknya kasus kekerasan terhadap anak, mahasiswa KKN IPB melaksanakan Program Ceria (Cerdas, Riang, Aman) di tiga SD di Desa Widoro. Program ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak sekaligus upaya menanamkan kesadaran literasi digital dan kepedulian lingkungan sejak dini. Melalui berbagai kegiatan interaktif, siswa SD diajak memahami cara berinternet dengan aman, mengenali etika dalam berinteraksi di dunia maya, belajar memilah sampah, serta membekali diri dengan pengetahuan untuk menjaga keselamatan diri.
Permasalahan literasi digital dan perlindungan anak menjadi perhatian serius di Indonesia. Kominfo (2021) mencatat, tingkat digital safety dan digital etiquette masyarakat Indonesia masih rendah, masing-masing hanya mencapai skor 3,10 dan 3,53 dari skor sempurna 5. Kondisi ini diperparah dengan fakta dari UNICEF (2021) bahwa 45% dari 2.777 anak Indonesia pernah mengalami perundungan siber, serta laporan Kementerian PPA (2025) yang menyebutkan 62,7% kasus kekerasan seksual menimpa anak di bawah umur. Angka-angka tersebut menunjukkan pentingnya langkah konkret untuk meningkatkan kesadaran digital dan perlindungan anak sejak usia dini.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, mahasiswa KKN IPB menghadirkan Pos Literasi Digital yang mengajak siswa mengenal dua hal penting: digital safety (keamanan digital) dan digital etiquette (etika digital). Pada bagian digital safety, anak-anak diajari membedakan konten yang aman dan tidak aman untuk ditonton atau diakses. Mereka juga diajak memahami cara menghindari resiko saat menggunakan internet melalui diskusi ringan dan contoh nyata. Sementara itu, digital etiquette disampaikan dengan cara yang menyenangkan: anak-anak menonton video pendek yang memperlihatkan perilaku baik dan buruk di dunia digital, kemudian diajak berinteraksi secara langsung untuk menilai mana perilaku yang patut ditiru dan mana yang tidak. Kedua materi ini dikemas dalam bentuk permainan dengan aktivitas fisik, sehingga anak-anak tidak hanya mendengar tetapi juga terlibat aktif, bergerak, dan belajar sambil bermain.
Selain pos literasi digital, mahasiswa KKN menghadirkan Pos Pemilahan Sampah sebagai upaya edukatif dan solutif dalam menanggapi persoalan sampah yang terus menjadi tantangan lingkungan di Desa Widoro. Di pos kedua ini, fokus kegiatan adalah menumbuhkan sensitivitas anak-anak terhadap pentingnya melakukan pemilahan sampah dan memahami dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan dengan membangun refleksi atas kebiasaan sehari-hari mereka dalam membuang sampah, serta mengaitkannya dengan kondisi lingkungan di sekitar sekolah dan rumah. Melalui pendekatan refleksi ini, anak-anak diajak menyadari bahwa tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sesuai jenisnya memiliki dampak besar terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Pada pos pemilahan sampah ini, anak-anak diajak untuk mengenali tiga jenis sampah, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Proses pemaparan materi menghadirkan contoh-contoh sederhana yang biasa ditemukan di lingkungan sekitar, seperti sisa makanan, botol plastik hingga baterai. Dengan menggunakan pendekatan belajar sambil bermain, setelah pemaparan materi anak-anak diajak untuk menyelesaikan sebuah misi menemukan sampah-sampah yang telah disebar di sudut-sudut tertentu. Sampah-sampah yang dikumpulkan ini nantinya akan menjadi alat peraga bermain mengelompokkan sampah. Pada permainan mengelompokkan sampah ini, anak-anak secara berkelompok diajak untuk melompat ke arah tiga standee besar yang menggambarkan ilustrasi tempat sampah organik, anorganik, dan B3. Gerakan fisik ini harapannya dapat memperkuat daya ingat anak-anak terhadap klasifikasi sampah melalui keterlibatan tubuh dan konsentrasi.
Selain Pos Literasi Digital dan Pos Pemilahan Sampah, TIM KKN IPB juga menghadirkan Pos Perlindungan Diri. Di pos ini, anak-anak diajak untuk mengenali bagian-bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Dengan pendekatan yang ramah anak, materi disampaikan untuk menumbuhkan keberanian anak mengatakan tidak pada situasi yang tidak pantas dan tanpa pandang bulu. Anak-anak juga bermain puzzle kepercayaan untuk menentukan siapa saja orang yang bisa dipercaya, seperti orang tua dan guru, serta memahami bahwa tidak semua orang dewasa boleh dipercaya begitu saja.

Untuk memperkuat pemahaman, anak-anak diajak menempelkan sticky note pada ilustrasi tubuh untuk menandai bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh. Aktivitas ini menjadi sarana visual yang efektif agar anak-anak lebih sadar terhadap hak atas tubuh mereka sendiri. Pos Perlindungan Diri ini menjadi bekal awal yang penting agar anak mampu menjaga dirinya dan berani bersuara ketika menghadapi situasi yang mengganggu kenyamanan atau keselamatan mereka.
Melalui tiga pos edukatif yang dirancang, yaitu literasi digital, pemilahan sampah, dan perlindungan diri, tim KKN menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membekali anak-anak dengan keterampilan hidup yang penting penting dan relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga pos ini menjadi wujud nyata dari komitmen untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang bagaimana menjadi pengguna digital yang bijak, warga lingkungan yang peduli, dan individu yang mampu menjaga diri. Hal ini menjadi upaya konkret untuk mendekatkan pengetahuan pada kehidupan anak-anak secara kontekstual dan bermakna. Inilah sebuah langkah berarti untuk mewujudkan generasi Ceria; Cerdas, Riang, dan Aman.
Penulis:
1. Devita Damayanti, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University
2. Syira Rijannati Rosadi, Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika, IPB University
Editor: Tri Wahyudi












Komentar