Museum Ruang Interaksi, Edukasi dan Pembelajaran di Era Digital

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani mendorong museum di Kota Solo untuk terus bertransformasi menjadi ruang interaksi, edukasi, dan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan era digital.

Museum dinilai tak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi sejarah dan budaya.

banner 300x250

Pernyataan itu disampaikan Astrid saat menghadiri Sosialisasi Penyebarluasan Informasi Koleksi Morning Tea sekaligus Peringatan HUT ke-9 Museum Keris Nusantara di Museum Keris Nusantara Solo, Minggu, 9 Agustus 2026.

Astrid mengatakan keberadaan museum memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem kebudayaan sekaligus memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya dan center of knowledge atau pusat pengetahuan.

“Alhamdulillah Kota Surakarta sebagai kota budaya, kami banyak fokus pada pengembangan atau revitalisasi museum-museum yang ada di Kota Surakarta. Kemarin kami juga mengadakan kegiatan di Radya Pustaka, hari ini di Museum Keris Nusantara, dan rencana juga akan ada penyempurnaan atau revitalisasi untuk Museum Keris Nusantara dalam waktu dekat,” ujar Astrid.

Menurutnya, Solo memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai pusat peradaban dan pengetahuan. Selain sekolah dan perguruan tinggi, berbagai museum menyimpan referensi, koleksi bersejarah, serta warisan budaya yang dapat menjadi sumber pembelajaran masyarakat.

“Solo sebagai pusat peradaban, Solo sebagai pusat ilmu pengetahuan. Tidak sekadar kota pelajar, tetapi kita juga menyimpan banyak sekali referensi, koleksi bersejarah, dan warisan-warisan budaya,” katanya.

Astrid menilai museum perlu “dihidupkan” dengan memperkuat interaksi bersama masyarakat. Museum dapat menjadi ruang kajian dan pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas, kolektor, hingga generasi Z.

“Saya kira museum saat ini bukan hanya sekadar tempat untuk menyimpan koleksi-koleksi. Harapannya museum bisa menjadi ruang interaksi, edukasi, dan pembelajaran yang relevan di era digital,” jelasnya.

Karena itu, pengembangan museum menurut Astrid tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar museum mampu menghadirkan perspektif dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.

“Pelestarian budaya tidak hanya tugas kami dari pemerintah saja, tetapi bagaimana kita terus menggalakkan kolaborasi lintas sektor. Kita juga ajak para akademisi, komunitas budaya, pelajar, dan anak-anak Gen Z untuk memberikan pendapat,” ujarnya.

Astrid juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengembangan museum. Teknologi seperti barcode, pendekatan imersif, kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai inovasi digital dapat digunakan untuk memperkaya informasi sekaligus pengalaman pengunjung.

“Revitalisasi museum ke depan tidak hanya sekadar koleksi yang ditaruh, tetapi mungkin juga menampilkan barcode yang berisi keterangan-keterangan mengenai koleksi tersebut. Bahkan mungkin bisa berinteraksi dua arah dengan beberapa timeline, atau ruang pamer disesuaikan dengan periodisasi tertentu,” kata Astrid.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat pengunjung tidak hanya melihat benda koleksi, tetapi juga memahami cerita, konteks, serta nilai yang terkandung di dalamnya.

Dengan begitu, museum dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik dan dapat diceritakan kembali oleh pengunjung.

Astrid secara khusus menyebut Museum Keris Nusantara sebagai salah satu pilar penting dalam ekosistem kebudayaan Kota Surakarta.

Keris, kata dia, bukan sekadar senjata tradisional, melainkan karya adiluhung yang memiliki nilai filosofi, spiritualitas, estetika, teknologi, serta merekam perjalanan sejarah dan peradaban Nusantara.

“Keberadaan Museum Keris Nusantara memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga memori kolektif bangsa, sekaligus memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada generasi kini dan juga generasi masa depan,” ujarnya.

Untuk membuat museum semakin dekat dengan masyarakat, Astrid mendorong pengembangan berbagai program, mulai dari diskusi budaya, pameran tematik, kelas edukasi, digitalisasi koleksi, hingga kolaborasi dengan sekolah, perguruan tinggi dan komunitas kreatif.

Ia menilai kegiatan seperti Morning Tea juga dapat menjadi ruang pertemuan dan diskusi antara pengelola museum, kolektor, akademisi, komunitas, maupun masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap tema tertentu.

Forum tersebut diharapkan melahirkan gagasan baru untuk pengembangan museum. Astrid juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih sering mengunjungi museum.

Program seperti paspor museum dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat mengenal lebih banyak museum dan koleksi budaya yang ada di Kota Solo.

Menurut Astrid, salah satu indikator keberhasilan transformasi museum dapat dilihat dari meningkatnya kunjungan sekaligus tumbuhnya minat masyarakat terhadap program-program baru, termasuk pameran koleksi tematik yang kini mulai dikembangkan Museum Keris Nusantara.

“Di Solo ada Museum Keris, Museum Tahir, Radya Pustaka, dan museum-museum lainnya. Ini tidak sekadar sebagai ruang budaya, tetapi juga ruang pembelajaran dari kajian-kajian yang ada di dalamnya untuk memperluas wawasan tentang masa lalu, kemudian kita relevansikan dengan masa kini dan menyesuaikannya dengan inovasi-inovasi di masa depan,” tandas Astrid.

Memasuki usia ke-9, Astrid berharap Museum Keris Nusantara semakin berkembang sebagai ruang belajar, ruang inspirasi, pusat kajian, sekaligus ruang pelestarian budaya yang mampu menjembatani warisan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini dan masa depan. (Ariyanto)

 

Komentar